Industri fotografi telah mengalami perkembangan pesat dalam 18 bulan terakhir, mengejutkan bahkan para jurnalis dan pengamat paling berpengalaman. Dari peluncuran Global Shutter pada Sony A9 III, hingga kehadiran Canon EOS R1 yang dinanti, serta pengumuman mengejutkan bahwa Affinity Photo kini gratis, banyak perubahan signifikan terjadi dalam waktu singkat.
Fenomena lain yang tak kalah mencolok adalah kebangkitan kecerdasan buatan (AI) yang memicu perdebatan tentang masa depan ranah kreatif. Peter Fenech, seorang fotografer berpengalaman dan pengulas perangkat kamera, mengungkapkan pandangannya mengenai arah yang ia harapkan dari industri ini pada tahun 2026.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Kamera Impian untuk 2026: Sentuhan Retro Modern
Fenech memiliki impian akan kamera digital mirrorless bergaya retro, mirip dengan Canon SLR klasik seperti AE-1 Program atau F-1. Konsep ini bukan hal baru; Fujifilm telah sukses dengan model seperti X-T5, X-T30III, dan X100VI yang memadukan pesona masa lalu dengan fitur modern.
Nikon juga mengikuti tren ini dengan Nikon Z fc dan Nikon Z f. Menurut Mureks, tren kamera retro ini menunjukkan adanya pasar yang signifikan bagi para fotografer yang menginginkan estetika klasik dengan teknologi terkini.
Fenech berharap Canon segera menghadirkan kamera serupa, dilengkapi dengan RF Mount kontemporer dan fitur-fitur canggih dari kamera Canon terbaik tahun 2025, seperti autofokus Canon EOS R3, performa cahaya rendah Canon EOS R6 Mark III, atau resolusi tinggi Canon EOS R5 Mark II. Ia membayangkan kamera ringkas dengan profil tipis, sensor full-frame atau APS-C, serta akses ke jajaran lensa RF berkualitas.
Lensa Pihak Ketiga: Perluasan Pilihan untuk Mirrorless
Selain kamera, Fenech juga menyoroti kebutuhan akan lebih banyak lensa pihak ketiga untuk mount mirrorless utama, khususnya Canon RF dan Nikon Z. Meskipun Sony E Mount memiliki pasokan lensa yang melimpah dari pihak ketiga, opsi untuk pengguna Canon dan Nikon masih terbatas.
Ia secara spesifik berharap Irix dan Tokina dapat menghadirkan lensa mereka untuk RF mount. Lensa Irix seri Dragonfly, misalnya, akan menawarkan pilihan lensa manual fokus dengan aperture lebar dan harga kompetitif bagi pengguna Canon. Sementara itu, lensa Tokina FÃRIN yang sudah tersedia untuk Sony E Mount, bisa menjadi tambahan berharga untuk kamera Canon APS-C, terutama jika Canon meluncurkan model retro.
Namun, Fenech mencatat bahwa Canon perlu membuka akses bagi pihak ketiga untuk membuat lensa full-frame, karena saat ini lensa pihak ketiga untuk mirrorless Canon hanya tersedia untuk kamera APS-C (RF-S).
Mendesain Ulang Kamera dan Lensa
Fenech juga menyerukan pemikiran ulang dalam desain kamera dan lensa. Ia berpendapat bahwa produsen memiliki lebih banyak kebebasan untuk berkreasi dengan tata letak kontrol di era digital. Ia mencontohkan lini Sigma BF atau Sigma FP yang menawarkan arah baru dalam desain kamera modular.
Ia berharap ada pengembangan lebih lanjut dari konsep sistem kamera modular, yang memungkinkan fotografer membangun kamera sesuai gaya mereka. Fenech menginginkan lebih banyak kamera dan lensa dengan karakter unik, bukan hanya fokus pada kualitas absolut, seperti yang terlihat pada kamera dan lensa Leica.
Fitur yang Diinginkan dan Dihindari
Meskipun tidak terlalu antusias dengan pelacakan subjek berbasis AI generasi terbaru, Fenech berharap fitur-fitur yang sudah ada dapat diterapkan secara lebih luas. Salah satunya adalah slot kartu memori universal.
Ia menginginkan kamera dengan slot ganda yang menerima format kartu yang sama, seperti Canon EOS R6 Mark II dan Fujifilm X-T5. Ia mengkritik model seperti Nikon Z6 III atau Nikon Z8 yang mencampur slot CFexpress dan SD, yang dianggapnya merepotkan. Kamera Sony A7 VI, A7 V, dan A7R V yang memiliki slot ganda untuk kedua jenis kartu dianggap sebagai solusi yang lebih baik.
Fitur lain yang ia harapkan menjadi standar adalah memori internal, seperti yang ditemukan pada Leica M11.
Di sisi lain, Fenech juga menguraikan apa yang tidak ia inginkan. Ia berharap Leica M12 yang mungkin hadir pada tahun 2026 tidak menyimpang dari desain M-system yang sudah mapan, khususnya dengan tidak menyertakan electronic viewfinder (EVF) yang dianggapnya menghilangkan esensi rangefinder.
Mengenai AI, Fenech lebih suka AI tidak terlalu masuk ke kamera level konsumen. Ia menekankan pentingnya membedakan fotografi tradisional sebagai bentuk seni dengan daya tarik komersial dan kenyamanan berbasis AI. Namun, ia melihat potensi AI untuk membantu fotografer profesional, misalnya fitur retouching otomatis dalam kamera untuk menghilangkan noda, yang dapat menghemat waktu kerja.
Daftar Keinginan Peter Fenech untuk Industri Kamera 2026
- Kamera Canon bergaya retro
- Lensa mirrorless dari Irix dan Tokina
- Pengembangan lebih lanjut dari Sigma BF dan/atau FP
- Lebih banyak lensa Thypoch Simera (khususnya Thypoch Simera 85mm f/1.4)
- Leica M12 (dengan rangefinder)
- Slot kartu memori universal pada lebih banyak kamera
- Lebih banyak kamera dengan memori internal
- Fitur pengeditan AI dalam kamera yang praktis
- Kurangnya konsolidasi industri, lebih banyak produk dengan desain dan kualitas estetika unik.






