Direktur kepelatihan bulu tangkis, Kenneth Jonassen, mengumumkan kembali penggunaan metodologi pelatihan Asia setelah para pemainnya kesulitan beradaptasi dengan filosofi Eropa yang sebelumnya ia perkenalkan. Keputusan ini diambil setelah evaluasi mendalam terhadap respons para atlet.
Pria asal Denmark itu menjelaskan bahwa metode Eropa yang ia bawa berfokus pada penantangan pola pikir pemain, mendorong mereka untuk menetapkan tujuan sendiri, dan memacu kemajuan pribadi. Namun, pendekatan ini menemui kendala signifikan, bahkan bagi pemain peringkat 28 dunia, Leong Jun Hao, yang merasa kesulitan dalam transisi tersebut.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
“Sejak awal, saya melakukan beberapa perubahan. Orang mungkin berpikir kami masih mengikuti gaya pelatihan Eropa, tetapi sebenarnya tidak,” kata Kenneth Jonassen di Akademi Bulu Tangkis Malaysia, Bukit Kiara, pada Jumat (2/1/2026). Ia menambahkan, “Sebenarnya, kami kembali ke pendekatan pelatihan yang sangat berbasis Asia empat hingga lima bulan lalu karena kami merasa itu tidak bermanfaat dan para pemain belum siap untuk melakukan sesi pelatihan semacam itu.”
Menurut pantauan Mureks, perubahan strategi ini menunjukkan adaptasi cepat Jonassen terhadap kondisi dan karakteristik pemain di Asia. “Jadi saya berubah cukup cepat ketika mulai memahami bagaimana para pemain di sini berpikir dan bereaksi,” ujarnya.
Jonassen juga mengungkapkan bahwa pendekatan Eropa tidak hanya terbatas pada aspek teknis di lapangan, melainkan juga meluas ke luar lapangan, di mana para pemain ditantang untuk menghadapi “iblis batin” mereka demi menjadi atlet yang serba bisa.
“Gaya Eropa saya adalah saya mendorong sisi gelap batin para pemain dengan menantang pola pikir dan cara berpikir mereka untuk mengatasi rintangan yang sulit dipecahkan melalui latihan,” jelas Jonassen. Ia melanjutkan, “Pendekatan Asia sebenarnya tidak jauh berbeda, dan sekarang saya mengerti bahwa pada akhirnya kita akan mencapai tujuan yang sama, hanya dengan cara yang sedikit berbeda.”
Ke depannya, Kenneth Jonassen tidak menutup kemungkinan untuk menggabungkan kedua gaya, Asia dan Eropa, guna mengeluarkan potensi terbaik dari para pebulu tangkisnya. “Pada akhirnya, kami akan mencoba lagi dengan kombinasi elemen yang berbeda, karena sekarang kami memiliki pemahaman bersama yang lebih baik,” katanya. “Saya pikir akan lebih ideal untuk menggabungkan lebih banyak elemen ke depannya.”
Dengan kembalinya penerapan pendekatan pelatihan ala Asia ini, Leong Jun Hao diharapkan dapat menghasilkan performa yang lebih baik selama turnamen Malaysia Open yang akan berlangsung di Axiata Arena pada 6-11 Januari 2026.






