Dua bulan telah berlalu sejak kepergian Brama, namun bagi Kaluna Mahika, waktu seolah berhenti di pagi terakhir mereka. Pagi yang seharusnya menjadi awal dari ribuan rencana, kini hanya menyisakan duka mendalam dan kehampaan yang tak berujung. Di tengah hiruk-pikuk koridor kampus, Kaluna masih sering terhanyut dalam lamunan, mencari sosok yang tak akan pernah kembali.
Pagi Terakhir yang Penuh Janji
Pukul tujuh pagi, dering telepon dari Brama selalu menjadi penanda dimulainya hari. Suaranya yang penuh energi di ujung sana, seolah mampu menembus sinyal seluler, selalu mengabarkan bahwa ia akan menjemput. Bagi Brama, sehari tanpa melihat wajah Kaluna adalah kemarau panjang, meskipun libur perkuliahan baru saja usai dan mereka sering bertemu.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Motor Aerox merah itu berhenti tepat di lampu lalu lintas. Di bawah hangatnya matahari pagi, Brama tak henti mencuri pandang lewat kaca spion, tersenyum melihat Kaluna yang asyik memperhatikan kucing-kucing liar di trotoar. “Rembulan malam memang indah, tetapi wajah Kaluna Mahika adalah semesta lain yang tak ingin ia lewatkan sedetik pun,” begitu mungkin isi benaknya.
Pagi itu, layaknya kisah cinta remaja pada umumnya, dipenuhi tawa dan momen manis. Kaluna sempat menggerutu karena Brama sudah menyeretnya keluar sebelum ia sempat menyendok nasi uduk. Namun, melihat antusiasme Brama, kekesalannya menguap begitu saja.
Masa Depan yang Dirajut di Kedai Bubur
Setibanya di kedai bubur ayam langganan, Brama dengan sigap mengambil alih totebag kanvas milik Kaluna. Ini adalah ritual tak tertulis mereka selama dua tahun. Awalnya Kaluna merasa aneh, tetapi kini ia paham: itu adalah bahasa cinta Brama, sama seperti saat ia membawakan belanjaan ibunda Kaluna. Punggung Brama adalah sandaran paling kokoh untuk segala beban, baik fisik maupun perasaan.
Sembari menunggu pesanan, Kaluna menyodorkan iPad-nya kepada Brama. “Bram, coba lihat ini,” ucapnya. Brama menyipitkan mata, fokus. “Wih, bagus. Cantik, lucu kayak Kaluna Gembul,” kekehnya. “Belum beres lagi cover-nya, Mbul?”
“Sudah beres, kok. Ini finalnya, tinggal dikirim ke penerbit.”
“Syukur deh. Nanti kalau bukumu terbit, aku orang pertama yang beli,” ujar Brama diiringi tawa renyah yang khas. “Aku kan fans garis kerasmu.” Kaluna hanya tersenyum simpul, membiarkan Brama mengelus punggung tangannya. Banyak orang bilang Brama itu dingin dan irit bicara, tetapi di hadapan Kaluna, ia berubah menjadi badut paling hangat sedunia.
Di hadapan dua mangkuk bubur yang mengepul, mereka merajut masa depan. “Mbul, nanti aku mau langsung mengajukan proposal. Doakan, ya,” pinta Brama. “Aku selalu doakan kamu, tanpa diminta pun.” Brama menjawab, “Harus diminta, biar Tuhan tahu aku butuh banget doa kamu.”
Percakapan mengalir dari urusan skripsi hingga hal konyol seperti cincin nikah. “Kalau cincin yang gede mau nggak, Mbul? Kayak akik yang dipakai Pakde kantin itu loh,” canda Brama. “Idih, ogah! Kamu saja yang pakai, biar kayak dukun,” Kaluna tertawa lepas.
Tawa itu, tawa terakhir yang terasa benar-benar hidup. Brama sempat bertanya tentang rumah impian di Lebak Bulus, tentang keinginan punya rumah kecil agar Kaluna tak capek menyapu, dan tentang ribuan rencana lain yang mereka susun rapi di atas kertas harapan.
Kehilangan Tanpa Salam Perpisahan
Namun, semua tawa dan rencana itu buyar seketika. Rasa bubur di mulut Kaluna kini terasa hambar. Tidak ada lagi tawa Brama, tidak ada candaan soal cincin akik. Yang ada hanya hiruk-pikuk kantin kampus yang bising, namun terasa sunyi di telinganya.
Lamunannya tentang pagi terakhir itu buyar saat kakinya melangkah gontai menyusuri koridor kampus. Tanpa sadar, ia berjalan mencari Aleena, sahabatnya. Di sudut koridor dekat kamar mandi, pertahanan Kaluna runtuh. Aleena yang melihat kondisi sahabatnya—mata sembab, rambut acak-acakan—langsung mendekap tubuh ringkih itu.
“Kaluna… nggak apa-apa kalau lo mau nangis. Tapi tolong janji sama gue, jangan hancur sendirian, ya?” bisik Aleena.
Kaluna tak bisa menjawab. Ia masih menyangkal, sulit menerima kenyataan bahwa takdir memisahkan mereka begitu cepat. Kehilangan kekasih hati secara tiba-tiba membuat dadanya sesak oleh duka mendalam.
Rasanya baru kemarin Bunda meneleponnya di pagi buta, mengabarkan bahwa motor Aerox merah itu dihantam truk, dan Brama tak pernah bangun lagi. Rasanya baru kemarin ia berteriak histeris di ruang jenazah, memohon pada Tuhan untuk mengembalikan napas laki-laki itu.
Berjuang Melawan Kehilangan Diri Sendiri
Kini, dua bulan telah berlalu. Ponsel Kaluna tak lagi berisik oleh notifikasi Brama. Tak ada lagi tangan hangat yang menggandengnya menyeberang jalan. Tak ada lagi yang memanggilnya “Mbul” dengan nada mengejek, tapi sayang. Semua rencana di kedai bubur itu kini hanya menjadi hantu: proposal Brama, draf novel Kaluna yang tak kunjung ia kirim karena kehilangan pembaca pertamanya, hingga rencana rumah kecil di Lebak Bulus.
Orang bilang, setiap kejadian adalah pelajaran hidup, sekalipun itu hanya jatuh cinta. Namun, bagi Kaluna, belajar ikhlas melepaskan Brama adalah ujian terberat. Mureks merangkum, kisah ini adalah pengingat pahit bahwa terkadang, ‘sampai jumpa’ bisa berubah menjadi ‘selamat jalan’ tanpa aba-aba.
Di bawah langit kampus yang cerah, Kaluna menatap kosong. “Tuhan, jika Engkau mengambil dia agar aku belajar tentang kehilangan, mengapa rasanya aku justru kehilangan diriku sendiri?” bisiknya dalam hati, sebuah pertanyaan yang mungkin tak akan pernah terjawab.






