Sebuah perjalanan spiritual dan lintas budaya terangkum apik dalam buku “Dicahayai Energi Masjid-Masjid Dunia” karya Hanan Nugroho. Buku ini mengajak pembaca menyelami makna rumah, tanah air, dan jati diri melalui penjelajahan dari satu masjid ke masjid lain, melintasi kota dan benua.
Hanan Nugroho, yang dikenal sebagai ahli perencana utama dan penulis produktif di bidang energi, kebijakan publik, serta pembangunan, menampilkan sisi berbeda dalam karyanya kali ini. Ia menanggalkan gaya teknokratisnya, memilih narasi yang ringan, personal, dan penuh rasa. Masjid-masjid yang dikunjungi bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan jangkar spiritual dan sosial yang memungkinkan seseorang tetap merasa Indonesia, meski berada ribuan kilometer dari tanah air.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Perjalanan Lintas Benua dan Budaya
Buku ini tidak hanya menyajikan romantisme spiritual, tetapi juga menjadi catatan lintas budaya dan bahasa. Hanan Nugroho mengisahkan bagaimana identitas keindonesiaan diuji sekaligus dirawat di berbagai belahan dunia, mulai dari tepian Sungai Charles di Boston, hiruk-pikuk Tokyo, kota hijau Hangzhou, hingga gang-gang sempit Phnom Penh.
Bab pembuka buku ini membawa pembaca ke Boston, Amerika Serikat, melalui kisah “Setengah Marathon” sepanjang 42,2 kilometer. Pengalaman Hanan sebagai research fellow di Harvard University menjadi latar belakang saat ia menjelajahi kota, termasuk Boston Marathon yang legendaris. Di tengah atmosfer akademik kelas dunia, ia menemukan Islamic Society of Boston dan Masjid Boston Roxbury, yang menjadi ruang inklusif bagi mahasiswa dari Harvard, Boston University, hingga MIT untuk bersujud dan membangun kebersamaan.
Perjalanan berlanjut ke Tokyo Camii, sebuah masjid megah di Jepang yang dikenal akan keindahan arsitekturnya. Hanan menguraikan bagaimana Tokyo Camii menjadi simbol dialog budaya antara Turki, Jepang, dan umat Islam global, menunjukkan pertumbuhan Islam yang anggun di negeri minoritas Muslim.
Di bagian ketiga, pembaca diajak ke Masjid Agung Hangzhou di Tiongkok. Masjid berkubah emas ini menjadi penanda eksistensi Islam yang telah berabad-abad hadir di Tiongkok, menunjukkan bagaimana identitas keagamaan dapat bertahan dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Secara kultural, bagian keempat terasa lebih dekat dengan kisah Masjid Tuminah Hamidi di tepi Sungai Perak, Bagan Datuk, Malaysia. Di sini, Hanan menyoroti diaspora Nusantara, khususnya “Jamal” atau Jawa Malaysia, yang memperlihatkan kuatnya akar persaudaraan lintas generasi di negeri jiran.
Kisah berlanjut ke Kamboja, sebuah negeri yang pernah dilukai sejarah kelam era Pol Pot. Hanan menyempatkan salat Jumat di Masjid Al-Sekal, masjid terbesar di Kamboja. Dengan sekitar 900 masjid di negeri itu, Islam hidup dalam kesederhanaan, dan munajat doa tak bersahaja menjadi saksi keteguhan iman di tengah keterbatasan.
Perjalanan ditutup dengan “Pesan Mas dari Masjid Itaewon” di Seoul, Korea Selatan. Di kawasan kosmopolit dan multikultural ini, Masjid Itaewon menjadi ruang aman bagi imigran Muslim, pekerja, mahasiswa, dan wisatawan. Hanan menemukan pesan kuat tentang persaudaraan global dan pentingnya saling menguatkan di negeri orang.
Refleksi dan Rekomendasi
Secara keseluruhan, buku “Dicahayai Energi Masjid-Masjid Dunia” merupakan pengelanaan penuh makna yang disampaikan dengan gaya renyah dan tidak menggurui. Buku ini bukan panduan wisata, melainkan ajakan untuk berkelana secara fisik dan batin, menyadari bahwa di mana pun kita berada, selalu ada ruang untuk “pulang” sebagai wujud akar yang kokoh. Dalam ringkasan Mureks, buku ini sangat relevan bagi generasi muda untuk menumbuhkan semangat berkelana.
Meskipun demikian, Tatang Muttaqin, seorang Fellow di Groningen Research Centre for Southeast Asia and ASEAN, dalam ulasannya pada Minggu, 11 Januari 2026, memberikan beberapa catatan. Menurutnya, beberapa cerita terasa terlalu singkat, sehingga potensi emosi, dialog, dan detail lokal belum tergali maksimal. Transisi antarbab juga dapat diperhalus agar alur lebih koheren. Pengayaan konteks sejarah masjid dan komunitas Muslim setempat, serta refleksi penutup di setiap bab, dinilai akan menambah kedalaman dan pesan yang lebih utuh bagi pembaca.
Terlepas dari catatan tersebut, buku ini tetap direkomendasikan bagi generasi muda agar bersemangat berkelana, memahami arti menjadi insan, dan tetap menjadi Indonesia di mana pun mereka berada.






