Gelombang kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) asal China yang agresif, didukung harga sangat kompetitif dan kualitas inovatif, kini menempatkan industri otomotif tradisional Eropa di ambang ujian eksistensial paling serius. Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar, mengingat pabrikan China berhasil menyalip kompetitor Eropa dalam skala produksi, efisiensi biaya, dan inovasi teknologi.
Harga beberapa model EV China di pasar Eropa bahkan tercatat hanya sekitar 10.290 Euro, atau setara Rp 180 juta, jauh di bawah rata-rata produk lokal. Kondisi ini memicu keputusasaan di kalangan veteran industri.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
“Saya pikir industrinya sudah tamat,” ujar Tomas (bukan nama sebenarnya), mantan manajer senior sebuah perusahaan multinasional Italia di bidang interior mobil, yang memutuskan keluar dari industri otomotif pada musim gugur 2025, melansir dari RFE/RL, Senin (05/01/2025).
Tomas menggambarkan kecepatan perubahan yang terjadi. “Dalam lima tahun, mereka (China) melampaui kita. Mobil-mobil mereka sekarang luar biasa,” tambahnya kepada RFE/RL.
Penjualan Melonjak di Tengah Tarif Uni Eropa
Ancaman ini semakin nyata meskipun Uni Eropa telah memberlakukan tarif tambahan hingga 35% untuk EV impor China sejak 2024. Mureks mencatat bahwa penjualan kendaraan China di Eropa justru hampir melonjak dua kali lipat antara 2024 dan 2025. Lebih dari setengah juta unit terjual hanya dalam sembilan bulan pertama tahun 2025.
Raksasa EV asal China, BYD, melaporkan kenaikan penjualan tahunan sebesar 225% dan sempat menjadi penjual EV teratas di pasar UE pada beberapa bulan di 2025. Sementara itu, pabrikan China lainnya menghindari tarif dengan mengekspor kendaraan bermesin pembakaran internal dan hybrid, yang tidak dikenakan bea yang sama.
Faktor Pendorong Dominasi China
Kesuksesan gempuran China ini didorong oleh kombinasi faktor yang sempurna. Selain energi dan tenaga kerja yang relatif murah, industri otomotif China mendapat keuntungan dari skala ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Negeri Tirai Bambu telah menjadi eksportir mobil terbesar di dunia, dengan produksi puluhan juta unit per tahun.
Perang harga sengit di pasar domestik China mendorong para produsen untuk mencari pasar baru di luar negeri. Ditambah dengan larangan impor baja Uni Eropa dari Rusia pasca-invasi Ukraina 2022, China justru meningkatkan impor logam berkualitas tinggi dari Rusia, memberikan keunggulan biaya bahan baku.
Isu subsidi pemerintah Beijing juga terus menjadi sorotan. Investigasi Uni Eropa tahun 2024 menemukan indikasi aliran dana publik di seluruh rantai pasokan industri otomotif China, mulai dari pertambangan bahan baku hingga pengiriman mobil jadi. Amerika Serikat bahkan telah memberlakukan tarif 100% atas EV China dengan alasan serupa.
Paul Bennet, Managing Partner di firma konsultan otomotif Madox Square, Inggris, melihat dimensi yang lebih luas dari strategi ini.
“Secara keseluruhan, sementara manfaat ekonominya jelas, aspek geopolitik dari strategi ini tidak boleh diabaikan. Ini kemungkinan bagian dari upaya China yang lebih luas untuk membentuk kembali dinamika ekonomi global,” ujarnya dilansir kembali dari RFE/RL.
Strategi “Dalam Kandang” dan Implikasi Jangka Panjang
Menghadapi tekanan tarif, pabrikan China bergerak cepat dengan strategi “dalam kandang” atau lokalisasi produksi. Mereka membangun pabrik di dalam wilayah Uni Eropa agar produknya bebas dari bea masuk yang memberatkan. BYD, misalnya, sedang membangun pabrik senilai $4,6 miliar di Hungaria. Di Barcelona, mobil sudah diproduksi oleh joint venture antara Ebro-EV Motors Spanyol dan Chery China. Pembicaraan untuk pabrik serupa juga berlangsung di Italia dan Polandia.
Bennet mendesak pembuat mobil Eropa untuk mendorong Komisi Eropa mewajibkan joint venture dengan kepemilikan mayoritas dipegang merek Eropa jika perusahaan China ingin berproduksi di UE. Langkah ini dianggap penting untuk melindungi teknologi dan lapangan kerja lokal.
Ancaman ini bukan hanya soal persaingan pasar. Lebih dari 13 juta orang bekerja langsung di industri otomotif Eropa, dengan jutaan lagi di bisnis pendukungnya. Tomas, sang veteran industri, mengkhawatirkan efek domino yang lebih dalam.
“Ini konsekuensi yang jauh lebih besar dari yang bisa kita bayangkan sekarang, seperti hilangnya swasembada industri dan pengetahuan (know-how), yang mengarah ke risiko keamanan yang besar di masa depan,” katanya.
Sektor otomotif, imbuhnya, tetap menjadi penggerak industri terbesar dan tempat bernaung bagi para insinyur muda, yang nantinya berkarier di bidang pertahanan, riset, dan pengembangan.
Waktu untuk merespons secara efektif semakin menipis. Bennet menulis pada September lalu bahwa masa depan industri otomotif benua itu kini “tergantung pada keseimbangan yang rapuh”. Sementara Tomas, meski pesimis, masih menyimpan harapan.
“Saya harap saya salah. Saya sangat berharap saya salah,” ujarnya.
Perlawanan Eropa menentukan bukan hanya nasib mobil-mobil ikonisnya, tetapi juga masa depan kemandirian industri dan stabilitas ekonomi kawasan tersebut. Pertarungan di jalanan Eropa telah bergeser dari ruang mesin ke arena geopolitik dan inovasi.






