Insiden tendangan brutal di Liga 4 Jawa Timur yang menyebabkan seorang pemain mengalami patah tulang rusuk kini menjadi sorotan media olahraga raksasa Italia, La Gazzetta dello Sport. Kejadian mengejutkan ini terjadi pada laga PS Putra Jaya Pasuruan melawan Perseta Tulungagung di Gelora Bangkalan, Madura, Senin (5/1/2026).
La Gazzetta dello Sport, melalui akun media sosialnya, menyoroti insiden tersebut dengan menyebutnya sebagai “kejadian mengejutkan dari Indonesia”. Media yang telah berdiri sejak 1896 itu secara spesifik menulis, “seorang pemain sepak bola Perseta 1970 menjalani salah satu hal terburuk dan paling berbahaya yang pernah ada, menderita patah tulang rusuk.”
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Kronologi Insiden dan Sanksi Tegas PSSI
Dalam pertandingan babak 32 besar Zona Jawa Timur tersebut, pemain PS Putra Jaya, Muhammad Hilmi Gimnastiar, dengan sengaja menendang dada pemain Perseta, Firman Nugraha, saat perebutan bola. Akibat tendangan tersebut, Firman Nugraha dilaporkan mengalami patah tulang rusuk.
Menanggapi insiden serius ini, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) langsung mengambil tindakan tegas. Muhammad Hilmi Gimnastiar dijatuhi sanksi larangan bermain sepak bola seumur hidup. Ketua Komite Disiplin (Komdis) PSSI, Umar Husni, menyatakan kegeramannya atas insiden tersebut.
“Kami mengimbau kepada teman-teman yang menjadi Panitia Disiplin atau berperan sebagai Komite Disiplin di semua tingkatan liga untuk tidak ragu-ragu menghukum pihak-pihak yang melakukan pelanggaran-pelanggaran yang keras, brutal, sehingga tidak mengganggu jalannya kompetisi,” tegas Umar dalam keterangan yang diterima Mureks.
Sanksi seumur hidup ini diharapkan menjadi efek jera bagi para pemain agar menjunjung tinggi sportivitas dan menghindari tindakan kekerasan di lapangan. Catatan Mureks menunjukkan, insiden kekerasan di liga-liga amatir kerap menjadi perhatian dan memerlukan penanganan serius dari federasi.
Reaksi Publik dan Media Internasional
Pemberitaan oleh La Gazzetta dello Sport ini memicu berbagai reaksi dari warganet Indonesia. Banyak netizen yang menyayangkan insiden tersebut harus menjadi konsumsi media internasional, mencoreng citra sepak bola nasional.
Insiden ini menambah daftar panjang catatan kelam di kompetisi sepak bola Indonesia, terutama di level liga amatir. PSSI terus berupaya meningkatkan kualitas dan profesionalisme penyelenggaraan liga di semua tingkatan.






