Raksasa teknologi global Nvidia memutuskan untuk menanamkan investasinya di Malaysia, sebuah langkah yang memicu sorotan terhadap kesiapan sumber daya manusia (SDM) teknologi di Indonesia. Padahal, pemerintah Indonesia telah berupaya keras menarik investasi bernilai tinggi di sektor digital dan kecerdasan buatan, salah satunya dengan menyiapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berbasis teknologi seperti KEK Nongsa di Batam.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menilai, pilihan Nvidia tersebut tidak terlepas dari faktor kesiapan SDM teknologi di masing-masing negara. Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal BKPM, Nurul Ichwan, menjelaskan bahwa Nvidia melakukan pemetaan mendalam terhadap kebutuhan tenaga ahli sebelum menentukan lokasi investasi.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
“Kalau yang saya sempat dengar bahwa mereka memilih Malaysia, salah satunya karena mereka mendata berapa master, berapa PhD yang tersedia di Indonesia dan di Malaysia sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujar Nurul saat ditemui di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Dari hasil pemetaan tersebut, Nvidia menemukan bahwa Malaysia memiliki keunggulan signifikan dalam jumlah lulusan magister dan doktor di bidang komputer. “Suka tidak suka, ternyata dari hasil observasi mereka, Malaysia lebih punya banyak PhD di bidang komputer itu dan juga master di bidang itu,” tambah Nurul.
Tantangan dan Pekerjaan Rumah bagi Indonesia
Kondisi ini, menurut Nurul, menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Pemerintah didorong untuk segera menyiapkan SDM yang relevan dengan kebutuhan industri teknologi global yang terus berkembang. Dalam ringkasan Mureks, penguatan pendidikan berbasis sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) menjadi kunci utama agar selaras dengan arah pengembangan industri ke depan.
Nurul menegaskan, perguruan tinggi negeri maupun swasta perlu lebih selektif dalam mencetak lulusan. Prioritas harus diberikan pada keahlian yang didukung penguasaan teknologi, bukan hanya kuantitas. “Nah yang harus kita coba cermati ke depan adalah bagaimana baik pemerintah, maupun universitas-universitas negeri dan swasta tidak mengedepankan memproduksi sumber daya manusia yang tidak relevan dengan kebutuhan industri ke depan, yang notabene didukung oleh penguasaan teknologi,” jelasnya.
Penguatan STEM, lanjut Nurul, harus menjadi arus utama dalam peningkatan kualitas SDM nasional. Hal ini krusial agar Indonesia mampu bersaing secara global dalam menarik investasi teknologi dan tidak tertinggal dari negara-negara tetangga. “Jadi ke depan harusnya STEM itu menjadi arus utama bagi peningkatan sumber daya manusia,” pungkas Nurul.






