Legenda sepak bola Belanda dan Barcelona, Patrick Kluivert, mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah sebuah video kuis interaktif dari GOAL Indonesia viral. Dalam video tersebut, Kluivert harus menerima ‘roasting’ jujur dari anak-anak sekolah dasar terkait rekam jejaknya saat melatih Timnas Indonesia.
Momen Kuis Interaktif GOAL Indonesia
Kuis yang melibatkan anak-anak sekolah dasar ini menampilkan Patrick Kluivert sebagai subjek utama. Alih-alih mengagumi medali Liga Champions atau gol-gol indahnya di masa lalu, para peserta cilik justru menyoroti performanya ketika menukangi skuad Garuda. Mereka dengan lugas menyebut sang legenda sebagai sosok yang “jago tapi bot”, sebuah istilah yang merujuk pada hilangnya kemampuan atau taring saat meracik strategi untuk Timnas.
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Atmosfer dalam video tersebut semakin pecah saat salah satu anak dengan polosnya melontarkan komentar yang mengundang tawa sekaligus membuat Kluivert tersenyum kecut. “Jago sih waktu main, tapi pas latih Timnas kok jadi bot?” cetus peserta kuis tersebut, yang langsung disambut riuh teman-temannya. Narator kuis pun hanya bisa geleng-geleng kepala menanggapi kejujuran tanpa filter dari para bocah.
Ekspektasi Tinggi Suporter dan Fenomena “Bot”
Mureks mencatat bahwa fenomena ini menjadi cerminan nyata betapa tingginya ekspektasi suporter sepak bola Indonesia, bahkan dari kalangan usia dini, terhadap siapa pun yang menduduki kursi kepelatihan Timnas. Nama besar dan rekam jejak mentereng seperti mantan bintang Barcelona dan AC Milan ternyata tidak serta-merta kebal dari kritik pedas jika performa di lapangan tidak sesuai harapan. Hal ini menunjukkan bahwa di Indonesia, reputasi gemilang di masa lalu tidak menjamin keamanan dari ‘roasting’ massal jika hasil di lapangan tidak sebanding dengan kemilau trofi.
Setelah video ini menyebar luas, tekanan kini beralih ke pundak PSSI dan pelatih baru, John Herdman. Mereka dituntut untuk membuktikan bahwa Timnas Indonesia bukanlah tempat di mana karier kepelatihan menjadi ‘bot’ atau kehilangan sentuhannya. Tantangan berikutnya bagi skuad Garuda adalah menunjukkan konsistensi dan performa terbaik di pertandingan-pertandingan mendatang, guna membungkam keraguan, termasuk dari para bocil yang kini sudah mulai memahami arti taktik dan strategi dalam sepak bola.
Referensi penulisan: www.goal.com





