Donny (47) memulai harinya sebelum matahari terbit, menembus hiruk pikuk jalanan Jakarta. Hampir 14 jam setiap hari, ia mengabdikan diri di balik kemudi ojek online, menyelesaikan puluhan pesanan demi menafkahi istri dan dua anaknya.
Selama satu dekade terakhir, pekerjaan ini menjadi tumpuan hidupnya. Dengan rata-rata 20 perjalanan per hari, Donny bisa mengantongi penghasilan kotor sekitar Rp 200.000. Pada hari-hari ramai, angka itu bisa melonjak hingga Rp 300.000, namun tak jarang ia hanya membawa pulang Rp 100.000 saat sepi. Angka tersebut belum termasuk biaya operasional seperti makan dan bensin.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
“Saya udah dari 2015 jadi ojol, biasanya keluar dari jam 7 pagi, sehari itu rata-rata 20 trip, bisa dapet Rp 200.000-an. Istirahatnya cuma pas lagi nungguin ada orderan masuk aja, baru pulang istirahat jam 9-an malam lah,” ungkap Donny kepada Kompas.com, Senin (6/1/2026).
Donny mengenang “masa jaya” di awal kemunculan perusahaan ride-hailing di Indonesia, sekitar tahun 2015. Kala itu, ia bisa mengantongi hingga Rp 3,5 juta per minggu, atau rata-rata Rp 500.000 per hari. Pendapatan fantastis ini bahkan bisa diraihnya dengan sempat beristirahat di siang hari.
Sebagai mitra Grab, ia merasakan penghasilan relatif tinggi di tiga tahun pertama perusahaan beroperasi. “Baru-baru launching itu, sampai 1-3 tahun (perusahaan) masih bakar duit. Siang aja kita pulang istirahat, sore keluar lagi, itu masih dapat banyak. Sekarang 24 jam aja susah banget. Sekarang diteken bayar ini itu, keuntungan (driver) juga diteken,” keluhnya.
Meski penghasilannya kini kian menyusut dan tantangan semakin berat, pria yang berdomisili di Jakarta Barat ini tetap setia pada pekerjaannya sebagai pengemudi ojek online. Ia berjuang keras demi memenuhi kebutuhan keluarganya.
Transportasi Online: Jaring Pengaman Ekonomi yang Penuh Tantangan
Kisah Donny adalah potret nyata dari jutaan pengemudi ojek online lainnya yang bekerja keras menopang ekonomi keluarga, terlepas dari besaran penghasilan yang mereka terima. Fenomena ini sekaligus menegaskan peran krusial transportasi daring sebagai salah satu penyangga penting perekonomian masyarakat Indonesia.
Skala perputaran uang di sektor ini sangatlah besar. Mureks mencatat bahwa berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS, terdapat sekitar 2,4 juta pengemudi transportasi online per tahun 2024.
Riset dari Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memperkirakan nilai total transaksi (GTV) industri ride-hailing di Indonesia pada tahun 2024 mencapai sekitar Rp 135,32 triliun, atau rata-rata Rp 375,89 miliar per hari.
Pemain besar di industri ini menunjukkan kontribusi signifikan. GoJek, misalnya, mencatat total GTV sepanjang tahun lalu mencapai Rp 63,04 triliun dari layanan GoRide, GoFood, dan GoSend. Sementara itu, GTV Grab secara global, yang mencakup enam negara Asia Tenggara, mencapai 18,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 293 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.000 per dollar AS).
Jika kontribusi pasar Indonesia diperkirakan sebesar 20 persen dari total global, maka estimasi GTV Grab Indonesia di tahun 2024 mencapai sekitar Rp 58,75 triliun. Grab Indonesia sendiri, dalam keterangan resminya pada Jumat (2/1/2026), menyatakan bahwa industri transportasi dan pengantaran online menyumbang sekitar 2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan Grab berkontribusi sekitar 50 persen di industri ride-hailing.
Data-data tersebut secara gamblang menunjukkan bahwa transportasi online telah bertransformasi dari sekadar alat mobilitas menjadi sebuah ekosistem ekonomi yang kompleks. Meskipun demikian, di balik perputaran uang yang masif, kesejahteraan dan keamanan bagi para pengemudi seperti Donny masih menjadi isu yang perlu perhatian serius.






