Olahraga

Melampaui Keraguan: Mengungkap Rekam Jejak Gemilang Liam Rosenior Sebelum Pimpin Chelsea

Penunjukan Liam Rosenior sebagai pelatih kepala Chelsea pada Kamis, 8 Januari 2026, mengejutkan banyak pihak. Keputusan ini memicu perdebatan di kalangan penggemar yang menilai pelatih berusia 41 tahun itu “kurang pengalaman” untuk menukangi tim sebesar The Blues. Namun, di balik keraguan tersebut, Mureks mencatat bahwa grafik karier Rosenior justru menunjukkan tren menanjak dengan portofolio taktis yang selaras visi jangka panjang klub London Barat itu.

Sebelum mendarat di Stamford Bridge, Liam Rosenior telah menorehkan sejumlah prestasi signifikan yang mungkin luput dari perhatian publik. Berikut adalah bedah rekam jejak dan filosofi kepelatihan yang membuat namanya kini memikat manajemen Chelsea:

Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Transformasi Instan di RC Strasbourg (2024-2026)

Prestasi paling mentereng Liam Rosenior adalah kesuksesannya di Prancis bersama RC Strasbourg, klub saudara Chelsea di bawah naungan BlueCo. Di musim penuh pertamanya, Rosenior berhasil membawa Strasbourg finis di peringkat ke-7 Ligue 1 pada musim 2024/2025.

Pencapaian ini mengamankan tiket ke UEFA Conference League, yang merupakan prestasi Eropa pertama bagi klub tersebut dalam 19 tahun terakhir. Pada musim 2025/2026, sebelum pindah ke Chelsea, ia meninggalkan Strasbourg dalam posisi kuat di fase grup Conference League. Timnya mencatatkan kemenangan impresif atas tim-tim mapan dan memuncaki klasemen grup dengan 16 poin dari 6 laga.

Selain itu, Rosenior juga dikenal sukses memoles talenta muda. Ia berhasil mengembangkan Emmanuel Emegha menjadi mesin gol dan memberikan debut kepada banyak pemain U-23, sebuah pendekatan yang sangat sesuai dengan cetak biru skuad muda Chelsea saat ini.

Membangun Fondasi di Hull City (2022-2024)

Sebelum berkarier di Prancis, Rosenior telah menunjukkan tangan dinginnya di divisi dua Inggris, Championship, bersama Hull City. Saat mengambil alih tim pada November 2022, Hull City berada di bibir jurang degradasi, tepatnya di posisi ke-21.

Di bawah arahannya, ia berhasil menstabilkan tim dan membawa Hull finis nyaman di papan tengah, yaitu posisi ke-15. Musim 2023/2024 menjadi bukti konsistensinya, di mana Hull City finis di peringkat ke-7, hanya terpaut 3 poin dari zona play-off promosi ke Premier League. Pemecatannya saat itu justru memicu kemarahan fans Hull yang menilai keputusan pemilik klub tidak adil.

Filosofi “Modern Football” yang Memikat

Bukan hanya hasil akhir, cara bermain tim asuhan Liam Rosenior menjadi nilai jual utamanya. Statistik mencatat bahwa filosofi kepelatihannya sangat selaras dengan tren sepak bola modern. Berikut adalah aspek-aspek taktis yang menonjol:

Aspek TaktisKeterangan
Build-up PlayBerani membangun serangan dari kiper dan bek, mirip gaya Roberto De Zerbi.
FleksibilitasKerap berganti formasi antara 4-2-3-1 dan 3-4-2-1 menyesuaikan lawan.
High PressingStrasbourg tercatat sebagai salah satu tim dengan intensitas pressing tertinggi di Ligue 1 musim lalu.
Mureks