Olahraga

Brundle Soroti Ketenangan Verstappen Pasca-Hengkangnya Horner, Kunci Kebangkitan Red Bull

Max Verstappen menunjukkan performa yang jauh lebih santai dan impresif pada paruh kedua musim Formula 1 2025. Perubahan ini terjadi setelah Christian Horner, kepala tim Red Bull yang telah memimpin selama lebih dari 20 tahun, diberhentikan pasca-Grand Prix Inggris. Pengamat F1 dari Sky, Martin Brundle, menilai berakhirnya gejolak di luar lintasan menjadi “titik penting” dalam musim pembalap Belanda tersebut.

Turbulensi di Red Bull dan Hengkangnya Horner

Red Bull Racing mengalami 18 bulan yang penuh gejolak sebelum keputusan pemecatan Horner. Ia sempat dua kali diselidiki dan dinyatakan bersih oleh Red Bull terkait tuduhan perilaku tidak pantas dari seorang karyawan, tuduhan yang secara konsisten dibantah oleh Horner. Ketegangan juga terlihat dari beberapa kali bentrokan antara Horner dengan ayah Max, Jos Verstappen. Jos bahkan sempat menyatakan kepada Daily Mail bahwa tim Red Bull akan “meledak” jika Horner tetap bertahan.

Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id

Setelah Grand Prix Inggris, Red Bull membuat pengumuman mengejutkan mengenai pemecatan Horner dengan segera. Posisi Horner kemudian digantikan oleh Laurent Mekies. Presenter Sky F1, Simon Lazenby, memberikan apresiasi kepada Mekies dan seluruh tim Red Bull atas inspirasi perubahan yang terjadi.

Kebangkitan Verstappen dan Analisis Brundle

Verstappen dan Red Bull, yang sebelumnya mendominasi era ground effect F1, sempat mengalami penurunan performa pada tahun 2024 di tengah turbulensi di luar lintasan. Namun, mereka kembali menemukan bentuk terbaiknya pada paruh kedua musim F1 2025. Max Verstappen berhasil meraih enam kemenangan grand prix dan mencatat rekor podium 100 persen setelah jeda musim panas. Pencapaian ini memungkinkan pembalap Belanda itu melakukan comeback luar biasa dalam perebutan gelar, dari tertinggal 104 poin menjadi hanya dua poin di belakang saat bendera finis di Abu Dhabi.

Brundle sendiri mengakui kontribusi Horner sebelumnya. “Saya pikir Anda harus memberikan penghormatan kepada apa yang telah dilakukan Christian Horner, membangun tim hingga ke titik itu,” kata Brundle. Namun, ia juga meyakini bahwa suasana yang lebih tenang di Red Bull setelah kepergian Horner menjadi “titik penting” dalam musim impresif Verstappen. “Saya mengamati Formula 1. Itu pekerjaan saya. Saya pikir Max menjadi jauh lebih santai sejak itu terjadi, karena ada banyak ketegangan. Ayahnya melontarkan berbagai hal, dan Max terus-menerus ditanya tentang hal itu,” jelas Brundle.

Insiden Spanyol: Pelajaran Berharga Verstappen

Selain perubahan di tim, Brundle juga menyoroti titik penting lainnya dalam musim Verstappen, yaitu bentrokan kontroversial dengan George Russell di Grand Prix Spanyol. Insiden tersebut membuat Verstappen mendapatkan penalti 10 detik. Verstappen sendiri mengakui bahwa ia membuat “kesalahan” dalam tabrakan dengan Russell, yang terjadi setelah ia tampak mengalah kepada Russell di bawah instruksi Red Bull, namun akhirnya tetap melakukan kontak dengan pembalap Mercedes tersebut.

Saat berbicara dengan Viaplay, Verstappen menyatakan, “Langkah itu sendiri – dan seluruh insiden – tidak baik.” Meskipun demikian, Verstappen menambahkan bahwa ia belajar dari kesalahan tersebut dan berjanji momen-momen serupa tidak akan terulang di tahun berikutnya, bahkan dalam situasi mobil yang serupa. Secara keseluruhan, kinerja musim tersebut dinilai sangat baik.

Mureks