Tren

KKP: 30 Ribu Hektare Tambak Budidaya di Aceh Rusak Parah Akibat Banjir, Kerugian Capai Puluhan Ribu Pembudidaya

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengidentifikasi sekitar 30 ribu hektare tambak budidaya perikanan di Aceh mengalami kerusakan akibat banjir besar yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Kerusakan ini bervariasi dari ringan hingga sangat berat, berdampak pada kerugian yang dialami oleh lebih dari 30 ribu pembudidaya.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan luasnya dampak bencana ini saat meninjau lokasi budidaya di Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, pada Kamis (8/1). “Tidak hanya di Pidie Jaya, yang dilaporkan seluruh Aceh ada sekitar 30 ribu hektare,” ujarnya.

Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id

Bersama Menko Zulhas, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono juga melakukan peninjauan ke Kabupaten Bireun dan Aceh Utara pada Jumat (9/1). Dalam ringkasan Mureks, kunjungan tersebut menegaskan komitmen pemerintah dalam penanganan pascabencana.

Menteri Trenggono merinci, kerusakan tambak akibat banjir tersebar di 16 kabupaten/kota di seluruh Aceh. Kabupaten Aceh Utara menjadi wilayah paling terdampak dengan luasan lebih dari 10 ribu hektare, disusul oleh Kabupaten Bireun dengan 4,9 ribu hektare dan Aceh Tamiang yang mencatat 3,4 ribu hektare tambak rusak. Tambak-tambak ini berada di wilayah daratan maupun pesisir.

Komoditas yang dikembangkan di tambak-tambak tersebut meliputi udang, bandeng, kakap, kerapu, lele, nila, mas, serta patin. Tingkat kerusakan yang terjadi sangat beragam, mulai dari ringan hingga sangat berat.

“Kami sudah melakukan identifikasi. Tambak terdampak yang rusaknya sangat berat ada sekitar 300an hektare, sisanya didominasi kerusakan ringan hingga berat,” jelas Menteri Trenggono. Banjir besar yang disertai longsor beberapa waktu lalu telah menimpa hampir seluruh wilayah Aceh, menyebabkan tambak-tambak tergenang lumpur dan bahkan ada yang rata dengan tanah.

Mureks