Arab Saudi terus menggenjot ekspor minyak mentahnya ke kawasan Asia. Langkah ini dilakukan melalui strategi pemotongan harga untuk pelanggan Asia selama tiga bulan berturut-turut, di tengah sinyal pasar global yang menunjukkan adanya surplus pasokan. Riyadh memilih pendekatan harga yang agresif untuk menjaga daya saing produknya di tengah kondisi pasar yang kompleks.
Penurunan harga yang diterapkan oleh Saudi Aramco, perusahaan minyak milik negara terbesar di dunia, disinyalir menjadi pendorong utama peningkatan penerimaan alokasi minyak mentah oleh kilang-kilang di Asia Timur. Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan, di luar China, menjadi penerima manfaat utama dari kebijakan ini.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Menurut catatan Mureks dari para pedagang yang enggan disebutkan identitasnya kepada Bloomberg, kilang-kilang tersebut diperkirakan akan menerima setidaknya 9 juta barel lebih banyak dari alokasi normal untuk pengiriman bulan Februari. Angka ini sekitar 15% lebih tinggi dari rata-rata ekspor Saudi ke kawasan Asia Timur, yang tercatat sekitar 2,1 juta barel per hari selama sepuluh bulan pertama tahun sebelumnya, berdasarkan data dari perusahaan pelacakan kapal Kpler Ltd.
Strategi pemotongan harga ini dilakukan saat patokan global mencatat penurunan tahunan terburuk sejak 2020. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar tentang kelebihan pasokan minyak di seluruh dunia. Akibatnya, minyak Saudi menjadi lebih murah dibandingkan jenis minyak spot lain, termasuk yang berasal dari Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar, menjadikannya pilihan menarik bagi para pembeli di Asia.
Selain Asia Timur, kilang-kilang di India juga diproyeksikan menerima pasokan Saudi yang lebih besar. Mereka diperkirakan akan mendapatkan setidaknya 2 juta barel lebih banyak dibandingkan tingkat jangka panjang yang biasa diterima, setara dengan kira-kira 10% lebih tinggi dari rata-rata volume bulanan yang dikirim Aramco sepanjang tahun sebelumnya.
Sementara itu, China, sebagai importir minyak mentah terbesar dari Arab Saudi, tetap menjadi pelanggan utama. Meskipun demikian, pembelian untuk pengiriman bulan Februari sedikit menurun menjadi sekitar 48 juta barel, dibandingkan dengan sekitar 49 hingga 50 juta barel untuk pengiriman Januari.
Dinamika pasar minyak mentah Timur Tengah secara lebih luas juga menunjukkan tekanan. Banyak penjual minyak mentah spot mengalami penurunan permintaan dan tekanan harga. Selisih harga yang diperdagangkan telah runtuh, dan patokan Dubai tetap berada dalam kondisi contango ringan, mengindikasikan surplus pasokan dalam jangka pendek.
Kondisi global yang memicu Arab Saudi untuk memotong harga bukan tanpa alasan. Penurunan permintaan di beberapa negara besar dan kekhawatiran kelebihan pasokan menjadi faktor utama. Seiring dengan pertumbuhan output dari negara-negara lain dan dinamika ekonomi di Asia, harga minyak global sempat mencatat penurunan terbesar secara tahunan sejak pandemi Covid-19, mencerminkan lemahnya permintaan dan tekanan pasokan di pasar.
Volume ekspor yang tinggi dan harga yang kompetitif ini menjadikan minyak dari Arab Saudi pilihan menarik bagi kilang-kilang Asia. Mereka dapat mengamankan pasokan dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan minyak spot lain di pasar regional. Hal ini juga membantu menjaga hubungan antara eksportir dan importir dalam periode pasar yang berfluktuasi.
Strategi harga agresif oleh Saudi Aramco ini tidak hanya berdampak pada pola pembelian di Asia, tetapi juga pada kecenderungan pasar minyak global. Penurunan harga terus-menerus memberi sinyal persaingan yang meningkat antar eksportir, karena negara lain juga menurunkan harga untuk mempertahankan pangsa pasarnya di tengah kelebihan pasokan. Melalui kebijakan ini, Arab Saudi berhasil mempertahankan relevansi dan pangsa pasar di Asia, sekaligus mengatasi tantangan dari dinamika pasar minyak global yang tidak stabil.






