Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus menggenjot pembangunan infrastruktur air bersih di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, menyusul bencana banjir bandang yang melanda wilayah tersebut. Hingga awal Januari 2026, sejumlah titik pengeboran sumur air baku telah memasuki tahap konstruksi, bahkan beberapa di antaranya sudah mulai beroperasi.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan, penyediaan akses air baku merupakan prioritas utama dalam upaya pemulihan pascabencana. Percepatan ini krusial untuk memastikan fasilitas publik seperti layanan kesehatan, rumah ibadah, hingga hunian sementara dapat berfungsi kembali secara normal. “Pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut perbaikan infrastruktur yang rusak, tetapi juga memastikan masyarakat kembali mendapatkan akses terhadap kebutuhan dasar, terutama air bersih,” ujar Dody, Jumat (9/1/2026).
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Menurut catatan Mureks, data Kementerian PU per 5 Januari 2026 menunjukkan progres signifikan. Rata-rata kedalaman delapan unit pengeboran sumur telah mencapai elevasi antara 70 meter hingga 105 meter. Secara teknis, target kedalaman sumur di Aceh Tamiang dipatok pada rentang 100 meter hingga 150 meter, disesuaikan dengan kondisi geologi setempat.
Progres Pengeboran di Berbagai Kecamatan
Di Kecamatan Manyak Payed, satu unit sumur bor di Masjid Simpang Lhee dilaporkan telah mencapai kedalaman 82 meter dan kini telah beroperasi, melayani kebutuhan air bersih warga sekitar. Sementara itu, di Desa Meurandeh, pengeboran pilot hole sudah menyentuh 88 meter dan bersiap menuju tahap reaming atau pembesaran lubang sumur permanen.
Kemajuan serupa juga terlihat di Kantor Camat Kuala Simpang, di mana pengeboran telah mencapai kedalaman 77 meter dari rencana 80 meter. Hasil kajian hidrogeologi menunjukkan potensi akuifer di lokasi ini pada kedalaman 23–35 meter serta di atas 150 meter, sehingga pekerjaan dilanjutkan secara bertahap untuk menjamin keberlanjutan sumber air. Lokasi ini masuk dalam daftar prioritas yang dipersiapkan menuju tahap konstruksi.
Di Kecamatan Banda Mulia, pengeboran di Masjid Al Ikhlas Gampong Sukajadi telah mencapai kedalaman 72 meter dari target 100 meter, dengan potensi akuifer teridentifikasi pada rentang 39–78 meter. Adapun di TK Nurul Ikhlas Telaga Meuku II, Sidomulyo, pengeboran pilot hole telah mencapai 82 meter dari rencana 100 meter dan menunjukkan indikasi akuifer pada kedalaman yang sama, diproyeksikan segera memasuki tahapan konstruksi.
Tantangan dan Tahap Selanjutnya
Meski demikian, beberapa lokasi masih menghadapi tantangan. Di Kecamatan Karang Baru, pengeboran di Kantor Datok Gampong Menanggini baru mencapai pilot hole sedalam 25 meter dari rencana 60 meter dan sempat terkendala akibat kerusakan gearbox alat bor. Di lokasi lain, Pesantren Darul Mukhlisin telah mencapai pilot hole sedalam 72 meter dari target 100 meter, dengan beberapa lapisan potensi akuifer teridentifikasi pada kedalaman 8–19 meter, 28–39 meter, serta di atas 98 meter, dan saat ini menunggu pembuatan mata bor untuk melanjutkan pekerjaan.
Sementara itu, di Kecamatan Bendahara, pengeboran di Desa Matang Teupah telah mencapai pilot hole sedalam 73 meter dari target 100 meter, dengan potensi akuifer pada kedalaman 39–78 meter dan 78–92 meter. Pekerjaan di lokasi ini masih menunggu pengiriman mud pump yang sedang dalam proses penjemputan dari Bireuen ke Aceh Tamiang. “Di Desa Bandar Khalifah, proses pengeboran pilot hole telah mencapai kedalaman 104 meter dari rencana 150 meter dan terus dilanjutkan secara bertahap,” pungkas Dody, memastikan komitmen pemerintah dalam pemulihan akses air bersih bagi warga Aceh Tamiang.






