Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memicu ketegangan geopolitik setelah melancarkan serangkaian serangan militer ke Venezuela. Puncaknya, otoritas AS menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro atas berbagai tuduhan, termasuk penyelundupan narkoba, pada Senin, 05 Januari 2026.
Setelah penangkapan tersebut, Trump mengumumkan rencana pengambilalihan cadangan minyak Venezuela. Langkah ini akan diwujudkan melalui pengerahan perusahaan-perusahaan minyak AS untuk berinvestasi miliaran dolar di negara tersebut. Pertanyaan pun muncul: bagaimana dampak gejolak ini terhadap perekonomian Indonesia?
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Dampak Langsung Terbatas, Perdagangan Bilateral Minim
Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, memperkirakan bahwa insiden di Venezuela tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia secara langsung. Hal ini disebabkan oleh volume perdagangan bilateral antara Indonesia dan Venezuela yang sangat kecil, hanya sekitar 0,02% dari total ekspor Indonesia.
“Dengan porsi yang kecil, sebenarnya dampak secara langsung tidak akan signifikan terhadap kinerja ekonomi Indonesia. Dengan kata lain, Venezuela bukan mitra dagang dan investasi Indonesia,” ujar Nailul Huda kepada tim redaksi Mureks, Senin (5/1/2026).
Nailul Huda juga menambahkan bahwa potensi dampak konflik di Venezuela terhadap harga minyak global relatif minim, meskipun Venezuela memiliki cadangan minyak yang besar. Menurutnya, produksi minyak Venezuela selama beberapa dekade terakhir sangat rendah.
“Jadi dia tidak mempunyai pengaruh terhadap pergerakan minyak global. Tidak berpengaruh juga terhadap ICP ataupun subsidi migas kita ataupun ke APBN,” paparnya.
Krisis Geopolitik dan Sentimen Pasar Global
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, turut menyoroti bahwa gejolak di Venezuela belum sepenuhnya menjadi indikator penguatan krisis global. Ia menjelaskan, krisis geopolitik biasanya tercermin dari beralihnya minat investor ke dolar AS sebagai aset safe haven.
“Belum terlihat investor global panik karena kejadian di Venezuela,” kata Bhima.
Bhima melanjutkan, harga minyak mentah juga masih rendah dan belum menunjukkan kenaikan signifikan. Bahkan, harga minyak sempat terkoreksi 22% dalam satu tahun terakhir. Kenaikan harga, jika terjadi, diperkirakan tidak akan besar dan tidak akan menembus harga kewajaran setelah pelemahan panjang harga minyak dunia.
Durasi Ketidakpastian dan Risiko bagi Indonesia
Namun, peneliti ekonomi dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Randy Manilet, memiliki pandangan yang lebih hati-hati. Ia menilai dampak dari intervensi AS di Venezuela sangat ditentukan oleh durasi ketidakpastian yang ditimbulkan. Menurut Randy, memanasnya tensi di Venezuela berisiko menghidupkan kembali ketidakpastian global yang pada akhirnya dapat memengaruhi pergerakan perdagangan internasional Indonesia.
“Ini berisiko menghidupkan kembali ketidakpastian yanng sempat mereda seiring berbagai negosiasi geopolitik pada tahun sebelumnya, dan menjadi risiko tersendiri bagi perdagangan global Indonesia,” ujar Randy.
Dari sisi harga komoditas, jika ketegangan terus berlanjut dan ketidakpastian kembali menyelimuti ekonomi global, Randy menyebut dampaknya bersifat dua arah:
- Kenaikan harga komoditas tambang seperti batu bara, nikel, dan tembaga dapat terjadi, yang berpotensi menguntungkan pendapatan Indonesia melalui peningkatan nilai ekspor dan surplus neraca perdagangan.
- Namun, kenaikan harga komoditas energi, terutama minyak, justru menjadi risiko yang harus diwaspadai. “Ini dapat meningkatkan nilai impor dan menekan fiskal apabila harga minyak melampaui asumsi APBN 2026,” kata Randy.
Mureks mencatat bahwa dalam jangka pendek, eskalasi geopolitik juga berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah melalui kanal pasar keuangan. Peningkatan risk-off sentiment akan mendorong penguatan Dolar AS dan memicu arus keluar modal portofolio dari pasar keuangan domestik, baik di pasar Surat Berharga Negara (SBN) maupun saham.
“Tekanan ini dapat diperkuat oleh kenaikan premi risiko negara serta perubahan ekspektasi kebijakan moneter global apabila lonjakan harga energi memicu tekanan inflasi,” papar Randy.
Meskipun kinerja ekspor komoditas dapat menjadi penopang fundamental pendapatan dan ekonomi Indonesia, Randy menekankan bahwa dalam jangka pendek, dinamika sentimen pasar sering kali lebih dominan dibandingkan faktor fundamental tersebut.






