Komputasi awan atau cloud computing diproyeksikan tetap menjadi tulang punggung penting bagi operasional bisnis dan penggunaan internet pribadi di tahun 2026. Dengan lonjakan kebutuhan data masif dan perkembangan kecerdasan buatan (AI), permintaan akan penyimpanan cloud kian meningkat. Namun, tren ini juga membawa tantangan dan peluang baru, terutama terkait kedaulatan data dan infrastruktur energi.
Investasi besar telah digelontorkan untuk kapasitas hyperscaler, dengan lebih dari 1 triliun dolar AS dijanjikan untuk pembangunan pusat data hingga tahun 2030. Di sisi lain, muncul dorongan kuat menuju kedaulatan data dan geopatriasi, menandakan pergeseran paradigma dalam strategi cloud global.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Kedaulatan Cloud: Prioritas Utama di Tengah Risiko Keamanan
Salah satu respons paling dominan dari para ahli adalah penekanan pada pentingnya kedaulatan solusi cloud. Pelajaran berharga dari tahun 2025 menunjukkan bahwa kenyamanan dan skalabilitas hyperscaler tidak selalu sebanding dengan risiko keamanan dan potensi pemadaman layanan yang merugikan.
Chintan Patel, CTO Cisco EMEA, memprediksi, “Demand for sovereign cloud solutions will rise, along with greater reliance on regional providers and renewed interest in on-premises or air-gapped data centers.” Ia menambahkan bahwa meskipun perombakan total infrastruktur global tidak mungkin terjadi, migrasi selektif dan strategi cloud yang terdiversifikasi akan menjadi norma, menciptakan permintaan untuk talenta dan keterampilan lokal.
Insiden pemadaman layanan pada tahun 2025, khususnya yang melibatkan AWS, menyoroti kerugian dramatis yang timbul akibat hilangnya kendali atas infrastruktur informasi. Catatan Mureks menunjukkan, adopsi penyimpanan cloud non-berdaulat telah mengalami stagnasi, sebuah tren yang diperkirakan akan terus berlanjut.
Emma Dennard, Vice President Northern Europe di OVHcloud, menegaskan, “Make no mistake: this is a paradigm shift. Organizations are realising that not having sovereign cloud – for certain workloads and applications – is an operational risk.” Menurutnya, hal ini mendorong lebih banyak organisasi untuk membangun sistem cloud-native dan portabel secara default, yang memudahkan perpindahan aplikasi antar cloud, memitigasi risiko, dan mengoptimalkan biaya.
AI: Antara Siklus Hype dan Kebutuhan Infrastruktur Nyata
Pembahasan mengenai prediksi komputasi awan tidak dapat dilepaskan dari peran kecerdasan buatan. Cloud dan AI saling terkait erat, dengan peningkatan dramatis permintaan layanan cloud yang secara langsung berhubungan dengan jumlah data dan komputasi yang sangat besar untuk menjalankan Large Language Models (LLM) yang populer.
Sebagian besar ahli mengakui bahwa AI, khususnya Generative AI, berada di puncak siklus hype saat ini. Tingkat penggunaan dan diskursus umum seperti ini diperkirakan tidak akan berlanjut dalam jangka panjang. Namun, hal ini tidak berarti teknologi tersebut akan berhenti berkembang.
Rob Coupland, CEO Pulsant, menjelaskan, “As the hype settles, businesses are starting to evaluate real-world AI uses and determine what digital infrastructure is truly needed to support their AI goals. This also brings inference AI and sovereign AI into the picture, further complicating the landscape, with Edge computing emerging as a key beneficiary.” Ia menambahkan, “Although hyperscale demand will no doubt continue, demand for specialised, inference-optimized storage platforms will become more significant.”
Model LLM yang lebih besar, non-proprietary, dan serbaguna cenderung kurang aman dan kurang andal bagi perusahaan secara keseluruhan. Oleh karena itu, model yang lebih kecil, sering disimpan secara lokal, menjadi lebih populer, yang berarti penyimpanan dan komputasi on-premise akan kembali menjadi lebih signifikan.
Gelembung AI dan Beban Energi Global
Pembicaraan tentang “gelembung AI” telah beredar selama berbulan-bulan, dengan para ahli memperingatkan potensi “koreksi pasar yang tajam” saat gelembung ini pecah. Mengingat sebagian besar pasar, dan bahkan pertumbuhan ekonomi AS, dapat diatribusikan pada kecerdasan buatan, kekhawatiran yang muncul dari kemungkinan pecahnya gelembung ini sangat signifikan.
Namun, kekhawatiran finansial bukanlah satu-satunya pertimbangan. AI mengonsumsi daya dalam jumlah besar, dan dengan sumber energi di seluruh dunia yang sudah berjuang untuk memenuhi permintaan yang meningkat, ini menimbulkan bahaya serius untuk tahun 2026 dan seterusnya.
Taco Engelaar, SVP dan Managing Director Neara, menyatakan, “Investment has poured into new data center developments to power global AI ambitions, but the energy systems required to support them are on their knees.” Ia melanjutkan, untuk meningkatkan kapasitas pusat data baru, pembuat kebijakan mengusulkan ekspansi jaringan yang ekstensif; tetapi jika sejarah menjadi acuan, oposisi publik dapat menghentikannya.
Melihat ke Depan: Cloud yang Lebih Lokal dan Terkendali
Banyak prediksi menarik untuk tahun 2026, beberapa positif, beberapa sedikit lebih skeptis. Yang pasti adalah komputasi awan akan menjadi bagian integral dari perusahaan ke depan, baik dalam kapasitas global maupun lokal. Peningkatan permintaan data dan daya yang disebabkan oleh AI kemungkinan akan membebani layanan publik dan jaringan energi. Sementara itu, pemadaman global dan insiden keamanan mendorong organisasi menuju infrastruktur lokal dengan transparansi, kontrol, dan kepatuhan yang lebih ketat.






