Liverpool berhasil menahan imbang pemuncak klasemen Arsenal dengan skor 0-0 dalam laga tandang yang berlangsung di Emirates Stadium, Jumat (9/1/2026). Hasil ini diwarnai statistik langka bagi The Reds: untuk pertama kalinya dalam 600 pertandingan Liga Inggris, mereka gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran.
Statistik Langka yang Berbeda Makna
Catatan tanpa shot on target ini terakhir kali dialami Liverpool hampir 16 tahun lalu, tepatnya pada Maret 2010, saat takluk 0-1 dari Wigan Athletic. Momen kelam itu terjadi di tengah krisis kepemilikan Tom Hicks dan George Gillett yang nyaris menjerumuskan klub ke ambang kehancuran di era Rafael Benitez.
Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id
Namun, menurut pantauan Mureks, konteksnya kini sangat berbeda. Alih-alih kecaman, hasil imbang di kandang Arsenal ini justru disambut apresiasi. Liverpool kini berada dalam fase pembangunan di bawah asuhan Arne Slot, dan hasil ini terasa sebagai sebuah kemajuan signifikan.
Liverpool menjadi tim pertama yang menggagalkan Arsenal meraih poin penuh di kandang musim ini. Sebelumnya, The Gunners selalu menang di Emirates sejak September, dengan terakhir kali kehilangan poin saat menjamu Manchester City.
Rencana Taktik Arne Slot Berjalan Nyaris Sempurna
Kunjungan ke London kali ini diselimuti kekhawatiran, mengingat Arsenal tampil superior dan Liverpool kehilangan beberapa penyerang utama. Namun, Arne Slot menyusun rencana yang tepat untuk meredam kekuatan tim asuhan Mikel Arteta.
Babak pertama menjadi fase bertahan penuh disiplin. Liverpool hanya menguasai 40 persen bola dan fokus menjaga jarak antarlini, membiarkan Arsenal mengalirkan bola namun menutup ruang berbahaya.
Situasi berubah drastis setelah jeda. Liverpool mulai mendominasi permainan dengan penguasaan bola mencapai 65 persen. Mereka menyelesaikan 207 operan di area Arsenal pada babak kedua, jumlah tertinggi yang pernah dicatat tim tamu di Emirates dalam lima musim Premier League terakhir.
Dominasi Tanpa Sentuhan Akhir yang Menentukan
Meskipun mendominasi di babak kedua, masalah Liverpool terletak di sepertiga akhir lapangan. Kiper Arsenal, David Raya, tak sekali pun dipaksa melakukan penyelamatan berarti. Statistik ini tidak sepenuhnya mencerminkan banyaknya situasi menjanjikan yang mereka ciptakan.
Arne Slot mengakui kepuasannya terhadap performa tim. Ia menilai keseimbangan bertahan dan kemampuan membangun serangan dari belakang sudah terlihat, terutama pada babak kedua ketika pressing Liverpool lebih efektif. Namun, ia juga menyoroti satu kekurangan utama.
“Dari dominasi penguasaan bola tersebut, Liverpool masih berharap bisa menciptakan peluang yang lebih bersih,” ujar Slot, mengindikasikan perlunya peningkatan kualitas penyelesaian akhir.
Beberapa kali Liverpool sudah sangat dekat, tetapi kualitas finishing belum cukup untuk memecah kebuntuan.
Cedera Bradley dan Momen Kontroversial
Malam solid Liverpool sedikit ternoda oleh cedera serius yang menimpa Conor Bradley di masa injury time. Bek kanan asal Irlandia Utara itu harus ditandu keluar lapangan dengan dugaan cedera lutut, membuat Slot mengaku khawatir menunggu hasil pemindaian medis.
Insiden tersebut diperparah oleh tindakan pemain pengganti Arsenal, Gabriel Martinelli, yang sempat menjatuhkan bola ke arah Bradley dan berusaha mendorongnya keluar lapangan agar laga segera dilanjutkan. Aksi itu memicu reaksi keras para pemain Liverpool. Martinelli kemudian menyampaikan permintaan maaf. Bradley meninggalkan stadion dengan kruk dan lutut kiri dipasang penyangga, sebuah pemandangan yang mengkhawatirkan mengingat riwayat kebugarannya sejak menembus tim utama Liverpool.
Struktur Tim Tetap Kokoh di Tengah Keterbatasan
Sebelum cedera, Bradley sejatinya hampir menjadi pembeda ketika tendangannya membentur mistar gawang sebelum turun minum, memanfaatkan miskomunikasi antara Raya dan William Saliba. Absennya dia kini membuka opsi bagi Slot, dengan Calvin Ramsay dan Joe Gomez tersedia di posisi bek kanan.
Jeremie Frimpong, yang dimainkan lebih maju, tampil merepotkan Arsenal lewat kecepatan dan kekuatannya. Setelah dua kali mengalami cedera, pemain asal Belanda itu mulai menunjukkan mengapa Liverpool begitu yakin merekrutnya dari Bayer Leverkusen, meski umpan akhirnya masih kerap meleset.
Di sisi lain, Milos Kerkez mencatatkan performa terbaiknya sejak bergabung dari Bournemouth. Ia sukses meredam Bukayo Saka, sementara duet Virgil van Dijk dan Ibrahima Konate tampil solid. Arsenal bahkan tak mencatatkan satu tembakan pun antara menit ke-44 hingga ke-91, mengingat Alexis Mac Allister juga menunjukkan peningkatan signifikan di lini tengah.
Perbedaan kedalaman skuad terlihat jelas ketika Arteta memasukkan Gabriel Jesus, Martinelli, Eberechi Eze, dan Noni Madueke, sementara Slot baru melakukan pergantian pemain jelang akhir laga. Namun, catatan Mureks menunjukkan Liverpool tetap bertahan dengan struktur yang rapi dan kokoh.






