Di tengah laju dunia yang kian pesat, tantangan untuk menjadi pribadi yang baik semakin kompleks. Ahmad Bayu Assidqi, seorang guru TPQ sekaligus kreator konten muslim, menyoroti fenomena di mana kejujuran kerap dianggap aneh, upaya menjaga diri dicap kolot, dan pilihan untuk berdiam demi menghindari dosa justru menimbulkan kecurigaan. Menurutnya, hati manusia perlahan kehilangan arah di tengah kondisi ini.
Bayu menegaskan, esensi perbaikan diri saat ini bukan sekadar tampil benar, melainkan sebuah perjuangan untuk tidak terbawa arus yang keliru. Ini mencakup kemampuan menahan diri di tengah gelombang emosi publik dan keberanian memilih jalan kebenaran, sekalipun harus menempuhnya sendirian.
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Mureks mencatat bahwa Bayu mengakui adanya momen kelelahan, di mana hati ingin menyerah, iman berfluktuasi, dan doa terasa tak terjawab. Namun, ia menekankan bahwa justru pada titik itulah ketulusan perjuangan diuji, sebab nilai seseorang di hadapan Tuhan bukan diukur dari dukungan banyak orang, melainkan dari ketulusan hati saat bertahan.
Mereka yang berupaya memperbaiki diri di akhir zaman, menurut Bayu, seringkali tidak mendapat pujian. Mereka belajar untuk berdiam diri saat difitnah, bersabar ketika disalahpahami, dan berikhlas saat upaya kebaikan mereka tidak terlihat. Kesadaran bahwa tidak semua kebaikan harus disaksikan manusia, melainkan cukup Allah yang menjadi saksi, menjadi pegangan utama.
Lebih lanjut, Bayu menjelaskan bahwa perbaikan diri juga menuntut keberanian melawan ego. Ini berarti mengakui kesalahan tanpa mencari pembenaran, memaafkan meski luka hati belum sepenuhnya pulih, serta terus berbuat baik meskipun tidak selalu mendapat balasan setimpal.
Dalam pandangan Bayu, di era ini, menjaga hati terasa lebih berat daripada menjaga lisan, dan menundukkan pandangan lebih sulit daripada sekadar menutup telinga. Namun, setiap usaha kecil tersebut memiliki nilai besar di sisi Tuhan. Ia berpendapat, satu langkah kecil menjauhi maksiat bisa jadi lebih mulia daripada seribu langkah yang dipuji manusia.
Bagi mereka yang memilih jalan perbaikan diri, meskipun harus tertatih dan seringkali jatuh, Bayu menegaskan bahwa mereka sedang berada di jalan yang dicintai Allah. Sebuah jalan yang mungkin terasa sepi, namun dipenuhi cahaya, dan meskipun berat, akan mengantarkan pada ketenangan.
Ia menyimpulkan bahwa pada akhirnya, nilai sejati bukan terletak pada kehebatan di mata manusia, melainkan pada kejujuran dalam berusaha menjadi hamba yang lebih baik di hadapan Allah. Ahmad Bayu Assidqi berharap agar setiap langkah kecil dalam perbaikan diri dapat dikuatkan, terutama di zaman yang kerap membuat kebaikan terasa asing.






