Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mencatat inflasi bulanan di wilayah tersebut mengalami peningkatan tajam pada Desember 2025. Lonjakan ini terutama didorong oleh kenaikan harga sejumlah komoditas pangan serta meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
Deputi Direktur BI Kepri, Ardhienus, menjelaskan bahwa inflasi bulanan (month-to-month/mtm) Kepri pada Desember 2025 tercatat sebesar 1,14 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi November 2025 yang hanya sebesar 0,23 persen. “Inflasi Desember 2025 terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 2,91 persen (mtm) dengan andil sebesar 0,85 persen,” ujar Ardhienus dalam keterangan resmi yang diterima di Batam, Rabu (07/1).
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Tekanan Inflasi dari Komoditas Pangan dan Geopolitik
Ardhienus merinci, tekanan inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau utamanya disebabkan oleh kenaikan harga cabai rawit, daging ayam ras, dan cabai merah. “Kenaikan harga dipicu keterbatasan pasokan akibat bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah sentra produksi pangan di Sumatera bagian utara, di tengah tingginya permintaan masyarakat menjelang Nataru (Natal dan Tahun Baru),” jelasnya.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatatkan inflasi sebesar 1,63 persen (mtm) dengan andil 0,12 persen. Inflasi pada kelompok ini dipengaruhi oleh kenaikan harga emas yang berlanjut, seiring dengan ketidakpastian geopolitik global yang masih membayangi.
Kelompok transportasi turut menyumbang inflasi sebesar 1,13 persen (mtm) dengan andil 0,16 persen. Ardhienus menuturkan, “Kondisi ini disebabkan meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode libur Nataru serta pelaksanaan berbagai kegiatan Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE). Meski demikian, tekanan inflasi transportasi relatif tertahan oleh adanya periode diskon tarif angkutan.”
Proyeksi dan Upaya Pengendalian Inflasi
Mureks mencatat bahwa dengan capaian tersebut, inflasi tahunan Kepri sepanjang tahun 2025 masih dinilai terjaga dalam rentang sasaran yang ditetapkan. Untuk menjaga stabilitas harga, BI Kepri terus bersinergi erat dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kepri. Sinergi ini diwujudkan melalui pelaksanaan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dengan mengusung strategi 4K, meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.
Memasuki Januari 2026, BI Kepri mewaspadai potensi tekanan inflasi dari tren kenaikan harga emas dunia dan normalisasi tarif angkutan laut pasca berakhirnya diskon transportasi. Namun, tekanan tersebut diperkirakan akan tertahan oleh normalisasi permintaan pangan setelah periode Nataru, serta adanya penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi yang berlaku per 1 Januari 2026.
“Ke depan, BI bersama TPID Kepri akan terus memperkuat koordinasi guna menjaga inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5 persen lebih kurang 1 persen pada 2026,” pungkas Ardhienus, menegaskan komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.






