Teknologi

Grok AI Elon Musk Tuai Kecaman Global Usai Hasilkan Konten Seksual Anak di X, India dan Prancis Selidiki

Chatbot kecerdasan buatan (AI) Grok besutan xAI, perusahaan milik Elon Musk, kembali menuai sorotan tajam. Kali ini, Grok dilaporkan menghasilkan gambar yang mengarah pada seksualisasi anak, memicu kecaman luas dari pengguna platform X serta perhatian serius dari pemerintah India dan Prancis yang menyatakan akan melakukan penyelidikan.

Insiden ini terjadi setelah Grok merespons permintaan pengguna dengan memproduksi gambar anak di bawah umur dalam pakaian minim. Unggahan-unggahan yang menampilkan konten tersebut sempat beredar di lini masa X sepanjang masa liburan, memicu gelombang kritik.

Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id

Menanggapi laporan tersebut, Grok secara otomatis membalas salah satu unggahan pengguna di X, menyatakan bahwa pihaknya “sedang segera memperbaiki” masalah tersebut. Chatbot itu juga menegaskan bahwa materi pelecehan seksual anak adalah ilegal dan dilarang keras. Dalam balasan lain, Grok bahkan mengunggah pesan yang menyebut “perusahaan dapat menghadapi sanksi pidana atau perdata jika dengan sengaja memfasilitasi atau gagal mencegah konten semacam ini.” Namun, Mureks mencatat bahwa ini bukan pernyataan resmi dari perusahaan, melainkan respons yang dihasilkan oleh chatbot AI itu sendiri.

Selang beberapa waktu, staf teknis xAI, Parsa Tajik, mengakui adanya masalah ini. “Hai, terima kasih sudah melaporkannya. Tim sedang mempertimbangkan untuk mengetatkan pengamanan kami lebih lanjut,” tulis Tajik melalui akun X-nya.

Selain kecaman dari pengguna, para pejabat di India dan Prancis juga menyoroti kejadian ini dan berencana melakukan penyelidikan. Sementara itu, Federal Trade Commission (FTC) menolak memberikan komentar terkait kasus tersebut. Beberapa pihak menduga, masalah ini berkaitan dengan fitur “Edit Gambar” di X yang memungkinkan pengguna mengubah foto yang diunggah orang lain melalui perintah teks tanpa memerlukan persetujuan dari pengunggah asli.

Rentetan Kontroversi Grok Sebelumnya

Insiden konten seksualisasi anak ini menambah panjang daftar kontroversi yang melibatkan Grok. Sebelumnya, pada Mei 2025, chatbot ini sempat memunculkan komentar tidak diminta terkait isu “genosida kulit putih” di Afrika Selatan. Dua bulan kemudian, Grok kembali membuat masalah dengan memposting komentar anti-Semit dan memuji Adolf Hitler.

Mureks juga mencatat bahwa Grok pernah dilaporkan menyebarkan informasi keliru terkait peristiwa mematikan di Pantai Bondi, Sydney, Australia, pada Desember 2025. Tragedi penembakan massal yang menewaskan belasan orang dalam acara perayaan Hanukkah itu diperkeruh oleh Grok yang memberikan jawaban tidak relevan, salah konteks, dan mencampuradukkan fakta.

Misalnya, saat seorang pengguna menanyakan latar belakang video yang menampilkan Ahmed al Ahmed (43) melumpuhkan pelaku, Grok mengklaim video tersebut adalah rekaman lama tentang seorang pria yang memanjat pohon palem. Chatbot itu bahkan menyebut keaslian video tidak pasti. Kesalahan lain muncul ketika Grok menyebut foto Ahmed al Ahmed yang terluka sebagai gambar sandera Israel yang diculik Hamas pada 7 Oktober 2025.

Tidak hanya itu, Grok juga menggambarkan video baku tembak antara pelaku dan polisi Sydney sebagai rekaman dampak Topan Tropis Alfred yang melanda Australia awal 2025. Meskipun dalam kasus ini pengguna mempertegas tanggapannya dan Grok akhirnya menyadari kesalahannya.

Sepanjang Minggu pagi waktu setempat, Grok juga dilaporkan salah mengidentifikasi pemain sepak bola terkenal, memberikan informasi tentang penggunaan asetaminofen selama kehamilan ketika ditanya tentang pil aborsi mifepristone, hingga membahas Project 2025 dan peluang Kamala Harris maju kembali sebagai presiden Amerika Serikat (AS), ketika diminta untuk memverifikasi klaim yang sama sekali terpisah yang dibuat tentang inisiatif penegakan hukum Inggris. Grok juga tertukar antara insiden penembakan di Pantai Bondi dengan penembakan di Brown University yang terjadi selang beberapa jam sebelum tragedi di Australia.

Hingga kini, penyebab gangguan tersebut belum diketahui. xAI selaku pengembang Grok hanya merespons dengan balasan otomatis “Legacy Media Lies”.

Fitur Baru Grok Imagine: Teks ke Video

Di tengah berbagai kontroversi, xAI juga meluncurkan fitur baru bernama Grok Imagine. Fitur ini memungkinkan pengguna membuat video kreatif berbasis AI hanya dengan mengetikkan perintah teks, serupa dengan mengunggah postingan biasa. Elon Musk mengumumkan kemampuan baru ini di X.

Diluncurkan secara bertahap di web, aplikasi Android, dan iOS sejak awal Desember 2025, Grok Imagine memungkinkan pengguna mengetik perintah seperti “sebuah motor melaju kencang di tengah kota yang diterangi lampu neon saat malam hari” untuk menghasilkan video pendek berisi visual, gerakan, dan suara. Pengguna dapat memilih mode gambar dan video langsung dari kolom input yang sama, memudahkan peralihan.

Fitur ini mampu menghasilkan video berdurasi hingga 10 detik berdasarkan prompt yang diberikan, cocok untuk klip media sosial kreatif seperti meme atau promo singkat. Keunggulan Grok adalah kemudahan integrasi semua proses pembuatan video dalam satu aplikasi chatbot, baik di perangkat maupun web, menjadikannya praktis bagi kreator pemula atau pengguna yang ingin bereksperimen.

Mureks