Olahraga

Fakta Agama Kylian Mbappé Terungkap: Kristen, Meski Berasal dari Keluarga Multikultural

Kylian Mbappé Lottin, salah satu pesepak bola terkemuka dunia, tak hanya menjadi sorotan karena kehebatannya di lapangan hijau. Kehidupan pribadinya, terutama mengenai keyakinan agama yang dianutnya, kerap memicu rasa penasaran publik dan menjadi topik hangat di berbagai platform.

Latar Belakang Keluarga Multireligius Sang Bintang

Untuk memahami konteks kepercayaan Mbappé, penting untuk menelusuri silsilah keluarganya. Penyerang cepat ini lahir dan besar di Bondy, pinggiran kota Paris yang dikenal dengan keberagaman etnis dan budayanya. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat toleran, di mana perbedaan keyakinan justru menjadi perekat.

Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Ayahnya, Wilfrid Mbappé, adalah pria keturunan Kamerun yang menganut agama Kristen. Sementara itu, ibunya, Fayza Lamari, merupakan wanita keturunan Aljazair (Kabyle) yang beragama Islam. Perbedaan keyakinan kedua orang tuanya tidak menghalangi keharmonisan keluarga, melainkan membentuk karakter Mbappé menjadi pribadi yang terbuka dan menghargai perbedaan.

Klarifikasi Agama Kylian Mbappé

Meskipun memiliki ibu seorang Muslim, Kylian Mbappé diketahui mengikuti keyakinan sang ayah. Berdasarkan berbagai sumber terpercaya dan rekam jejak pendidikannya, agama Mbappé adalah Kristen. Hal ini diperkuat oleh riwayat pendidikannya di masa kecil, di mana ia menempuh pendidikan di sekolah swasta Katolik, Institution Bel-Air, di Fontenay-sous-Bois.

Di sekolah tersebut, Mbappé tidak hanya mendapatkan pendidikan akademis, tetapi juga pembentukan karakter spiritual sesuai ajaran Kristiani. Dalam sebuah wawancara dengan media Prancis, Mbappé pernah mengungkapkan bahwa dirinya adalah seorang penganut Kristen yang taat, namun ia jarang memamerkan ritual keagamaannya di media sosial karena menganggap hal tersebut sebagai ranah privasi.

Spekulasi Publik dan Nilai Toleransi

Seringkali terjadi kesalahpahaman di kalangan penggemar yang mengira Mbappé adalah seorang Muslim. Anggapan ini muncul karena beberapa faktor, seperti latar belakang ibunya yang berasal dari Aljazair dan lingkungan pergaulannya yang luas.

Catatan Mureks menunjukkan, Mbappé memiliki banyak sahabat dekat yang beragama Islam, seperti Achraf Hakimi, Ousmane Dembele, dan Paul Pogba. Kedekatan ini sering terlihat di lapangan maupun di luar lapangan. Selain itu, ia kerap mengucapkan selamat Idul Fitri atau Ramadan melalui akun media sosialnya, bahkan pernah tertangkap kamera mengenakan pakaian gamis (kandura) saat berkunjung ke negara-negara Timur Tengah.

Namun, penting untuk digarisbawahi bahwa tindakan-tindakan tersebut merupakan bentuk toleransi dan penghormatan Mbappé terhadap budaya serta agama teman-teman dan keluarganya (ibunya), bukan indikasi bahwa ia telah berpindah keyakinan.

Kylian Mbappé adalah contoh nyata keberhasilan pendidikan multikultural di Prancis. Tumbuh di antara dua keyakinan besar memperluas pandangannya terhadap dunia. Ia tidak segan ikut merayakan kegembiraan teman-teman Muslimnya saat lebaran, dan di sisi lain, ia juga merayakan Natal bersama keluarganya.

Dalam wawancara dengan L’Obs, Mbappé menjelaskan pandangannya tentang agama dan toleransi. Ia menegaskan bahwa keyakinan adalah urusan personal, namun menghargai orang lain adalah kewajiban universal. Sikap rendah hati dan hormat inilah yang membuatnya dicintai oleh penggemar dari berbagai latar belakang agama dan etnis di seluruh dunia.

Profil Singkat Kylian Mbappé

Nama LengkapKylian Mbappé Lottin
Tempat, Tanggal LahirParis, 20 Desember 1998
KewarganegaraanPrancis
AyahWilfrid Mbappé (Kamerun/Prancis)
IbuFayza Lamari (Aljazair/Prancis)
AgamaKristen
Posisi BermainPenyerang

Sebagai kesimpulan, meskipun isu mengenai agama Mbappé sering menjadi perdebatan di media sosial, faktanya ia adalah seorang Kristiani. Identitas agamanya tidak membatasi dirinya untuk menjalin persaudaraan erat dengan komunitas Muslim, yang juga merupakan bagian dari darah dagingnya melalui sang ibu. Sikap Mbappé mengajarkan kita bahwa perbedaan keyakinan dalam keluarga dan pergaulan justru dapat menjadi jembatan untuk saling memahami dan menghormati.

Mureks