Tren

Banjir Bandang Luluh Lantakkan Sekolah, Puluhan Siswa SMA Muhammadiyah Agam Tetap Belajar di Tenda Darurat

Sebanyak 39 siswa dan siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kini melanjutkan proses belajar mengajar di tenda darurat. Langkah ini diambil menyusul hancurnya bangunan sekolah mereka akibat bencana banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada Kamis, 27 November 2025.

Kepala SMA Muhammadiyah Salareh Aia, Puspa Nelfirah, menjelaskan bahwa tenda darurat didirikan di Kayu Pasak, Nagari Salerah Aia, Kecamatan Palembayan. Lokasi ini dipilih dengan pertimbangan keamanan.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Kondisi Belajar di Tenda Darurat

“Lokasi tenda darurat tempat proses belajar mengajar kondisi aman, karena jauh dari sungai,” ujar Puspa Nelfirah di Lubuk Basung pada Selasa, 6 Januari 2026. Ia menambahkan, para siswa belajar hanya beralaskan terpal tanpa adanya alat belajar yang memadai.

Rencananya, proses belajar mengajar untuk siswa kelas 10, 11, dan 12 akan dimulai secara efektif pada Rabu, 8 Januari 2026. Namun, Puspa mengakui bahwa dengan keterbatasan yang ada, proses belajar mengajar tidak dapat berjalan maksimal dan sangat tergantung pada kondisi lapangan.

“Dua hari sebelum, proses belajar mengajar untuk membersihkan informasi penting kepada siswa,” tambahnya, merujuk pada kegiatan awal yang lebih fokus pada pembersihan dan penyampaian informasi krusial.

Kerusakan Parah Akibat Banjir Bandang

Puspa Nelfirah mengungkapkan bahwa proses belajar di tenda darurat terpaksa dilakukan setelah bangunan sekolah bertingkat dua milik mereka hancur total disapu banjir bandang. Seluruh mobilisasi dan peralatan lainnya juga ikut hanyut terbawa arus.

“Enam ruangan belajar habis semuanya sehingga yang tersisa pondasi bangunan,” jelas Puspa. Pihak sekolah sangat berharap adanya bantuan untuk pembangunan kembali sekolah di atas tanah wakaf seluas dua hektare yang tidak jauh dari lokasi tenda darurat saat ini.

Respons Pemerintah Daerah

Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal, meninjau langsung proses belajar mengajar di tenda darurat tersebut. Ia menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan beberapa opsi bagi siswa yang sekolahnya rusak akibat bencana.

“Paling banyak proses belajar mengajar digabung dengan sekolah terdekat. Apabila tidak ada sekolah terdekat atau seluruh bangunan habis, maka proses belajar mengajar diadakan di tenda darurat,” kata Muhammad Iqbal.

Mureks mencatat bahwa setidaknya ada 58 unit sekolah di Kabupaten Agam yang aktivitas belajar mengajarnya terganggu akibat dampak banjir bandang, banjir, dan tanah longsor. Data sekolah yang rusak telah didata dan diusulkan untuk pembangunan ke pemerintah pusat. Selain itu, pemerintah daerah juga akan bekerja sama dengan Baznas RI dan lembaga lainnya untuk pembangunan ruang belajar agar siswa dapat kembali belajar dengan nyaman dan aman.

Mureks