Olahraga

John Herdman Resmi Latih Timnas Indonesia: Mampukah Taklukkan ‘Hantu’ Pesimisme Sepak Bola?

Hari yang dinanti oleh publik sepak bola Tanah Air akhirnya tiba. Sabtu (3/1) siang, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) secara resmi mengumumkan John Herdman sebagai pelatih baru Tim Nasional Indonesia. Pengumuman ini, meski telah santer beredar sejak Desember 2025, tetap memicu riuh di lini masa media sosial.

Herdman, seorang pria berkebangsaan Inggris, mungkin bukan nama yang familiar di kancah sepak bola global. Namun, di Kanada, namanya harum berkat torehan prestasi yang signifikan. Kisah kepelatihannya bersama tim nasional Kanada, yang berlangsung dari 8 Januari 2018 hingga 28 Agustus 2023, menjadi cerminan akan proses dan kepercayaan yang kuat.

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Saat Herdman mengambil alih, Les Rouges, julukan timnas Kanada, berada di peringkat ke-95 FIFA pada Januari 2018 dan belum pernah lolos ke Piala Dunia sejak 1986. Lima tahun berselang, saat ia berpisah pada 2023, Kanada telah bertengger di peringkat ke-43 FIFA. Puncaknya, pada 2022, Kanada berhasil tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya setelah 36 tahun penantian.

Pencapaian ini bukan semata hasil kerja Herdman seorang. Ada idealisme, inovasi, dan pertarungan gagasan yang melibatkan banyak pihak. Namun, kuncinya terletak pada kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk membangun tim dari nol.

Setidaknya, ada sedikit kesamaan antara Kanada dan Indonesia. Kedua negara ini sama-sama memiliki wilayah yang luas, namun budaya sepak bolanya belum solid. Mureks mencatat bahwa, seperti Kanada di masa lalu, Indonesia memiliki banyak bakat yang belum sepenuhnya terpoles.

Tugas Herdman di Timnas Indonesia adalah meracik sumber daya manusia yang ada menjadi sebuah mesin berdaya dobrak. Ia berperan sebagai konseptor cerdik dalam medan pertarungan sepak bola. Jika Herdman diminta untuk menjuarai Piala AFF 2026, rasanya itu adalah target yang sah. Namun, ada ‘hantu-hantu’ yang menolak diam dan akan senantiasa memelototinya.

Melawan Budaya Pesimisme

Siapa ‘hantu’ itu? Mungkin saja itu adalah budaya pesimisme yang telah lama mengakar dalam sepak bola Indonesia. Sebuah ideologi ‘macan Asia’ yang entah kapan masa emasnya, kini perlu dibangun kembali rasa percaya yang sempat hilang pada 2025.

Sebelumnya, tim nasional putri Kanada kerap disebut ‘struggling squad’ atau tim yang payah sebelum kedatangan John Herdman pada 2011. Saat itu, Herdman baru berusia 36 tahun, namun Federasi Sepak Bola Kanada (CSA) melihat potensi besar pada dirinya, terutama setelah kiprahnya bersama tim nasional putri Selandia Baru.

Sebelum Herdman, Selandia Baru tidak lolos ke Piala Dunia Putri dalam tiga edisi beruntun. Kurang dari setahun di bawah asuhannya, Selandia Baru kembali lolos ke turnamen tertinggi tersebut dan dua kali tampil di Piala Dunia (2007 dan 2011) di era Herdman. Selepas Piala Dunia, ia menerima tantangan CSA untuk mengangkat sepak bola putri Kanada.

Bersama Herdman, Kanada berhasil meraih dua medali perunggu Olimpiade. Fondasi yang ia bangun bahkan mengantarkan Kanada meraih medali emas Olimpiade untuk pertama kalinya pada 2020.

Ketika Herdman direposisi menjadi pelatih tim putra pada 2018, cibiran datang. Banyak yang menilai sepak bola putri tidak sama dengan putra, dan CSA dianggap salah langkah. Namun, sejarah mencatat, Herdman berhasil menciptakan sejarah positif yang abadi dalam histori sepak bola Kanada.

Satu hal yang sama-sama diperangi Herdman dari tim nasional putri Selandia Baru, tim nasional putri Kanada, dan tim nasional putra Kanada adalah budaya pesimisme pelaku sepak bola. Sejarah yang berlumur kegagalan kerap menimbulkan inferioritas; rasa kalah sebelum melangkah; tidak percaya pada bakat yang ada; dan memandang lawan lebih hebat.

Pada titik itulah Herdman masuk. Ia bertarung dengan isi kepala dan pergolakan batin para pemain, menjadikan ruang pertemuan sebagai sarana intensif untuk melakukan indoktrinasi konsepsi kebahagiaan. Tentu saja ini bukan hal mudah, melainkan sebuah proses yang panjang dalam merangkai program dan menjalankan peta jalan yang dirancang federasi.

Timnas Indonesia, rasa-rasanya, memiliki kemiripan dengan Selandia Baru atau Kanada di masa lalu: kehilangan kepercayaan diri dan pesimistis. Sejarah kegagalan lebih banyak mewarnai negeri ini dibanding kisah sukses.

Bisakah John Herdman, yang kini kian matang di usia 50 tahun, melepas pemikiran senja sepak bola Indonesia? Selalu ada fajar, seperti habis gelap terbitlah terang, yang bisa digoreskan Herdman untuk sepak bola Tanah Air.

Mureks