Pameran teknologi Consumer Electronics Show (CES) 2026 di Las Vegas baru-baru ini menyajikan gambaran masa depan yang memicu perdebatan. Di tengah gemuruh inovasi, seorang editor senior Engadget, Daniel Cooper, mengungkapkan kegelisahannya terhadap visi yang ditawarkan, yang menurutnya cenderung mengarah pada kesendirian dan keterasingan manusia.
Visi “Ambient Care” LG dan Kekhawatiran Akan Ketergantungan
LG, salah satu raksasa teknologi, membuka CES 2026 dengan memaparkan konsep “ambient care”. Visi ini menjanjikan lingkungan rumah tangga yang serba otomatis, di mana perangkat cerdas bekerja sama untuk mengurangi beban fisik dan mental penghuninya. Sebagai contoh, jika sensor tempat tidur mendeteksi tidur yang kurang optimal atau gejala flu, sebuah robot akan membangunkan Anda dengan segelas jus jeruk segar. Atau, saat terburu-buru bekerja, robot akan menyiapkan sandwich, menghilangkan kebutuhan untuk melakukannya sendiri.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Namun, menurut pantauan Mureks, visi yang tampak utopis ini justru menimbulkan pertanyaan. Cooper merasa tidak nyaman dengan gagasan untuk terus-menerus dimanjakan oleh robot hingga terjebak dalam “lubang dopamin”, sebuah kondisi di mana manusia terlalu bergantung pada stimulasi instan dari perangkat.
Dominasi Robotik di Tengah Stagnasi Inovasi Lain
Kecenderungan ini, menurut Cooper, tidak lepas dari beberapa faktor. Industri teknologi, khususnya perangkat keras konsumen, seolah kehilangan arah inovasi karena “oksigen” industri telah diserap habis oleh Kecerdasan Buatan (AI). Meskipun kehadiran Panther Lake menjadi kemenangan bagi Intel, dampaknya terhadap perubahan dramatis dalam cara pengguna berinteraksi dengan PC sehari-hari dinilai minim.
Pergeseran kebijakan Amerika Serikat dari kendaraan listrik (EV) kembali ke kendaraan berbahan bakar fosil juga membuat produsen otomotori besar enggan tampil di pameran. Akibatnya, CES 2026 didominasi oleh berbagai startup robotik yang memamerkan robot humanoid untuk lini produksi, perawatan rumah, hingga pengganti hewan peliharaan. “Saya melihat lebih dari beberapa stan di mana petugas berpura-pura senang mengajari robot peliharaan beroda mereka untuk bermain tangkap bola,” tulis Cooper, menyiratkan keraguan akan keaslian interaksi tersebut.
Antara Kebutuhan Asistif dan Konsumerisme Berlebihan
Cooper mengakui nilai penting teknologi asistif bagi penyandang disabilitas atau perangkat yang membantu individu tetap bekerja meski menghadapi cedera jangka panjang, seperti eksoskeleton yang dipamerkan. Namun, ia mempertanyakan urgensi perangkat lain seperti “komputer toilet”, kursi pijat, atau skuter koper dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak inovasi yang dipamerkan di CES 2026, menurut catatan Mureks, tampaknya dirancang sebagai pengganti atau pelengkap interaksi manusia yang sesungguhnya. Robot panda yang berkeliaran di rumah untuk menggantikan hewan peliharaan sungguhan, waifu AI holografik yang selalu memuji dan setuju, atau robot rumah tangga yang berfungsi sebagai teman bermain anak-anak hanyalah beberapa contoh. “Ya, saya tidak adil, tetapi terkadang pameran seperti ini membuat saya terdengar seperti kakek-kakek yang marah dan bersikeras agar kalian anak-anak menjauh dari layar,” ungkap Cooper, menyiratkan frustrasinya.
Ancaman Keterasingan Diri dan Sosial
Lebih jauh, Cooper berpendapat bahwa beberapa gawai ini secara spesifik dirancang untuk menciptakan tingkat keterlepasan dari tubuh kita sendiri. Terlalu banyak waktu dihabiskan untuk mendapatkan dopamin dari perangkat membuat kita kehilangan kemampuan untuk memperhatikan bagaimana tubuh kita merasa.
Visi LG, di mana bergerak dan menyiapkan makanan sendiri menjadi masa lalu, dikhawatirkan akan berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental. Kemampuan untuk terhubung dengan orang-orang di sekitar juga bisa hilang karena terlalu lama dimanjakan oleh “pesuruh” AI. Ketika AI mendorong kita untuk mengambil jalan pintas daripada menikmati proses kreatif, industri teknologi lainnya tampaknya ingin kita memotong fundamental kehidupan itu sendiri.





