Inovasi terbaru di dunia pendidikan teknologi hadir melalui Codee, sebuah sistem revolusioner yang mengubah paradigma belajar pemrograman. Dikembangkan oleh Codeebots, Codee berhasil mentransformasi kode digital yang abstrak menjadi blok magnetik fisik yang dapat disusun dan dihidupkan secara instan, menghilangkan kebutuhan menatap layar komputer.
Sistem ini dirancang untuk menghadirkan pelatihan logika yang lebih nyata dan proses debugging yang visual, menjadikannya sangat bermanfaat bagi anak-anak usia 4 hingga 12 tahun. Tidak hanya itu, Codee juga didukung oleh AI tutor berbasis GPT yang siap memandu pengguna, sehingga mempermudah proses pengajaran bagi orang tua maupun guru yang tidak memiliki latar belakang pemrograman.
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Anatomi Codee: Memahami Blok Kode Fisik yang Intuitif
Inti dari Codee adalah serangkaian ubin magnetik yang berfungsi layaknya baris kode fisik. Setiap ubin dilengkapi dengan label dan ikon yang jelas, merepresentasikan perintah-perintah dasar seperti “KEKUATAN MOTOR,” “KECEPATAN MOTOR,” “WARNA CAHAYA,” atau “PUTAR MUSIK.” Pengguna cukup menyusun ubin-ubin ini di atas meja sesuai urutan logika yang diinginkan, menciptakan alur program secara fisik.
Alih-alih mengetik perintah seperti IF, LOOP, atau DELAY, pengguna hanya perlu menjatuhkan ubin yang mewujudkan konsep pemrograman tersebut. Nilai parameter pada setiap ubin dapat diatur dengan mudah melalui roda angka kecil. Panah yang tertera pada ubin memastikan alur program terhubung dengan benar, menciptakan pengalaman pelatihan logika yang sangat tangible dan mudah dipahami.
Debugging Visual dan Dukungan AI untuk Semua Usia
Pergeseran ke interaksi fisik ini membawa dampak signifikan, terutama bagi pelajar muda. Anak-anak kini dapat menciptakan program menggunakan tangan mereka, tanpa terpaksa menatap layar tablet atau komputer. Unit dasar Codee dirancang untuk mengirimkan daya dan data melalui ubin yang terhubung, dan lampu LED di bawah permukaan unit akan melacak alur program secara visual.
Proses debugging pun menjadi jauh lebih sederhana. Jika terjadi kesalahan dalam logika program, jalur cahaya LED akan berhenti tepat di blok masalah. Ini membuat proses perbaikan semudah melihat di mana rantai logika terputus, mirip seperti memperbaiki bangunan balok yang runtuh. Menurut pantauan Mureks, pendekatan ini sangat efektif dalam mengurangi frustrasi belajar coding.
Lebih lanjut, Codee berfungsi sebagai jembatan yang dapat diskalakan, mulai dari mainan edukasi yang interaktif hingga platform prototyping profesional. Kompatibilitasnya dengan LEGO juga membuka peluang kreativitas tanpa batas, memungkinkan pengguna untuk mengintegrasikan blok Codee dengan kreasi LEGO mereka. Inovasi ini menjanjikan masa depan pendidikan coding yang lebih inklusif dan menyenangkan bagi semua kalangan.






