Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Sarwoto Atmosutarno, mendesak Kementerian Komunikasi dan Informatika (Komdigi) untuk mengubah pendekatan kebijakan dari regulator menjadi fasilitator. Desakan ini muncul seiring target pemerintah mencapai cakupan jaringan 4G yang lebih luas dan penurunan tarif data internet pada tahun 2026.
Desakan Mastel untuk Perubahan Pendekatan Komdigi
Menurut Sarwoto, target infrastruktur digital pemerintah hingga 2026 disusun dengan asumsi peran pemerintah hanya sebagai regulator. Namun, dalam pelaksanaannya, mekanisme pasar yang dominan belum memberikan respons optimal terhadap investasi ekspansi kapasitas dan pemanfaatan teknologi baru.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Pada Kamis, 08 Januari 2026, Sarwoto menjelaskan kepada Mureks bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh beban regulasi yang meningkat di tingkat pusat dan daerah, serta tingginya biaya akuisisi spektrum frekuensi.
Oleh karena itu, Mastel berpendapat, “pola pikir regulator mesti diubah menjadi fasilitator,” tegas Sarwoto.
Pendekatan fasilitator ini, lanjutnya, perlu diwujudkan melalui desain insentif yang tepat sasaran, selaras dengan kebutuhan, dan kearifan lokal. “Perlu dipikirkan dan dilaksanakan elaborasi jaringan netral, saling berbagi [sharing], dengan pendekatan model gotong royong Indonesia,” imbuhnya.
Penting juga untuk merancang insentif pemerintah yang efektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Target Ambisius Komdigi untuk Jaringan 4G dan Keterjangkauan
Di sisi lain, Komdigi telah menetapkan target ambisius dalam Rencana Strategis (Renstra) 2025–2029. Kementerian ini menargetkan cakupan layanan mobile broadband minimal 4G/LTE mencapai 97,50% dari total wilayah permukiman pada 2026.
Angka ini merupakan peningkatan dari target 2025 sebesar 97,30% dan capaian terkini yang berada di level 97,16%.
Mureks mencatat bahwa peningkatan jangkauan jaringan pita lebar bergerak ini akan dilakukan secara bertahap, dengan target mencapai 98% pada 2029. Secara rinci, cakupan mobile broadband ditargetkan mencapai:
- 97,50% pada 2026
- 97,75% pada 2027
- 97,90% pada 2028
- 98% pada 2029
Capaian pada 2024 tercatat sebesar 97,16% dari total wilayah permukiman.
Terkait keterjangkauan, Komdigi menargetkan rasio harga layanan jaringan pita lebar tetap terhadap pendapatan per kapita berada di level 4% pada 2026. Target ini lebih rendah dari tahun sebelumnya, menunjukkan komitmen pemerintah untuk menyediakan internet yang semakin terjangkau bagi masyarakat.
Selain itu, persentase luas permukiman dan jalur transportasi utama yang masih mengalami blank spot sinyal 5G ditargetkan tetap di angka 4,44%.
Komdigi juga berambisi membentuk satu kota berkonsep gigacity pada 2026, diikuti penambahan 29 kabupaten/kota gigacity pada tahun berikutnya.






