Nasional

Ketika Tumpukan Barang Menguasai Hidup: Memahami Hoarding Disorder dari Perspektif Psikologi dan Islam

Banyak orang kerap menunda untuk membuang barang, sebuah kebiasaan yang sering dianggap sepele. Namun, di balik tumpukan benda yang tak kunjung tersingkir, bisa jadi tersembunyi sebuah kondisi serius yang dikenal sebagai hoarding disorder. Gangguan ini secara diam-diam dapat memengaruhi kesehatan mental dan ketenangan batin seseorang, bahkan mengganggu fungsi ruang hidup.

Hoarding disorder adalah gangguan psikologis yang ditandai oleh ketidakmampuan persisten untuk membuang barang, terlepas dari nilai guna benda tersebut. Akibatnya, barang menumpuk secara berlebihan, membuat ruang menjadi sempit, tidak tertata, dan berdampak signifikan pada kualitas hidup individu yang mengalaminya.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Kondisi ini seringkali disalahartikan sebagai kemalasan atau kurang disiplin. Padahal, menurut pantauan Mureks, hoarding disorder sering berkaitan erat dengan kecemasan, pengalaman kehilangan, dan kesulitan dalam mengelola emosi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan hoarding dapat mulai berkembang sejak masa remaja hingga dewasa awal dan berdampak signifikan pada fungsi psikososial individu, seperti yang diungkapkan oleh Dozier et al. pada tahun 2025.

Akar Psikologis dan Keterikatan Emosional

Stres psikososial juga diketahui memperkuat keterikatan emosional seseorang terhadap barang-barang yang dimilikinya. Cromer et al. (2023) mencatat bahwa dalam situasi hidup yang terasa tidak stabil, barang sering kali menjadi sumber rasa aman semu, sesuatu yang bisa dikendalikan ketika aspek lain dalam hidup terasa tidak pasti.

Secara teoritis, hoarding disorder dapat dipahami melalui model kognitif—pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Frost dan Hartl. Model ini menjelaskan bahwa kesulitan mengambil keputusan, lemahnya kemampuan mengorganisasi, dan keyakinan irasional terhadap barang membuat individu merasa takut kehilangan. Sementara itu, dari sisi emosional, attachment theory menjelaskan bahwa barang dapat berfungsi sebagai pengganti rasa aman ketika kebutuhan afeksi dan relasi interpersonal tidak terpenuhi.

Perspektif Islam dalam Menangani Penimbunan

Dalam perspektif Islam, perilaku menimbun secara berlebihan tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual. Rasulullah SAW bersabda, “Kebersihan itu sebagian dari iman” (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga kebersihan dan keteraturan bukan sekadar urusan fisik, melainkan juga bagian dari kualitas keimanan seseorang.

Al-Qur’an juga mengingatkan manusia agar tidak bersikap berlebihan dalam menjalani kehidupan. Allah SWT berfirman, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf: 31). Prinsip ini menegaskan pentingnya keseimbangan, memiliki secukupnya, menyimpan seperlunya, tanpa keterikatan yang berlebihan.

Melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling, khususnya konseling agama Islam, penanganan hoarding disorder tidak hanya diarahkan pada perubahan perilaku, tetapi juga pemulihan emosi dan penguatan makna hidup. Menata ruang hidup dapat dimaknai sebagai bagian dari ibadah dan ikhtiar menata batin, sejalan dengan firman Allah SWT bahwa “Dia mencintai orang-orang yang menyucikan diri” (QS. Al-Baqarah: 222).

Pada akhirnya, tidak semua tumpukan barang menandakan gangguan psikologis. Namun, ketika ruang hidup terasa semakin sesak dan memunculkan kegelisahan, kondisi tersebut layak menjadi bahan refleksi. Sebab, menata ruang sering kali menjadi langkah awal untuk menenangkan jiwa dan menemukan kembali ketenangan batin.

Mureks