Bintang sepak bola dunia, Lionel Messi, kembali mencuri perhatian publik, namun kali ini bukan karena aksinya di lapangan hijau. Dalam sebuah wawancara terbuka, Messi blak-blakan mengungkap sisi pribadinya yang jarang tersorot, mulai dari pengakuannya sebagai ‘gaptek’ teknologi kecerdasan buatan (AI) hingga pengalaman panjangnya menjalani terapi psikologis.
Berlokasi di suite mewahnya yang menghadap stadion Inter Miami, Messi tampil sederhana dalam program Antes Que Nadie di LUZU TV. Suasana intim sengaja diciptakan tim produksi dengan membawa sofa dan tanaman pot, jauh dari kesan wawancara formal seorang superstar. Nico Occhiato, sang pembawa acara, menyebutnya sebagai obrolan santai.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Messi Akui ‘Gaptek’ Teknologi AI dan ChatGPT
Di tengah gelombang revolusi digital, Messi secara mengejutkan mengaku masih ‘primitif’ dalam hal teknologi modern. Ia memang sering menghabiskan waktu di TikTok, bahkan sering menemukan klip dirinya yang dibuat menggunakan AI.
“Saya sering menonton TikTok. Saya telah melihat begitu banyak klip diri saya yang dibuat menggunakan AI… beberapa bahkan adegan yang direkayasa tentang saya yang dihentikan oleh polisi. Sungguh gila apa yang bisa dilakukan orang dengan teknologi ini,” ujar Messi sambil tertawa, seperti yang Mureks merangkum dari wawancara tersebut.
Namun, berbeda dengan istrinya, Antonela, yang rajin menggunakan ChatGPT untuk berbagai keperluan seperti resep masakan, Messi mengaku belum tertarik mendalami teknologi tersebut. “Saya tidak menggunakan ChatGPT atau AI, bukan karena saya menentangnya, tetapi hanya karena saya belum benar-benar tertarik atau sepenuhnya memahami cara kerjanya,” tambahnya. Ia juga mengungkapkan kekesalannya terhadap rumor dan peniruan yang dibuat AI, “Sekarang ada jutaan cerita yang dibuat-buat tentang saya mengatakan ini atau itu, yang tidak benar. Tapi Anda tidak bisa terus-menerus membantah setiap cerita tersebut.”
Pergumulan Batin dan Terapi Psikologis
Lebih jauh, Messi tak ragu membuka lembaran masa lalunya yang penuh pergumulan. Ia menggambarkan dirinya di masa lalu sebagai “orang jahat yang aneh” akibat tekanan besar dari tim nasional dan klubnya. Kondisi ini membuatnya menarik diri, sulit didekati, dan hidup dalam ketidakamanan ekstrem.
Messi mengungkapkan detail mengejutkan bahwa ia harus mencari dukungan dari terapis psikologis di Barcelona untuk waktu yang lama. “Awalnya, saya sangat enggan. Saya adalah tipe orang yang suka menyimpan segala sesuatu untuk diri sendiri. Saya cenderung menyimpan semuanya untuk diri sendiri, baik masalah maupun tekanan. Saya telah banyak berubah, tetapi masih banyak hal yang sulit untuk dibicarakan,” kenangnya.
Pria berusia 38 tahun ini juga mengaku sangat terorganisir dan rapi, bahkan mudah kesal jika rutinitasnya terganggu atau barang-barangnya disentuh. Ia menyukai kesendirian, dan suasana hatinya mudah terpengaruh hal-hal sepele. Namun, di tengah emosi negatif itu, putranya, Mateo, adalah sosok yang paling cepat bisa menariknya kembali. “Yang paling saya benci adalah ketika saya terjebak dalam emosi itu dan sangat sulit untuk keluar. Orang yang paling cepat bisa menarik saya keluar adalah Mateo. Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa melakukan itu.”
Kehidupan Pribadi dan Ambisi Masa Depan
Messi menegaskan pilihannya untuk menjalani kehidupan pribadi, memprioritaskan keluarga, dan hanya muncul di media ketika berkaitan dengan sepak bola. “Saya tidak suka orang membicarakan saya kecuali tentang saya bermain sepak bola. Saya tidak suka memamerkan diri, saya tidak suka muncul di media, kecuali karena apa yang saya lakukan di lapangan, karena itulah yang saya tahu cara melakukannya,” tegasnya.
Di Miami, keluarga Messi telah menemukan kebebasan yang mereka dambakan. Ia menikmati perasaan menjemput anak-anak dari sekolah, pergi ke supermarket, dan menikmati hidup sebagai ayah biasa. Ketenangan ini juga tercermin dalam kebiasaan minum anggurnya yang unik. Messi suka mencampur anggur dengan Sprite, sebuah kebiasaan yang membuatnya langsung merasa rileks. “Rasanya manis dan membantu anggur ‘terserap’ lebih cepat, membuat Anda langsung merasa rileks,” ujarnya.
Terkait gaya bermainnya, Messi menjelaskan mengapa ia jarang melakukan manuver teknis yang mencolok. “Saya tidak pernah menyukainya. Saya lebih sering melakukannya saat masih muda, tetapi kemudian saya lebih menyukai gaya bermain yang lebih sederhana dan langsung.” Ia juga mengenang masa-masa sulit bersama tim nasional, ketika ia sempat berpikir untuk melepaskan seragam Albiceleste. “Ada saat-saat saya berpikir saya tidak akan bermain untuk tim nasional lagi, tetapi kemudian saya sangat menyesalinya. Yang penting adalah jangan pernah menyerah, jatuh, bangkit, dan mencoba lagi.”
Menatap babak terakhir kariernya, Messi secara terbuka menyatakan ambisinya untuk memiliki klub sepak bola sendiri. Saat ini, ia mencurahkan upayanya untuk Messi Cup, sebuah turnamen U15-U16 yang bertujuan memberikan pengalaman internasional kepada pemain muda di Amerika Serikat, dengan harapan membawa DNA La Masia ke sana. “Syukur kepada Tuhan, saya mampu melakukan segalanya. Tuhan memberi saya lebih dari yang pernah saya bayangkan. Ketika tampaknya mustahil, gelar-gelar itu datang,” tutupnya penuh syukur.






