Nvidia secara resmi mengakuisisi sekitar 215 juta saham Intel senilai USD 5 miliar atau setara Rp 83 triliun. Langkah ini menandai pergeseran signifikan dari rivalitas menjadi kemitraan strategis antara dua raksasa teknologi tersebut, dengan fokus pada pengembangan chip kecerdasan buatan (AI) dan solusi pusat data.
Transaksi besar ini, yang telah disepakati pada September 2025 lalu, kini telah rampung setelah mendapat persetujuan dari Federal Trade Commission (FTC). Menurut laporan Techspot yang dikutip detikINET pada Jumat (2/1/2026), kesepakatan ini melibatkan harga USD 23,28 per saham dan telah disetujui oleh CEO Nvidia Jensen Huang serta CEO Intel Lip-Bu Tan.
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Pasca-pengumuman kesepakatan, saham Intel mengalami lonjakan signifikan. Pada penutupan perdagangan Senin, harga saham Intel mencapai USD 36,68 dan sempat diperdagangkan mendekati USD 38. Kondisi ini membuat nilai kepemilikan Nvidia atas saham Intel kini jauh melampaui nilai investasi awalnya, meskipun keuntungan tersebut masih bersifat unrealized. Lonjakan ini, menurut Mureks, mencerminkan perubahan sentimen pasar yang positif terhadap prospek Intel.
Kolaborasi Teknis Jangka Panjang untuk AI dan Pusat Data
Kemitraan antara Nvidia dan Intel tidak hanya terbatas pada aspek finansial. Kedua perusahaan telah menyatakan komitmen untuk menjalin kolaborasi teknis jangka panjang. Ini mencakup pengembangan platform bersama dan desain system-on-chip (SoC) lintas beberapa generasi, yang ditujukan untuk segmen pusat data dan PC konsumen.
Untuk segmen pusat data, Nvidia dan Intel berencana memanfaatkan teknologi NVLink milik Nvidia. Tujuannya adalah untuk mengintegrasikan GPU Nvidia dengan prosesor x86 Intel secara lebih erat. Pendekatan inovatif ini diharapkan dapat menghadirkan alternatif koneksi berbasis PCI Express, khususnya untuk beban kerja AI yang menuntut bandwidth tinggi dan latensi rendah.
Di pasar konsumen, kedua perusahaan juga membuka peluang untuk mengembangkan chip bergaya SoC. Chip ini akan menggabungkan CPU Intel dengan grafis Nvidia RTX. Jika berhasil direalisasikan, solusi terintegrasi ini berpotensi menjadi pesaing langsung bagi APU (Accelerated Processing Unit) yang ditawarkan oleh AMD, dengan menjanjikan performa grafis kelas diskret dalam sistem yang lebih ringkas dan terjangkau.
Persetujuan FTC dan Arah Baru Industri
Persetujuan FTC terhadap kesepakatan ini menjadi sorotan tersendiri. Sikap regulator tersebut dinilai kontras dengan penolakan keras mereka terhadap rencana akuisisi Arm oleh Nvidia pada tahun 2021. Kala itu, FTC menilai akuisisi Arm berisiko menghambat persaingan di industri semikonduktor. Namun, dalam kasus investasi minoritas di Intel yang disertai kolaborasi teknologi ini, regulator tampaknya lebih menerima model kemitraan tersebut.
Meskipun produk konkret dari kemitraan ini belum terwujud, kolaborasi antara Nvidia dan Intel mengindikasikan arah baru dalam industri komputasi. Era di mana CPU dan GPU dikembangkan secara terpisah tampaknya mulai bergeser. Dengan ikatan finansial dan teknis yang semakin erat, Nvidia dan Intel kini bersiap untuk menghadapi persaingan ketat di generasi komputasi berikutnya.






