Jakarta, Mureks – Di tengah euforia global terhadap Kecerdasan Buatan (AI) yang mendominasi pemberitaan teknologi sepanjang tahun 2025, sebuah realitas kompleks terungkap di balik layar operasional departemen IT perusahaan. Laporan terbaru ManageEngine State of Observability 2025 menyoroti paradoks signifikan: meskipun ketergantungan pada AI terus meningkat, keraguan terhadap keandalannya masih membayangi para profesional teknologi informasi.
Berdasarkan survei terhadap lebih dari 1.240 profesional IT di seluruh dunia, laporan tersebut menunjukkan adanya polarisasi sentimen. Lebih dari 40% responden mengakui bahwa fitur AI dan Machine Learning (ML) dalam alat observabilitas mereka telah memenuhi kebutuhan operasional. Namun, proporsi yang hampir sama justru menilai fitur-fitur tersebut “tidak dapat diandalkan”.
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Temuan ini mengindikasikan bahwa janji otomatisasi AI yang menggiurkan seringkali belum sepenuhnya terealisasi di lapangan, memicu skeptisisme di kalangan praktisi yang menuntut presisi tinggi dalam setiap implementasi.
Mengapa Adopsi AI Terus Didorong?
Lantas, jika kepercayaan masih menjadi isu, mengapa adopsi AI terus didorong? Jawabannya terletak pada data kinerja yang tak terbantahkan bagi organisasi yang berhasil mengimplementasikannya dengan tepat.
Laporan ManageEngine secara jelas menyoroti korelasi kuat antara kemampuan AI yang andal dengan hasil bisnis yang superior. Organisasi yang melaporkan kemampuan AI/ML lebih andal mencatatkan keuntungan produktivitas 3,7 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang belum. Lebih jauh, peluang mereka untuk mencapai pengurangan Mean Time to Resolution (MTTR) hingga 90% adalah 4,9 kali lebih besar.
Angka-angka ini menjelaskan mengapa, terlepas dari potensi frustrasi awal, organisasi yang berada pada tahap “matang” dalam observabilitas tetap memprioritaskan pemanfaatan AI/ML dan integrasinya ke dalam siklus pengembangan mereka.
Fitur AI yang Paling Dinantikan dan Peran dalam Mengatasi Skill Gap
Ketidakpuasan terhadap AI saat ini mungkin berakar pada ketidaksesuaian antara fitur yang tersedia dengan kebutuhan mendesak di lapangan. Menurut Mureks, laporan ManageEngine merinci bahwa prioritas utama tim IT bukanlah sekadar otomatisasi dasar. Fitur yang paling dinantikan oleh para profesional IT adalah Advanced Root Cause Analysis (analisis akar masalah tingkat lanjut), yang dipilih oleh 55% responden. Di posisi kedua adalah Generative AI (GenAI) dengan 53,5%. Ini menunjukkan pasar menuntut AI yang mampu bertindak sebagai detektif cerdas, tidak hanya memantau, tetapi juga mendiagnosis masalah kompleks secara mandiri.
Menariknya, dorongan untuk adopsi AI juga datang dari tekanan kekurangan tenaga ahli atau skill gap. Bagi tim IT yang berjuang dengan keterbatasan keterampilan teknis, AI dipandang sebagai jembatan penolong yang krusial. Responden yang menghadapi kesenjangan keterampilan menunjukkan permintaan 1,5 kali lebih tinggi terhadap fitur AI/ML.
Secara spesifik, mereka sangat menyukai fitur Natural Language Querying (46%), jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata. Fitur ini memungkinkan staf untuk “bertanya” kepada sistem menggunakan bahasa manusia sehari-hari, alih-alih harus menulis kode kueri yang rumit, sehingga menurunkan hambatan teknis bagi staf junior.
Tahun 2025 menjadi tahun pembuktian bagi para vendor teknologi. Pasar IT jelas menginginkan AI, namun mereka menuntut AI yang tidak hanya canggih di atas kertas, melainkan juga tangguh dan dapat dipercaya dalam menjaga denyut nadi operasional digital mereka.






