Manajer Manchester City, Pep Guardiola, kini menghadapi tekanan berat dalam perburuan gelar Liga Premier Inggris. Hasil imbang tanpa gol 0-0 melawan Sunderland di Stadium of Light pada malam pembuka tahun 2026 membuat The Citizens tertinggal empat poin dari pemuncak klasemen, Arsenal.
Kondisi ini menempatkan skuad asuhan Guardiola dalam posisi yang tidak lagi memiliki kemewahan untuk melakukan kesalahan sekecil apa pun jika ingin mengudeta posisi Arsenal.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Dominasi yang Sia-sia Berujung Buntu
Dalam pertandingan tersebut, Manchester City sebenarnya tampil sangat dominan. Menurut Mureks, tim asuhan Guardiola menguasai 67% penguasaan bola. Namun, taktik yang biasanya cair kali ini membentur tembok kokoh pertahanan Sunderland.
Kapten City, Bernardo Silva, secara terbuka menyoroti hilangnya kontrol yang biasanya menjadi ciri khas tim. “Di babak pertama kami tidak bermain cukup baik. Kami menyerang sedikit terlalu cepat dan tidak cukup memindahkan bola untuk mencari celah. Kami tidak senang karena kami menginginkan hasil yang lebih baik dari ini,” ungkap Silva.
Tantangan Mental bagi Guardiola dan City
Bagi Pep Guardiola, hasil ini menjadi pengingat bahwa dominasi statistik tidak selalu berbuah tiga poin. Apalagi, Sunderland di bawah asuhan Regis le Bris secara berani mengganggu ritme permainan yang biasanya dibangun Pep dengan sangat rapi.
Mantan bek City, Steph Houghton, menilai tekanan kini sepenuhnya ada di pundak Manchester City. “Mereka [City] secara keseluruhan akan kecewa karena banyaknya peluang yang tercipta. Namun, perjalanan masih sangat panjang. Tim seperti Arsenal dan Aston Villa pun kesulitan saat bermain di sini,” ujar Houghton kepada BBC Match of the Day.
Arsenal di Atas Angin, City Dituntut Temukan Formula Baru
Saat City kehilangan poin di suhu dingin Sunderland, Mikel Arteta dan Arsenal justru semakin nyaman di puncak klasemen. Kondisi ini menuntut Pep Guardiola untuk segera menemukan formula baru guna memastikan lini depannya kembali tajam, mengingat Arsenal tampak belum menunjukkan tanda-tanda melambat.
Sunderland sendiri bangga bisa merusak skenario besar Guardiola. “Kami berani karena mencoba agresif dan menekan tinggi. Saya rasa kami berhasil mengganggu rutinitas dan aliran bola mereka (City),” ujar pelatih Sunderland, Regis le Bris.
Dengan separuh musim tersisa, setiap poin yang hilang akan terasa seperti langkah mundur dalam upaya Manchester City mempertahankan dominasi mereka di Inggris.






