Keuangan

AS Lancarkan Serangan Skala Besar, Presiden Nicolas Maduro Ditangkap dan Diterbangkan Keluar Venezuela

Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan berskala besar di Venezuela pada Sabtu, 03 Januari 2026, yang berujung pada penangkapan dan pemindahan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi operasi tersebut, menyatakan bahwa Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara itu.

Dalam pernyataannya, Presiden Trump menegaskan bahwa operasi ini dilakukan bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS. “Amerika Serikat telah berhasil melaksanakan serangan berskala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara tersebut. Operasi ini dilakukan bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS,” kata Trump, seperti dilansir dari CNBC pada Sabtu (3/1/2026).

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Krisis Ekonomi Venezuela yang Memburuk

Peristiwa ini menambah daftar panjang permasalahan yang melanda Venezuela, sebuah negara di kawasan Amerika Selatan yang telah lama bergulat dengan kondisi ekonomi yang buruk. Bahkan, pada April 2025 lalu, Presiden Maduro sempat mengumumkan Venezuela dalam kondisi darurat ekonomi.

Mureks mencatat bahwa data dari Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Venezuela pada tahun 2025 hanya sebesar 0,5%. Angka Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar US$ 82,77 miliar menunjukkan penyusutan ukuran ekonomi yang signifikan dibandingkan era sebelum krisis.

PDB per kapita Venezuela pada tahun 2025 mencapai US$ 3.100, mencerminkan daya beli masyarakat yang masih rendah. Meskipun berdasarkan paritas daya beli, PDB per kapita naik menjadi US$ 8.790, hal ini menunjukkan selisih besar antara nilai tukar resmi dan daya beli riil di negara tersebut.

Total PDB berdasarkan paritas daya beli sebesar US$ 234,34 miliar, yang setara dengan hanya 0,11% dari total ekonomi dunia. Kontribusi yang kecil ini mengindikasikan mengecilnya bobot Venezuela dalam perekonomian global.

Inflasi di Venezuela masih berada pada level ekstrem, dengan rata-rata inflasi konsumen mencapai 269,9% pada tahun 2025. Bahkan, inflasi pada akhir periode diperkirakan akan menyentuh angka 548,6%, menunjukkan tekanan harga yang sangat berat bagi rumah tangga di Venezuela.

Populasi Venezuela diperkirakan mencapai 26,89 juta jiwa pada tahun 2026. Angka ini mencerminkan dampak migrasi besar-besaran yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir akibat krisis. Di sisi lain, tingkat pengangguran mencapai 35,6%, menandakan lemahnya penciptaan lapangan kerja formal.

Dari sisi neraca transaksi berjalan, Venezuela mencatat surplus sebesar US$ 3,52 miliar pada tahun 2025, atau sekitar 4,2% dari PDB. Namun, surplus ini lebih banyak ditopang oleh komoditas daripada ekspansi sektor produktif.

Kondisi fiskal pemerintah juga masih mencatat defisit dengan net lending/borrowing -3,6% terhadap PDB pada tahun 2024. Pada saat yang sama, utang pemerintah umum telah menembus 164,3% dari PDB, menempatkan Venezuela dalam kategori negara dengan beban utang yang sangat tinggi.

Mureks