Mureks mencatat bahwa di usianya yang baru menginjak 16 tahun, Fairus Khalisa Putri telah menorehkan catatan impresif dalam kancah sepak bola wanita Indonesia. Penjaga gawang muda asal Surakarta ini bahkan langsung mencicipi atmosfer turnamen sekelas Piala Asia pada debutnya bersama Timnas Wanita Indonesia kelompok usia muda.
Lahir di Surakarta pada 24 November 2009, perjalanan Fairus menuju skuad Garuda Pertiwi Muda terbilang cepat dan penuh kejutan. Ia mengawali karier sepak bolanya di SSB Putri Surakarta pada tahun 2021, sebelum kemudian bergabung dengan SSB Samba Persada Women sejak tahun 2024 hingga saat ini.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Meski masih sangat belia, Fairus sudah enam kali dipercaya mengikuti pemusatan latihan (TC) Timnas Wanita Indonesia kelompok usia muda. Kepercayaan itu berbuah manis dengan penampilannya di beberapa turnamen besar. “Aku dipanggil ke timnas udah 6 kali mungkin. Terus ikut turnamennya AFC U-17 kemarin di Bali, AFF U-16 di Solo, dan yang kemarin terakhir AFF U-17 di Myanmar,” ungkap Fairus kepada tim redaksi Mureks di Lapangan Kota Barat, Solo, Sabtu (1/11).
Momen paling berkesan adalah debutnya yang tak biasa, yakni langsung di Piala Asia Wanita U-17 yang diselenggarakan di Bali pada Mei 2024. Saat itu, Fairus dan rekan-rekannya harus menghadapi tim-tim raksasa Asia seperti Filipina, Korea Selatan, dan Korea Utara.
Sayangnya, kekuatan tim-tim tersebut terlalu tangguh bagi Garuda Pertiwi Muda. Mereka gagal melangkah ke semifinal setelah menelan kekalahan dengan skor cukup telak. Meski demikian, pengalaman berharga itu justru menempa Fairus menjadi pribadi yang lebih matang dan percaya diri untuk menghadapi tantangan berikutnya.
Fairus tak akan melupakan kesempatan bermain selama beberapa menit di turnamen dua tahunan tersebut, sebuah momen yang penuh kebanggaan baginya. “Ya pasti deg-degan sih, Kak. Gara-gara kayak, duh bisa apa nggak, gitu. Walaupun beberapa menit, tapi aku tetap bangga,” ujarnya sambil tersenyum.
Menghadapi tim-tim kuat Asia tentu bukan perkara mudah. Fairus mengakui adanya rasa takut, namun ia belajar untuk mengatasinya. “Sebenernya sih takut, tapi kita harus menyikapi dengan tenang gitu. Biar nggak takut gitu,” sambungnya.
Dari Bek ke Penjaga Gawang, Lalu Voli?
Fakta menarik lainnya, Fairus ternyata tidak langsung berposisi sebagai penjaga gawang sejak awal kariernya. Ia sempat bermain di posisi bertahan sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah ke bawah mistar gawang. “Aku awalnya sempat posisi bek, baru ke kiper,” tutur Fairus.
Keputusan itu diambil setelah ia merasa kurang berkembang di posisi bek. “Awalnya aku di bek kayak mikir masih kurang berkembang, terus aku cobalah ke kiper, nah (cocoknya) ke situ ternyata,” jelasnya. Kini, ia merasa paling nyaman di posisi kiper. “Di kiper. Karena ya kayak lebih berkembang, terus banyak peluang juga,” jawabnya tanpa ragu.
Lebih mengejutkan lagi, Fairus justru tidak memulai perjalanan olahraganya dari sepak bola. Ia dulunya aktif di cabang olahraga voli. “Sebenarnya aku tuh dulu bukan langsung ke bola, aku dulu ke voli, terus kurang berjalan dengan baik, disuruh ke bola sampai sekarang,” kata Fairus, menjelaskan mengapa ia memiliki refleks menangkap bola yang baik.
Mengidolakan “Mala” Grohs dari Bayern Muenchen
Di antara banyaknya penjaga gawang top dunia, Fairus memiliki satu nama yang sangat ia idolakan sejak ia memutuskan menjadi kiper, yaitu “Mala” Grohs dari Bayern Muenchen. “Kiper favorit aku ‘Mala’ Grohs dari Bayern Muenchen,” ucap Fairus.
Alasan Fairus mengidolakan Grohs cukup sederhana namun mendalam. “Karena dia tuh kayak reflect-nya bagus, skill-nya bagus, pokoknya pas permainannya dia bagus,” pungkasnya, menunjukkan pemahamannya terhadap kualitas seorang penjaga gawang.
Perjalanan Fairus Khalisa Putri, dari seorang pemain voli, bek, hingga menjadi kiper muda Timnas Wanita Indonesia, adalah bukti semangat dan adaptasi yang luar biasa. Dengan potensi dan dedikasi yang ia miliki, Fairus siap menjadi bintang masa depan sepak bola wanita Tanah Air.






