BRISBANE – Petenis putri peringkat satu dunia, Aryna Sabalenka, menegaskan kembali keputusannya untuk melewatkan sejumlah turnamen pada musim 2026. Langkah ini diambil demi menjaga kondisi fisiknya, meskipun ia menyadari potensi sanksi dari WTA Tour.
Menurut Sabalenka, kalender kompetisi yang ia sebut “gila” telah terlalu membebani para pemain, memicu banyaknya cedera. “Musim kompetisi jelas sangat gila, dan itu tidak baik untuk kami semua. Anda bisa melihat begitu banyak pemain yang cedera,” ujar Sabalenka, juara Grand Slam empat kali itu.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id
Di bawah regulasi WTA, petenis papan atas diwajibkan tampil di empat turnamen Grand Slam, 10 ajang WTA 1000, serta enam turnamen WTA 500. Pelanggaran atas kewajiban ini dapat berujung pada pengurangan poin peringkat hingga denda finansial.
Mureks mencatat bahwa pada musim 2025, Sabalenka hanya berpartisipasi dalam tiga turnamen WTA 500, yaitu Brisbane, Stuttgart, dan Berlin. Akibatnya, ia menjadi salah satu dari sejumlah pemain peringkat atas, termasuk petenis nomor dua dunia Iga Swiatek, yang terkena pengurangan poin peringkat.
Ketika ditanya apakah ia akan mengubah rencananya untuk tahun 2026, petenis asal Belarus tersebut menegaskan tidak. Usai mengalahkan Sorana Cirstea di Brisbane International, Sabalenka mengakui aturan turnamen wajib memang rumit, namun ia menilai keselamatan tubuh tetap harus menjadi prioritas.
“Saya tetap akan melewatkan beberapa turnamen demi melindungi tubuh, karena musim lalu saya benar-benar kesulitan,” ungkapnya. Sabalenka mengungkapkan, meski hasilnya konsisten, ia kerap tampil dalam kondisi sakit atau kelelahan akibat jadwal yang terlalu padat.
“Musim ini kami akan mencoba mengelolanya sedikit lebih baik, meskipun pada akhirnya mereka mungkin akan mendenda saya,” tambahnya.
Kritik Keras Terhadap Kebijakan WTA
Sabalenka juga melontarkan kritik keras terhadap kebijakan WTA terkait turnamen wajib, khususnya WTA 1000. “Anda tidak bisa begitu saja melewatkan turnamen 1000. Ini sangat rumit, dan menurut saya apa yang mereka lakukan itu gila. Saya rasa mereka lebih mengikuti kepentingan mereka sendiri, bukan fokus melindungi kami sebagai pemain,” tegas Sabalenka.
Kritik terhadap kalender kompetisi berdurasi hampir 11 bulan ini tidak hanya datang dari sektor putri, tetapi juga dari tur putra. Sorotan kembali menguat menjelang akhir musim lalu, terutama selama rangkaian turnamen Asia, ketika jumlah pemain cedera meningkat tajam.
Pada September lalu, WTA menyatakan kepada Reuters bahwa kesejahteraan atlet merupakan prioritas utama. Federasi tersebut mengklaim telah mendengarkan masukan terkait kalender kompetisi, baik melalui dewan pemain maupun perwakilan di dewan WTA, guna memperbaiki struktur tur pada 2024 sekaligus meningkatkan kompensasi bagi atlet.






