Olahraga

Francesco Bagnaia Ungkap Masalah Pengereman Jadi Biang Kerok Anjloknya Performa di MotoGP 2025

Musim balap MotoGP 2025 menjadi periode yang kurang menyenangkan bagi Francesco Bagnaia. Pembalap andalan Ducati Lenovo Team itu harus menghadapi kenyataan pahit terlempar dari posisi tiga besar klasemen pembalap, sebuah pencapaian yang jauh dari ekspektasi awal. Inkonsistensi performa yang dialaminya disebut-sebut berakar pada masalah pengereman, khususnya saat motor memasuki tikungan.

Padahal, Bagnaia sempat diprediksi akan kembali meramaikan persaingan gelar juara setelah penampilan apiknya di musim 2024. Namun, realitas di lintasan berkata lain. Ia hanya mampu meraih dua kemenangan pada balapan utama di GP Amerika Serikat dan Jepang, serta dua kemenangan balapan sprint di GP Jepang dan Malaysia. Lebih mengecewakan lagi, Bagnaia tercatat tujuh kali gagal finis pada balapan utama.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Catatan Mureks menunjukkan, inkonsistensi performa Bagnaia memengaruhi posisinya di klasemen pembalap. Ia harus puas bertengger di peringkat kelima dengan koleksi 288 poin. Ini adalah kali pertama Bagnaia gagal menembus tiga besar sejak bergabung dengan tim pabrikan Ducati.

Pengereman Sulit Saat Berbelok, Kunci Performa yang Hilang

Kemerosotan performa Francesco Bagnaia dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satunya adalah pengereman. Pembalap bernomor 63 itu mengakui dirinya kehilangan kemampuan mengerem saat berbelok. Kondisi ini diperparah dengan munculnya getaran terus-menerus saat keluar dari tikungan, yang mengurangi kepercayaan dirinya terhadap area depan Desmosedici GP25 miliknya.

“Pengereman di trek lurus sangat mirip dibandingkan sebelumnya. Namun, perbedaan terbesar adalah saat aku memasuki tikungan. Sebelumnya, aku punya kesempatan menghentikan laju motor dengan sudut miring. Itu adalah hal yang aku rindukan sepanjang musim, terutama saat mengikuti pembalap lain,” kata Francesco Bagnaia seperti dilansir Crash.

Bagnaia menyoroti pentingnya kemampuan menghentikan laju motor saat menikung. Ia menjelaskan, saat membuntuti pembalap lain dalam slipstream di trek lurus, kemampuan pengereman menjadi krusial. “Saat kamu mengikuti pembalap lain, slipstream tak membantumu menghentikan motor. Jika kamu tak bisa berhenti saat berbelok, maka kamu akan mengalami masalah dan itu yang terjadi padaku. Pada 2024, aku bisa mengerem dengan sudut kemiringan lebih tajam. Aku bisa menghentikan banyak selip dan memaksakan banyak hal pada bagian akhir untuk mengurangi kecepatan,” jelas Bagnaia.

Kontras dengan Marc Marquez, Potensi Motor Tak Tergali

Torehan mengecewakan Bagnaia berbanding terbalik dengan capaian rekan setimnya, Marc Marquez. Pembalap asal Spanyol itu sukses merengkuh gelar juara MotoGP 2025 setelah mencetak 545 poin. Marc Marquez menyabet titel tersebut pada musim perdananya membela tim pabrikan Ducati, menunjukkan potensi besar Desmosedici GP25 yang belum sepenuhnya tergali oleh Bagnaia.

Ketidakpuasan dan Upaya Adaptasi Bagnaia

Dalam ringkasan Mureks, Bagnaia secara terbuka menyatakan ketidakpuasan atas pencapaiannya di MotoGP 2025. Ia mengaku sulit menerima kenyataan yang terjadi pada tahun lalu, meskipun telah berusaha keras beradaptasi dengan motor Desmosedici GP25. Namun, ia merasa belum mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki motor tersebut.

“Motor itu punya potensi besar karena Marc Marquez telah menunjukkannya. Namun, sisanya diriku mengalami kesulitan. Sejujurnya, aku tak tahu apa yang bisa aku pelajari dari musim ini (MotoGP 2025). Hal yang menurutku penting untuk dipahami adalah diriku selalu berupaya beradaptasi dan mencoba tampil kompetitif. Inilah yang akan membantuku pada waktu mendatang,” ujar Francesco Bagnaia dikutip Motorsport.

Francesco Bagnaia masih akan memperkuat Ducati Lenovo Team di MotoGP 2026, dengan kontrak yang berlaku hingga akhir musim tersebut. Pertanyaan besar kini adalah, bisakah Bagnaia bangkit dari keterpurukannya dan kembali ke performa terbaiknya?

Mureks