Teknologi

Awal 2026: Harga iPhone 16 Pro dan Pro Max Turun Drastis, Apple Pangkas hingga Rp 4,5 Juta

Awal tahun 2026 membawa kabar gembira bagi para penggemar produk Apple di Indonesia. Harga sejumlah model iPhone, termasuk lini iPhone 16 Pro dan iPhone 16 Pro Max, terpantau mengalami penurunan signifikan. Potongan harga ini mencapai hingga Rp 4,5 juta, menjadikan perangkat-perangkat tersebut lebih terjangkau.

Menurut pantauan Mureks pada Sabtu, 3 Januari 2026, tidak hanya seri iPhone 16 yang turun harga, tetapi juga iPhone 15 Plus dan iPhone 15 yang kini lebih murah hingga Rp 3 jutaan. Penurunan harga ini menjadi sinyal positif bagi pengguna lama yang ingin melakukan peningkatan perangkat, sekaligus membuka peluang bagi konsumen yang selama ini menantikan harga iPhone yang lebih rasional.

Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id

Penurunan harga paling mencolok terlihat pada model iPhone 16 Pro dan iPhone 16 Pro Max, terutama untuk varian dengan kapasitas penyimpanan besar. Selain itu, model iPhone 16 dan iPhone 16 Plus juga ikut mengalami penyesuaian harga. Bagi konsumen yang mencari ponsel dengan ponsel dengan layar lebih besar dan daya tahan baterai lebih awet, iPhone 16 Plus kini menjadi opsi menarik. Sementara itu, iPhone 15 dan iPhone 15 Plus tetap diminati dan kini hadir dengan harga yang lebih kompetitif.

Daftar Harga iPhone Terbaru di Indonesia

Berikut adalah daftar harga terkini untuk iPhone 16 Pro, iPhone 16 Pro Max, iPhone 16 Plus, iPhone 16, iPhone 15, dan iPhone 17 series di Indonesia:

ModelKapasitasHarga BaruHarga Lama (dalam kurung)
iPhone 16128GBRp 13.999.000(Rp 14.999.000)
256GBRp 15.999.000(Rp 16.499.000)
512GBRp 19.999.000(Rp 20.999.000)
iPhone 16 Plus128GBRp 17.249.000(Rp 18.999.000)
256GBRp 19.749.000(Rp 21.499.000)
512GBRp 22.999.000(Rp 22.999.000)
iPhone 16 Pro128GBRp 17.499.000(Rp 17.999.000)
256GBRp 19.999.000(Rp 20.999.000)
512GBRp 23.499.000(Rp 25.499.000)
1TBRp 27.999.000(Rp 29.999.000)
iPhone 16 Pro Max256GBRp 21.499.000(Rp 25.999.000)
512GBRp 25.499.000(Rp 27.499.000)
1TBRp 29.499.000(Rp 32.499.000)
iPhone 15 Plus128GBRp 13.499.000(Rp 16.499.000)
256GBRp 15.999.000(Rp 19.499.000)
iPhone 15128GBRp 11.249.000(Rp 14.499.000)
256GBRp 13.749.000(Rp 17.499.000)
256GBRp 17.999.000(Rp 21.249.000)
512GBRp 22.749.000(Rp 25.999.000)
1TBRp 26.999.000(Rp 30.249.000)
iPhone 17256GBRp 17.249.000
512GBRp 21.999.000
iPhone 17 Pro256GBRp 23.749.000
512GBRp 28.249.000
1TBRp 32.999.000
2TBRp 23.749.000
iPhone 17 Pro Max256GBRp 25.749.000
512GBRp 30.249.000
1TBRp 34.999.000
2TBRp 43.999.000

iPhone 11 Pro hingga MacBook Air Intel Masuk Daftar Produk Vintage Apple

Di tengah dinamika harga produk baru, Apple juga memperbarui daftar produk lawas atau vintage mereka. Tiga produk populer, yaitu MacBook Air dengan chipset Intel, iPhone 11 Pro, dan Apple Watch Series 5, kini resmi masuk dalam kategori tersebut. Mureks mencatat bahwa status vintage diberikan ketika Apple telah menghentikan distribusi penjualan produk lebih dari lima tahun, namun belum melewati tujuh tahun.

Masuknya iPhone 11 Pro ke dalam daftar ini cukup mengejutkan, mengingat smartphone flagship tahun 2019 ini masih menerima pembaruan iOS 26. Namun, memang tidak semua fitur dapat digunakan pada model iPhone ini. Sementara itu, MacBook Air Retina 13 inci 2020 adalah laptop terakhir Apple yang menggunakan prosesor Intel sebelum beralih ke chipset buatan sendiri. Laptop ini dihentikan penjualannya pada akhir 2020, bertepatan dengan peluncuran MacBook Air M1, dan saat ini hanya mendukung hingga macOS Sequoia.

Adapun Apple Watch Series 5 terakhir kali menerima pembaruan watchOS 10. Seperti perangkat Apple lainnya, perusahaan masih terus menggulirkan pembaruan keamanan. Bagi pengguna di Indonesia, penetapan status vintage ini dapat menjadi sinyal untuk mulai mempertimbangkan peningkatan perangkat, terutama jika digunakan untuk aktivitas produktif jangka panjang.

Hacker Gunakan Sertifikat Resmi untuk Suntik Malware Baru ke Mac

Di sisi lain, anggapan bahwa Mac lebih aman dibandingkan PC Windows kini mulai diuji. Seiring meningkatnya jumlah pengguna Mac, penjahat siber semakin serius menargetkan perangkat ini. Menurut Mureks, laporan terbaru dari Jamf Threat Labs pada Jumat, 2 Januari 2026, mengungkap keberadaan virus baru yang sangat licik. Virus ini mampu menyamar sebagai aplikasi normal dan aman, sehingga sulit terdeteksi.

Bagian yang paling mengkhawatirkan adalah cara peretas menipu sistem keamanan Apple. Aplikasi yang diunduh dari luar sumber resmi biasanya memerlukan izin digital berupa sertifikat Developer ID. Namun, kini peretas memanfaatkan sertifikat asli yang diperoleh dari pasar gelap. Karena malware tersebut menggunakan ID Apple yang sah, sistem operasi menganggapnya sebagai aplikasi resmi. Akibatnya, perangkat lunak berbahaya ini dapat melewati peringatan keamanan standar yang biasanya mencegah aplikasi tidak terverifikasi dijalankan.

Trik Cerdik “Bait and Switch”

Para peretas juga menggunakan trik cerdik “bait and switch” untuk mengelabui sistem peninjauan otomatis Apple. Saat mengajukan aplikasi untuk disetujui, mereka mengirimkan versi “bersih” yang tidak mengandung aktivitas berbahaya. Aplikasi tersebut ditulis menggunakan Swift, bahasa pemrograman umum di Mac, sehingga terlihat aman.

Setelah terpasang di perangkat, aplikasi ini akan menunggu sebelum terhubung ke server jarak jauh untuk mengunduh malware utama. Dengan menyimpan kode berbahaya di cloud, ancaman ini sulit dideteksi oleh sistem pemindaian awal Apple.

Metode Infeksi Baru

Ancaman ini merupakan versi terbaru dari MacSync Stealer. Pada versi sebelumnya, malware ini mencoba menipu pengguna dengan meminta mereka menjalankan perintah rumit di komputer. Versi terbaru, metode penyebarannya dibuat jauh lebih tersembunyi. Malware disiapkan dalam penginstal perangkat lunak palsu yang tampil menyerupai aplikasi pesan populer. Saat aplikasi dibuka, kode berbahaya langsung berjalan di latar belakang tanpa pemberitahuan kepada pengguna. Pelaku juga menyertakan file “umpan”, seperti dokumen PDF palsu, agar ukuran aplikasi terlihat wajar dan terhindar dari deteksi sistem keamanan.

Menghindari Deteksi dan Respons Apple

Pembuat malware menggunakan sejumlah cara untuk menyamarkannya. Program tersebut dirancang hanya aktif saat perangkat terhubung ke internet dan dilengkapi pengatur waktu agar tidak berjalan terlalu sering. Langkah ini dilakukan untuk mencegah kinerja komputer melambat, yang bisa memicu kecurigaan pengguna. Meski sempat luput dari deteksi beberapa sistem keamanan, Jamf berhasil mengidentifikasi ancaman tersebut. Temuan itu kemudian dilaporkan ke Apple, yang langsung mencabut sertifikat terkait guna menghentikan penyebaran malware lebih lanjut.

Mureks