Chelsea Football Club kembali membuat gebrakan di awal tahun 2026. Klub raksasa London itu secara mengejutkan memecat pelatih kepala Enzo Maresca pada Hari Tahun Baru, Jumat (1/1/2026), meski sang juru taktik baru saja membawa tim meraih dua trofi bergengsi.
Keputusan ini memicu spekulasi luas mengenai siapa yang akan mengisi kursi panas di Stamford Bridge. Namun, menurut pantauan Mureks, Chelsea diperkirakan tidak akan merekrut nama-nama besar seperti Jurgen Klopp atau Zinedine Zidane, melainkan tetap berpegang pada filosofi mendatangkan pelatih muda yang dapat membangun masa depan jangka panjang.
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Prestasi dan Pemecatan Enzo Maresca
Maresca, pelatih berusia 45 tahun, telah memimpin Chelsea dalam 92 pertandingan, dengan catatan 55 kemenangan. Di bawah arahannya, The Blues berhasil menjuarai Liga Konferensi Eropa UEFA dan Piala Dunia Antarklub FIFA, sebuah pencapaian yang seharusnya menjadi modal kuat bagi posisinya.
Namun, dalam pernyataan resmi yang mengumumkan kepergiannya, klub menyatakan, “Chelsea Football Club dan pelatih kepala Enzo Maresca telah berpisah. Selama masa jabatannya di klub, Enzo memimpin tim meraih kesuksesan di Liga Konferensi UEFA dan Piala Dunia Antarklub FIFA. Prestasi tersebut akan tetap menjadi bagian penting dari sejarah klub baru-baru ini, dan kami berterima kasih atas kontribusinya kepada klub.”
“Dengan tujuan utama yang masih harus diperjuangkan di empat kompetisi termasuk lolos ke Liga Champions, Enzo dan klub percaya bahwa perubahan ini memberi tim peluang terbaik untuk mengembalikan musim ke jalur yang benar. Kami mendoakan yang terbaik untuk Enzo di masa depan,” lanjut pernyataan tersebut.
Alasan di Balik Pemecatan: Performa dan Pelanggaran Kontrak
Pemecatan Maresca tidak hanya didasari oleh performa tim di liga domestik dan Eropa. The Telegraph melaporkan bahwa Chelsea telah kehilangan 15 poin dari posisi unggul musim ini di berbagai kompetisi seperti Liga Primer, Liga Champions, Piala Liga, dan Piala FA, sebuah catatan yang dianggap “tidak berkelanjutan” oleh para petinggi klub.
Selain itu, manajemen The Blues juga dikabarkan sangat tidak terkesan setelah mengetahui Maresca telah melakukan pembicaraan dengan Manchester City dan Juventus mengenai peran masa depannya. Hal ini dianggap melanggar ketentuan kontraknya di London barat, yang mengharuskan dia untuk memberi tahu kelompok pemilik Chelsea tentang diskusi semacam itu.
Maresca disebut-sebut menjelaskan bahwa ia akan mengakhiri diskusi dengan calon klub lain jika ditawari kontrak baru di Stamford Bridge. Namun, The Telegraph melaporkan bahwa The Blues “menolak proposal itu mentah-mentah,” menunjukkan ketegasan manajemen dalam mengambil keputusan.
Filosofi Baru Chelsea: Menolak Nama Besar
Pencarian pengganti Maresca kini tengah berlangsung, dengan manajer Strasbourg, Liam Rosenior, disebut-sebut sebagai kandidat utama. Rosenior dianggap telah tampil mengesankan bersama tim yang juga dimiliki oleh konsorsium BlueCo, pemilik Chelsea.
The Telegraph juga mengindikasikan bahwa “Chelsea diperkirakan tidak akan merekrut nama besar seperti Zinedine Zidane atau Jurgen Klopp.” Meskipun banyak penggemar berharap klub akan menunjuk pelatih dengan CV yang lebih mentereng, seperti mantan manajer Real Madrid dan Liverpool yang sukses meraih Liga Champions, pendekatan tersebut tidak lagi menjadi prioritas Todd Boehly dan jajaran direksi.
Mureks mencatat bahwa BlueCo telah menunjukkan kepercayaan pada pelatih seperti Graham Potter dan Maresca, dengan harapan mereka dapat meletakkan fondasi untuk kesuksesan jangka panjang. Filosofi klub saat ini adalah merekrut pemain dan pelatih yang “muda, sedang naik daun, dan mudah dibentuk,” berbeda jauh dengan era Roman Abramovich yang kerap mendatangkan nama-nama top seperti Jose Mourinho, Thomas Tuchel, Carlo Ancelotti, hingga Antonio Conte.
ESPN bahkan melaporkan bahwa “kemenangan bukan lagi pertimbangan utama di Chelsea,” dan “masa-masa Chelsea merekrut pelatih-pelatih terbaik sudah berlalu.” Dewan direksi yang ambisius ini, yang telah menghabiskan banyak uang di beberapa bursa transfer, kini lebih berfokus pada model perekrutan yang dapat menghasilkan profit secara teratur dan membangun tim untuk masa depan.






