Sepak bola di Indonesia memiliki dua sisi mata uang: sebagai alat pemersatu bangsa yang historis, sekaligus pemicu konflik berujung kekerasan. Tragedi yang menimpa Haringga Sirla pada 2023 menjadi pengingat pahit akan rivalitas suporter yang telah merenggut banyak nyawa.
Sejarah Sepak Bola dan Perjuangan Kemerdekaan
Jauh sebelum era modern, sepak bola memiliki peran krusial dalam menyulut semangat perlawanan terhadap kolonialisme. Nama-nama pahlawan seperti Tan Malaka dan Soeratin Sosrosoegondo tak bisa dilepaskan dari sejarah pergerakan kemerdekaan melalui lapangan hijau. Soeratin Sosrosoegondo bahkan merupakan inisiator berdirinya Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), federasi tertinggi sepak bola tanah air.
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Namun, Mureks mencatat bahwa kondisi sepak bola Indonesia dewasa ini, khususnya dalam kompetisi resmi PSSI, justru memicu perseteruan yang berujung kekerasan di kalangan suporter. Ironisnya, olahraga yang seharusnya mempersatukan ini kini kerap menjadi arena pertumpahan darah.
Tragedi Haringga Sirla dan Rivalitas Abadi
Tak terhitung korban meninggal akibat bentrok antar-suporter. Salah satu yang paling membekas adalah Haringga Sirla, yang meregang nyawa tiga tahun silam akibat pengeroyokan di Kota Kembang. Peristiwa tragis ini terjadi saat laga panas antara Persib Bandung melawan Persija Jakarta.
Haringga Sirla menjadi tumbal ketujuh dari permusuhan antara suporter Persib dan Persija, rivalitas yang mulai memanas sejak memasuki era milenium. Meski bukan bagian langsung dari sejarah perseteruan tersebut, ia harus kehilangan nyawa akibat fanatisme berlebihan.
Seruan Damai dari Keluarga Korban dan Suporter
Kendati demikian, keluarga Haringga Sirla tak menyimpan dendam. Mayrisa Sirawati, kakak kandung Haringga, dengan tegas mengingatkan agar tak ada lagi keluarga lain yang merasakan duka serupa. “Saya tak mau kejadian tersebut terulang, saya pribadi selalu bilang ke Jakmania, suporter Persija, jangan ada dendam lagi, kalian harus menunjukkan sportivitas, hal-hal yang sifatnya buruk jangan dicontoh, cukup adik saya yang terakhir, jika kejadian itu terulang lagi kapan selesainya,” ujar Mayrisa kepada IDN Times.
Ia berharap seluruh suporter tanah air tidak lagi bertindak anarkis dan merugikan pihak lain. Sepak bola, menurutnya, harus kembali menjadi alat pemersatu bangsa, seperti semangat para pahlawan di masa kemerdekaan.
Senada, Muhammad Fayyadh, salah satu anggota Jakmania sekaligus pendiri fanbase Sepakbola Jakarta, menilai rivalitas antara kedua pendukung tim raksasa ini sudah kelewat batas. “Bagaimana pun, rivalitas sekencang apa pun, pertandingan tetap digelar di dalam lapangan dan selama 90 menit. Di luar itu, semua kembali normal. Sekarang ini (kondisi) bukan rivalitas yang seharusnya,” kata Fayyadh.
Fayyadh berharap adanya perdamaian sejati dan penurunan tensi antara kedua kubu. Ia meyakini, sebagai generasi penerus yang tidak terlibat langsung dalam sejarah pertikaian, suporter memiliki peluang untuk kembali berdampingan. Toleransi dan persatuan bangsa harus dikedepankan, meskipun rivalitas tetap diperlukan untuk membuat pertandingan lebih menarik dan memotivasi pemain serta suporter, asalkan dalam kerangka sportivitas.
Inisiatif Bobotoh untuk Perdamaian
Di sisi lain, Dhanny Kusuma, juru bicara Viking Jakarta dan Lembaga Bantuan Hukum dan Keadilan (LBHK) Bobotoh, juga terus berupaya meminimalkan ketegangan. Kampanye besar yang dilakukan Viking Persib Club menjadi salah satu langkah untuk mewujudkan perdamaian.
“Minimal kami menjauh dari perkataan rasialis. Kemudian kami juga tak akan melakukan tindakan anarkis yang nantinya bisa merugikan kami sendiri,” tutur Dhanny.
Ia berharap upaya ini memberikan dampak positif bagi seluruh elemen suporter di Indonesia, agar tidak ada lagi kelompok yang terlibat dalam tindakan kriminal. Selain itu, Bobotoh di perbatasan juga menginisiasi pendirian LBHK pada 2019. Lembaga ini bertujuan memberikan edukasi hukum pada suporter agar taat hukum dan aturan, sehingga tidak ada lagi pendukung yang terjerat masalah hukum akibat konflik.
Harapan untuk Sepak Bola Indonesia yang Damai
Semua pihak patut mengapresiasi usaha dan keinginan yang ditunjukkan oleh kedua belah pihak suporter, termasuk keikhlasan keluarga almarhum Haringga Sirla. Tak ada kemenangan yang sebanding dengan nyawa. Harapannya, sepak bola dapat kembali menjadi alat pemersatu bangsa, memungkinkan semua orang menonton pertandingan dengan aman dan nyaman tanpa khawatir akan keselamatan.
Referensi penulisan: www.idntimes.com






