Tahun 2026 diprediksi menjadi periode krusial bagi lanskap keamanan siber di seluruh kawasan Asia Pasifik (APAC). Dorongan masif untuk mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI), termasuk proyeksi pertumbuhan enam kali lipat di Indonesia hingga tahun 2030, serta ekspansi ekonomi digital, mempercepat perubahan pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Seiring momentum ini, sebuah pesan penting semakin mengemuka: keamanan tidak lagi bisa menjadi sekadar fitur tambahan. Keamanan harus terintegrasi langsung ke dalam sistem, arsitektur, dan setiap keputusan yang akan menentukan babak selanjutnya pertumbuhan digital di kawasan ini. Mureks mencatat bahwa empat kekuatan utama akan mendefinisikan arah keamanan siber tahun ini.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
1. Jam Kuantum Berdetak Lebih Cepat dari Perkiraan
Ancaman komputasi kuantum telah lama diprediksi, seringkali dianggap sebagai masalah jangka panjang. Namun, realitasnya kini jauh lebih dekat. Berbagai organisasi di APAC mulai menyadari urgensi yang meningkat dan uji coba teknologi yang siap menghadapi ancaman kuantum mulai bermunculan.
Monetary Authority of Singapore (MAS) telah menguji sandbox untuk komunikasi keuangan yang aman terhadap ancaman kuantum. Di Jepang, NICT berhasil merampungkan uji coba SecureBridge, memvalidasi autentikasi pasca-kuantum hibrida menggunakan kartu pintar di lingkungan layanan kesehatan aktif. Indonesia, meskipun masih di tahap awal, telah mendirikan Center for Quantum Security Ecosystem (CQSE) dan meluncurkan dokumen Quantum-Security Roadmap 2025–2030. Fase pertama (2025-2027) akan melibatkan riset gabungan dan uji coba awal untuk Quantum VPN oleh sejumlah institusi.
Perkembangan ini mencerminkan pergeseran pola pikir. Kekhawatiran utama bukan lagi tentang komputer kuantum canggih yang mampu membobol enkripsi dalam semalam. Risiko terdekat adalah peningkatan serangan jenis harvest now, decrypt later, di mana pelaku mengumpulkan data terenkripsi secara diam-diam—seperti arsip keuangan, rekam medis, atau kekayaan intelektual—dengan tujuan mendekripsinya saat kemampuan kuantum sudah lebih maju.
Untuk mengatasi ini, kriptografi hibrida menjadi solusi paling praktis. Dengan mengombinasikan algoritma klasik dan algoritma yang melindungi dari dekripsi kuantum, organisasi dapat mulai mengamankan data tanpa mengganggu sistem yang ada. Transisi menuju keamanan pasca-kuantum akan menjadi perjalanan operasional berkelanjutan, membutuhkan penyesuaian kinerja, peningkatan infrastruktur, dan pengujian interoperabilitas yang cermat. Organisasi yang memulai dengan langkah kecil, seperti mengaktifkan hybrid key exchange di edge strategis, akan berada di posisi lebih kuat saat persyaratan ketahanan kuantum menjadi keharusan.
2. API Menjadi Titik Kerentanan di Bawah AI Agentik
Adopsi AI agentik meningkat pesat di seluruh Asia Pasifik. Di Indonesia, 40 persen organisasi telah menggunakan AI agentik, dan lebih dari separuh pemimpin bisnis di kawasan ini melaporkan telah mengotomatiskan alur kerja penuh atau seluruh proses bisnis menggunakan agen AI untuk memecahkan tantangan operasional nyata. Seiring peningkatan adopsi AI, ketergantungan penting semakin jelas.
API telah berevolusi dari sekadar penghubung sederhana menjadi lapisan eksekusi perusahaan. API adalah jalur di mana agen AI semi-otonom mengambil data, memulai alur kerja, menyetujui transaksi, dan berinteraksi dengan sistem inti. Ketika jalur-jalur ini tidak terlindungi, setiap sistem dan proses yang disentuhnya menjadi rentan.
Laju penerapan AI kini jauh melampaui kecepatan implementasi keamanan API. Shadow API, tata kelola yang tidak konsisten, dan celah visibilitas di lingkungan multicloud menciptakan permukaan serangan yang terus meluas. Ketika agen AI mendapatkan otonomi dan mulai melakukan tindakan bernilai lebih tinggi, dampak dari celah tersebut menjadi semakin serius. Hal yang sebelumnya menciptakan gesekan bagi inovasi kini menghadirkan risiko operasional.
Kebanyakan organisasi di kawasan ini harus memperkecil kesenjangan antara ambisi AI dan eksekusi pengamanannya. Penemuan API secara berkelanjutan, penegakan kebijakan yang konsisten, dan visibilitas real-time terhadap pola trafik yang digerakkan AI akan esensial untuk meningkatkan skala kecerdasan secara aman. Tanpa fondasi API yang aman, potensi AI agentik akan melaju lebih cepat dibandingkan kemampuan perusahaan untuk mengelolanya secara aman.
3. Dibangunnya Infrastruktur Sovereign AI di Seluruh Asia Pasifik
Seiring AI menjadi fondasi daya saing nasional, pemerintah di seluruh kawasan ini mengucurkan investasi besar-besaran dalam infrastruktur sovereign AI. Komputasi, data, dan pipeline AI dilihat sebagai aset strategis yang harus dikelola dan diamankan secara lokal.
Pergeseran ini mengubah cara organisasi membangun, menerapkan, dan melindungi sistem AI. Jepang mengembangkan GPU superclusters yang di-hosting secara domestik sebagai bagian dari Digital Garden City Vision. Singapura, Indonesia, dan Malaysia dengan cepat mengembangkan koridor AI Singapura-Batam-Johor, yang muncul sebagai salah satu pusat komputasi lintas data terpenting di kawasan ini. Australia memperluas mandat hosting berdaulat untuk sektor-sektor penting, sementara India menerapkan persyaratan lokalisasi data yang ketat, secara langsung menetapkan di mana model AI bisa dilatih dan inferensi dapat dilakukan.
Gerakan ini signifikan karena mengubah asumsi lama tentang pergerakan aliran data, asal-usul model, dan kewajiban untuk mematuhi peraturan lintas negara. Saat semakin banyak beban kerja AI beroperasi di zona komputasi yang dikendalikan secara domestik, kebutuhan akan komunikasi yang aman terhadap kuantum, keamanan runtime AI, dan kerangka kerja dalam menghadirkan aplikasi secara konsisten menjadi semakin penting. Infrastruktur sovereign AI bukan sekadar perkembangan geopolitik, melainkan transformasi keamanan yang memaksa organisasi memikirkan kembali lokasi data sensitif, pengelolaan model, dan pembangunan kepercayaan di berbagai yurisdiksi dengan mandat regulasi berbeda. Organisasi yang menyelaraskan diri lebih awal dengan kerangka kerja nasional ini akan beroperasi dengan tingkat kepercayaan diri yang lebih besar seiring matangnya lanskap AI di kawasan ini.
4. Ketahanan Digital sebagai Keharusan Baru bagi Perusahaan
Organisasi di seluruh kawasan ini meningkatkan level ketahanan digital sebagai prioritas operasional utama. Fokusnya bukan lagi hanya pada perlindungan, melainkan pada kemampuan untuk memberikan nilai tanpa gangguan, beradaptasi terhadap perubahan cepat, dan menjaga kinerja yang konsisten bahkan di tengah volatilitas.
Adopsi hybrid multicloud menambah kerumitan, dengan aplikasi dan data tersebar di berbagai lingkungan yang perilakunya tidak bisa diprediksi. Alur kerja berbasis AI menambahkan lapisan baru perilaku trafik yang dinamis. Perusahaan kini membutuhkan sistem yang bisa beradaptasi secara real-time, mengoptimalkan kinerja secara cerdas, dan menjaga perlindungan tanpa menciptakan hambatan.
Mencapai visi ini membutuhkan koherensi dan konsistensi di seluruh pengiriman aplikasi, manajemen trafik, dan operasi keamanan. Tools yang terpisah-pisah dan kebijakan yang terisolasi tidak bisa menyamai kecepatan dan variabilitas layanan digital modern. Inilah alasan mengapa organisasi di Asia Pasifik mulai beralih ke platform keamanan terintegrasi yang memberikan visibilitas dan kontrol terpadu. Kejelasan menjadi kebutuhan utama untuk menjalankan operasi dengan percaya diri di dunia yang ditandai oleh meningkatnya saling ketergantungan dan ketidakpastian.
Jalan ke Depan
Masa depan keamanan siber di Asia Pasifik tidak hanya dibentuk oleh algoritma atau arsitektur. Masa depan ini akan dibentuk oleh para pemimpin yang memahami bahwa kepercayaan adalah mata uang sesungguhnya dari kemajuan digital. Kesiapan keamanan menghadapi kuantum, eksekusi AI yang aman, infrastruktur sovereign AI, dan operasi yang tangguh akan membentuk fondasi dari kepercayaan tersebut.
Organisasi yang menerima perubahan ini tidak hanya akan melindungi diri mereka sendiri. Mereka akan memberdayakan manusia di dalamnya, memperkuat industri, dan berkontribusi terhadap masa depan digital yang lebih inovatif dan aman di kawasan tersebut. “Dekade berikutnya akan menjadi milik mereka yang membangun dengan niat, berinovasi dengan penuh keyakinan, dan mengamankan fondasi mereka sebelum perubahan besar terjadi,” ujar Surung Sinamo, Country Manager F5 Indonesia.






