Jakarta – Krisis pasokan chip memori global mulai menunjukkan dampak serius bagi industri perangkat konsumen. Menjelang akhir tahun 2025, ekosistem semikonduktor dunia menghadapi kelangkaan DRAM dan NAND yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan proyeksi berlanjut hingga 2026.
Menurut analisis firma riset IDC, lonjakan permintaan dari pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) telah mendorong ketidakseimbangan pasokan dan permintaan di pasar memori. Harga DRAM tercatat meningkat signifikan seiring kapasitas produksi tidak mampu mengejar kebutuhan, terutama dari sektor AI data center yang terus berkembang pesat.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
IDC menyebut kondisi ini menjadi perhatian utama saat penyusunan proyeksi perangkat pada November 2025. Namun, situasi dinilai semakin memburuk setelah laporan tersebut diterbitkan. Meski belum mengubah proyeksi resmi, IDC menguraikan dua skenario risiko penurunan yang berpotensi terjadi pada dua pasar utama: smartphone dan PC.
Akar persoalan krisis ini berasal dari perubahan struktural di pasar memori. Permintaan kini secara material melampaui pasokan, dipicu ekspansi masif infrastruktur dan beban kerja AI. Beban kerja tersebut membutuhkan kapasitas memori jauh lebih besar dibanding perangkat konsumen, sehingga mendorong produsen memori mengalihkan kapasitas produksi mereka.
Alih-alih memperluas produksi DRAM dan NAND konvensional untuk smartphone dan PC, produsen memori besar kini memprioritaskan solusi bernilai tinggi untuk pusat data AI, seperti high-bandwidth memory (HBM) dan DDR5 berkapasitas besar. Peralihan ini membatasi ketersediaan modul memori umum dan memicu kenaikan harga secara luas.
IDC menilai kondisi ini bukan sekadar siklus sementara, melainkan potensi realokasi permanen kapasitas wafer silikon global. Permintaan besar terhadap HBM dari hyperscaler seperti Microsoft, Google, Meta, dan Amazon memaksa tiga produsen memori terbesar dunia, yakni Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology, mengalihkan ruang produksi dan belanja modal mereka.
Mureks mencatat bahwa IDC memperkirakan pertumbuhan pasokan DRAM pada 2026 hanya mencapai 16% secara tahunan, sementara NAND berada di kisaran 17%, di bawah rata-rata selama ini. Ketidakseimbangan pasokan ini berdampak langsung pada pasar perangkat. Harga DRAM dan NAND/SSD meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir, sementara ketersediaannya semakin terbatas. Kondisi tersebut memaksa produsen perangkat menavigasi situasi yang terus berubah.
Ancaman bagi Pasar Smartphone
Pasar smartphone global, khususnya produsen Android, menghadapi tekanan signifikan pada 2026. Tren satu dekade terakhir yang membawa spesifikasi flagship ke segmen harga terjangkau mulai terbalik.
IDC mencatat memori menyumbang sekitar 15–20% dari total bill of materials (BOM) smartphone kelas menengah, dan 10–15% pada perangkat flagship. Dengan harga memori yang terus meningkat, produsen diperkirakan harus menaikkan harga jual, menurunkan spesifikasi, atau melakukan keduanya.
Dampaknya tidak merata. Vendor dengan fokus pada segmen harga rendah dan margin tipis diperkirakan akan paling terdampak karena kenaikan biaya sulit diserap. Sebaliknya, pemain kelas atas seperti Apple dan Samsung dinilai lebih terlindungi berkat cadangan kas dan kontrak pasokan jangka panjang, meski peningkatan kapasitas RAM pada model flagship 2026 diperkirakan tertahan.
PC Hadapi Badai Ganda
Jika smartphone berada di bawah tekanan, pasar PC dinilai menghadapi gangguan yang lebih kompleks. Krisis memori bertepatan dengan siklus penyegaran akhir masa pakai Windows 10 serta dorongan pemasaran AI PC.
Sejumlah vendor besar seperti Lenovo, Dell, HP, Acer, dan ASUS telah memberi sinyal kenaikan harga menyeluruh pada paruh kedua 2026, dengan penyesuaian kontrak dan kenaikan harga di kisaran 15–20%. Vendor berskala besar diperkirakan lebih mampu bertahan dan bahkan mengambil pangsa pasar dari pemain kecil dan regional.
Sebaliknya, white box dan vendor lokal, termasuk perakit PC rakitan dan sistem DIY yang populer di kalangan gamer, diprediksi menanggung beban terbesar. Kondisi ini membuka peluang bagi OEM besar untuk mendorong sistem pre-built sebagai alternatif paling baik sejauh ini.






