Google dikabarkan tengah menguji coba sebuah fitur baru di Play Store yang berpotensi mengubah cara pengguna berinteraksi dengan game berbayar. Fitur bernama “Try before you buy” atau “Coba Sebelum Beli” ini memungkinkan pengguna Android untuk menjajal game premium secara gratis dalam periode waktu terbatas sebelum memutuskan untuk membeli.
Pembaruan ini teridentifikasi dalam Google Play Store versi 49.6.19-29. Selama ini, sebagian besar game di platform tersebut mengandalkan pembelian dalam aplikasi. Namun, ada pula sejumlah game premium yang mengharuskan pembayaran satu kali di awal. Model pembayaran ini, meski menawarkan kenyamanan tanpa iklan dan transaksi tambahan, seringkali menimbulkan keraguan karena pengguna tidak dapat mencoba game terlebih dahulu.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Solusi Google untuk Dilema Game Berbayar
Saat ini, Google telah menyediakan fitur uji coba gratis untuk layanan berlangganan, namun belum mencakup aplikasi atau game dengan sistem pembelian satu kali. Kondisi ini mendorong pengembang mencari solusi alternatif.
- Versi Demo Terpisah: Beberapa pengembang membuat versi demo terpisah agar pengguna bisa mencoba sebagian fitur game. Namun, pendekatan ini menimbulkan masalah seperti data unduhan, penilaian, dan ulasan yang tidak terintegrasi dengan aplikasi utama. Selain itu, progres permainan tidak dapat dilanjutkan ke versi penuh, dan pengembang harus memelihara dua aplikasi sekaligus.
- Kebijakan Pengembalian Dana: Alternatif lain adalah memanfaatkan kebijakan pengembalian dana Google dalam dua jam pertama setelah pembelian. Sayangnya, tidak semua pengguna mengetahui kebijakan ini, dan harga awal yang harus dibayar sering menjadi hambatan psikologis.
Melalui fitur “Try before you buy”, Google berupaya menghilangkan keraguan tersebut. Pengguna nantinya dapat menjajal game secara utuh dalam periode uji coba gratis yang ditentukan oleh pengembang. Masa uji coba akan mulai dihitung saat game pertama kali dijalankan, memberikan akses penuh terhadap fitur dan alur permainan. Setelah waktu uji coba berakhir, pengguna dapat melanjutkan permainan dengan membeli game tanpa kehilangan data atau progres. Kesempatan uji coba kemungkinan dibatasi satu kali untuk setiap judul bagi satu akun.
Fitur ini bersifat opsional bagi pengembang dan indikasi awal menunjukkan bahwa fasilitas ini hanya tersedia untuk kategori game, belum mencakup aplikasi non-game. Meski belum diumumkan secara resmi, kehadiran fitur ini dinilai dapat memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak: pengguna memiliki ruang untuk menilai kualitas game, sementara pengembang berpeluang menarik lebih banyak pemain.
Google Juga Hapus Ratusan Aplikasi Berbahaya dari Play Store
Dalam catatan Mureks, Google juga sebelumnya telah mengambil tindakan tegas dengan menghapus lebih dari 350 aplikasi dari Play Store. Penghapusan ini dilakukan setelah tim riset Satori dari Human Security mengungkap skema penipuan iklan berskala besar yang dikenal sebagai IconAds.
Operasi jahat ini diperkirakan menghasilkan satu miliar permintaan iklan setiap harinya. Aplikasi-aplikasi tersebut, meskipun telah ditarik dari toko aplikasi, tetap akan ditemukan di perangkat pengguna yang telah menginstalnya sebelum penghapusan. Pengguna diimbau untuk menghapusnya secara manual karena aplikasi tidak akan menghapus diri sendiri secara otomatis, sebagaimana dikutip dari Gizchina pada Senin (7/7/2025).
Skema penipuan iklan IconAds menggunakan taktik sederhana namun efektif: aplikasi dikemas ulang, menggunakan nama menyesatkan, ikon yang meniru aplikasi resmi, dan proses latar belakang yang membanjiri jaringan iklan dengan trafik palsu. Beberapa aplikasi bahkan menggunakan ikon yang meniru logo Play Store itu sendiri. Meskipun praktik semacam ini bukan hal baru atau terlalu canggih, volume operasinya yang sangat besar—ratusan aplikasi dengan ribuan varian yang dialihkan melalui domain untuk mempersulit pelacakan—menjadi sorotan.
Infrastruktur ini terkoordinasi dengan baik dengan tujuan utama keuntungan finansial melalui pembuatan tayangan palsu, menjalankan iklan tersembunyi, dan menagih pengiklan. Para peneliti Satori menjelaskan bahwa aplikasi-aplikasi ini dirancang agar terlihat tidak berbahaya atau mudah dilupakan. Setelah terinstal, mereka akan berbaur dan diam-diam menjalankan proses di latar belakang yang mungkin tidak disadari oleh sebagian besar pengguna. Meskipun Google telah menghapus aplikasi-aplikasi tersebut, fitur Play Protect tidak secara otomatis membersihkan perangkat yang terinfeksi, sehingga tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan pengguna.






