Jumat, 02 Januari 2026 – Jadwal padat MotoGP musim 2025 dengan 22 seri dan total 44 balapan, termasuk sprint race, memicu kekhawatiran di kalangan pembalap. Fabio di Giannantonio menjadi salah satu yang paling vokal menyuarakan beban fisik dan mental yang harus dihadapi.
Pembalap VR46 tersebut mengungkapkan bahwa intensitas jadwal saat ini menyisakan sedikit waktu bagi pembalap untuk fokus pada latihan dan menjaga kebugaran sepanjang musim. Menurut Mureks, tekanan fisik dan mental akibat jadwal padat ini menjadi isu krusial yang perlu diperhatikan.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id
“Terlalu banyak (balapan). Terlalu banyak hari perjalanan, terlalu banyak untuk tubuh. 44 balapan, (itu) terlalu banyak,” jelas Di Giannantonio di Valencia. “Tidak ada latihan. Anda banyak berlatih dalam satu bulan, katakanlah, di bulan Januari, dan kemudian Anda hanya berusaha menjaga performa sebaik mungkin sepanjang musim.”
Kekhawatiran serupa juga datang dari Johann Zarco, pembalap LCR. Ia mengakui bahwa beban dari 22 balapan terasa berat bagi tubuh. “Kami akan membutuhkan lebih banyak istirahat (di musim dingin) untuk kembali dengan energi yang lebih baik,” ujarnya.
Sebelumnya, Marc Marquez, yang baru saja dinobatkan sebagai juara di MotoGP Jepang, mengalami kecelakaan di Indonesia. Insiden ini sempat memengaruhi momentum kejuaraan yang tengah ia jalani.
Marco Bezzecchi, mantan rekan setim Di Giannantonio, turut menyoroti bagaimana suasana hati dan hasil balapan dapat memengaruhi pandangan pembalap terhadap kalender. Bezzecchi sendiri menikmati akhir kampanye yang kuat, berhasil memenangkan dua grand prix terakhir dengan motor Aprilia RS-GP.
Sebagian besar ekspansi MotoGP saat ini berfokus pada pasar baru di Asia, mengikuti jejak Formula 1. Francesco Bagnaia dari Ducati menyambut positif langkah ini, meskipun ia berharap musim 2025 bisa berakhir lebih cepat. “Kami siap untuk semuanya dan saya pikir adil untuk memiliki kalender seperti ini,” kata Bagnaia.
Di sisi lain, Pedro Acosta dari KTM mengakui bahwa cedera kini membawa konsekuensi yang lebih besar dengan jadwal yang semakin padat. “Biasanya, di masa lalu, Anda kehilangan satu atau dua balapan, dan sekarang Anda bisa kehilangan empat balapan berturut-turut jika cedera Anda tidak terlalu parah,” tuturnya.
Berbagai pandangan dari para pembalap ini menggarisbawahi bahwa jadwal MotoGP yang padat menantang mereka, baik secara fisik maupun mental, sekaligus membuka peluang baru di pasar internasional.






