Teknologi

LG Pantau Krisis Chip Global: Belum Pastikan Kenaikan Harga Produk Elektronik di 2026

Jakarta – Sejumlah analis industri memprediksi kenaikan harga perangkat elektronik pada tahun 2026. Lonjakan harga ini disebut-sebut sebagai imbas dari kelangkaan pasokan memori, khususnya DRAM, yang dipicu oleh ekspansi besar-besaran teknologi kecerdasan buatan (AI).

Menanggapi isu tersebut, LG Electronics Indonesia, salah satu merek elektronik terkemuka di Tanah Air, menyatakan pihaknya masih memantau perkembangan. Jay Jang, Marketing and Relations Director of LG Electronics Indonesia, mengakui potensi dampak kenaikan bahan baku.

Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

“Menurut saya sih, memang dengan naiknya bahan baku, tentu itu akan bisa mempengaruhi produk,” kata Jang dalam media briefing di Jakarta, Selasa (16/12/2025).

Meski demikian, Jang menekankan bahwa terlalu dini untuk memastikan kenaikan harga produk LG di pasaran. “Tapi saya sih belum mendapatkan suatu, apa ya, suatu efek dari apakah akan harga naik atau tidak. Itu saya rasa terlalu dini saya untuk menjawab ini bakal naik atau tidak,” imbuhnya.

Jang menambahkan, situasi pasar saat ini sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Oleh karena itu, LG memilih untuk terus memantau kondisi pasar global dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan terkait strategi harga.

Krisis Memori Akibat Ekspansi AI

Laporan mengenai krisis memori yang berpotensi menaikkan harga perangkat elektronik, khususnya ponsel dan laptop, telah mencuat dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun LG tidak secara langsung menawarkan kedua jenis perangkat tersebut di Indonesia, produk pintar mereka seperti televisi juga menggunakan RAM dan memori untuk menjalankan serta menyimpan aplikasi.

Krisis memori ini bermula dari ekspansi agresif teknologi AI yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan raksasa seperti OpenAI, Amazon, dan Oracle. Perusahaan-perusahaan ini gencar mendirikan pusat data AI yang membutuhkan memori dengan bandwidth tinggi (HBM) untuk operasional AI yang optimal.

Para produsen memori utama dunia, seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron, kemudian mengalihkan fokus produksi mereka. Mereka lebih mengutamakan pembuatan memori HBM untuk pusat data AI karena dinilai lebih menguntungkan.

Konsekuensinya, lini produksi untuk memori yang umum digunakan pada perangkat konsumen, seperti DRAM, dialihkan. Hal ini menyebabkan pasokan DRAM menipis di pasaran dan harganya melonjak tajam. Kondisi ini yang kemudian memicu prediksi bahwa vendor ponsel dan laptop akan menaikkan harga perangkat mereka.

Bahkan, firma riset pasar TrendForce memprediksi bahwa kapasitas RAM pada ponsel dan laptop kemungkinan akan dikurangi sebagai salah satu upaya untuk mengatasi krisis pasokan memori ini.

Mureks