Liam Lawson disebut menghadapi tekanan terbesar di antara para pembalap lini tengah Formula 1 (F1) menjelang musim 2026. Hasil pemungutan suara penggemar F1 menempatkan pembalap Racing Bulls itu di posisi teratas, mengungguli Lance Stroll.
Masa Depan Liam Lawson di Racing Bulls Jadi Sorotan
Musim F1 2026 akan menjadi krusial bagi Lawson, terutama setelah ia berhasil mengamankan kursi di Racing Bulls, mengalahkan Yuki Tsunoda untuk menjadi rekan setim Arvid Lindblad. Menurut pantauan Mureks, Lawson menempati posisi ketiga dalam Heat 2 seri RacingNews365, sebuah survei yang bertujuan menentukan pembalap dengan tekanan terbesar memasuki musim baru.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Pembalap asal Selandia Baru ini memang telah lama diprediksi akan naik ke F1 secara permanen. Namun, ia mengalami musim yang penuh tantangan pada 2025, ketika ia diturunkan dari tim Red Bull dan bertukar tempat langsung dengan Tsunoda hanya dua putaran setelah musim dimulai. Untuk mempertahankan kariernya di F1, Lawson dituntut untuk terus menunjukkan performa terbaiknya di lintasan.
Lance Stroll dan Ekspektasi Tinggi Aston Martin
Di sisi lain, Lance Stroll yang menempati posisi kedua dalam Heat 2 survei tersebut, dikenal memiliki posisi yang relatif aman di grid F1. Hal ini tidak lepas dari fakta bahwa ayahnya adalah pemilik tim Aston Martin yang berbasis di Silverstone.
Namun, dengan rencana peralihan ke unit tenaga Honda dan harapan tinggi untuk meraih gelar juara berkat investasi besar yang telah digelontorkan, Stroll juga berada di bawah tekanan untuk menunjukkan kinerja maksimal. Kegagalan untuk memenuhi ekspektasi ini dapat membuka kemungkinan dirinya digantikan, meskipun posisinya tampak kuat.






