Larangan suporter klub Indonesia untuk melakukan lawatan tandang di kompetisi Super League masih berlaku hingga awal tahun 2026. Aturan yang telah berjalan lebih dari empat tahun ini memicu pertanyaan mengenai relevansinya, terutama setelah tragedi memilukan di Stadion Kanjuruhan.
Tragedi Kanjuruhan, yang terjadi pada 1 Oktober 2022, menjadi pemicu utama diberlakukannya larangan tersebut. Insiden pasca pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menelan 135 korban jiwa. Saat itu, Persebaya memetik kemenangan 3-2 di hadapan Aremania. Invasi lapangan oleh pendukung tuan rumah setelah laga memicu tembakan gas air mata oleh petugas keamanan.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Kepanikan massal di tribune, diperparah dengan pintu keluar yang sempit, menyebabkan kekacauan fatal dan jatuhnya banyak korban. Pasca kejadian tersebut, PSSI segera memberlakukan larangan suporter tandang untuk seluruh kompetisi. Namun, hingga Sabtu, 03 Januari 2026, larangan ini belum juga dicabut.
PSSI mengklaim bahwa mereka masih dalam pengawasan FIFA terkait isu suporter. Namun, Mureks mencatat bahwa bukti tertulis mengenai larangan suporter tandang dari FIFA belum pernah secara transparan ditunjukkan oleh PSSI kepada publik.
Di sisi lain, beberapa kelompok suporter telah menunjukkan kematangan dan ketertiban dalam mendukung tim mereka, membuktikan bahwa menonton sepak bola tidak selalu berujung pada kerusuhan. Contoh nyata terlihat dalam pertandingan Persebaya melawan PSIM Yogyakarta dan Persija Jakarta melawan PSIM, di mana suporter tetap tertib setelah laga, bahkan sempat terjadi aksi tukar makanan antar pendukung.
Pengamat Sepak Bola Desak PSSI Kaji Ulang Sistem Larangan
Menanggapi situasi ini, pengamat sepak bola Mohamad Kusnaeni mendesak PSSI untuk mulai mengkaji ulang sistem “punishment and reward” terkait larangan suporter tandang. Menurutnya, edukasi harus menjadi prioritas PSSI dan I League selaku operator liga.
“Larangan suporter away itu hak PSSI, itu memang masing-masing negara mempunyai pertimbangan sendiri bahwa kehadiran suporter away itu tidak berdampak negatif pada PSSI. Namun saya bilang begini, kita melihat persoalan tikus di lumbung padi, kita tidak bisa memukul rata, wah ini bahaya dibakar saja semua. Kan tidak bisa begitu, harus dicari tikusnya. Kalau kita sudah tahu lumbung mana yang ada tikusnya, kan tidak perlu dibakar juga,” kata Bung Kus kepada detikSport.
Kusnaeni menekankan pentingnya pemilahan dan pelarangan yang bijak. “Dalam konteks suporter ini, kita harus melakukan pemilahan, kita harus melakukan pelarangan secara bijak. Mana suporter yang harus dilarang untuk sementara waktu, mana suporter yang sudah selayaknya diberi kesempatan away. Karena kalau dilakukan pukul rata seperti itu, tidak mengedukasi suporter, tidak mendidik,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa perlakuan yang sama terhadap suporter tertib dan tidak tertib tidak akan menghasilkan perubahan. “Suporter yang tertib dan tidak tertib akhirnya diperlakukan sama. Dan itu tidak mendidik, makanya suporter di Jawa itu tidak Berubah. Kalau kerusuhan itu adanya di mana sih? Di Pulau Jawa. Di Borneo nggak rusuh, Papua nggak rusuh, Makassar nggak rusuh, di Padang nggak rusuh. Nggak ada yang rusuh, yang rusuh itu sebagian besar di Pulau Jawa. Karena diperlakukan sama, yang tertib dan nggak tertib sama saja. Nah dengan cara seperti itu tidak tercipta edukasi.”
Untuk membenahi kultur suporter, Kusnaeni mengusulkan sistem selektif yang jelas. “Kalau kita mau membenahi suporter, kita harus menciptakan sistem selektif itu. Suporter yang sudah menunjukkan lima pertandingan berturut-turut tidak rusuh boleh away. Suporter yang sekali dikasih kesempatan away misalnya rusuh, dihukum tiga kali. Jadi selektif, ada aturannya, tidak pukul rata, barometernya jelas, ukuran-ukurannya jelas. PSSI tidak akan sulit melakukan itu, bisa bekerja sama dengan Polri, mereka yang mengawal pertandingan. Mereka juga setuju.”
Sistem ini, menurut Kusnaeni, akan mendorong iklim persaingan yang sehat di antara suporter. “Kalau itu diberlakukan secara selektif, menurut saya akan membangun iklim persaingan yang sehat. Suporter akan berlomba-lomba akan berlaku tertib. Dengan tertib mereka akan mempunyai hak untuk away. Kalau sekarang mau tertib dan tidak tertib tidak dihukum,” pungkasnya.






