Apple kembali memperbarui daftar produk lawas atau vintage mereka, dengan memasukkan tiga perangkat populer: iPhone 11 Pro, MacBook Air berchipset Intel, dan Apple Watch Series 5. Keputusan ini menandai status produk yang telah dihentikan distribusinya lebih dari lima tahun, namun belum melewati tujuh tahun.
Masuknya iPhone 11 Pro ke dalam daftar ini cukup mengejutkan, mengingat ponsel pintar unggulan tahun 2019 tersebut masih menerima pembaruan iOS 26. Namun, tidak semua fitur terbaru dapat berfungsi optimal pada model ini. Sementara itu, MacBook Air Retina 13 inci keluaran 2020 merupakan laptop terakhir Apple yang menggunakan prosesor Intel, sebelum perusahaan beralih sepenuhnya ke chipset buatan sendiri. Laptop ini dihentikan penjualannya pada akhir 2020, bertepatan dengan peluncuran MacBook Air M1, dan saat ini hanya mendukung hingga macOS Sequoia.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Adapun Apple Watch Series 5 terakhir kali mendapatkan pembaruan watchOS 10, meskipun Apple tetap menggulirkan pembaruan keamanan secara berkala. Bagi pengguna di Indonesia, pembaruan status ini dapat menjadi sinyal untuk mulai mempertimbangkan peningkatan perangkat, terutama jika digunakan untuk aktivitas produktif jangka panjang.
Ancaman Malware Baru Mengintai Pengguna Mac
Di sisi lain, popularitas perangkat Mac yang kian meningkat turut menjadikannya sasaran empuk bagi penjahat siber. Anggapan bahwa Mac lebih aman dibandingkan PC Windows kini mulai terkikis seiring dengan semakin canggihnya serangan peretas.
Mureks mencatat bahwa laporan terbaru dari Jamf Threat Labs pada Jumat (2/1/2026) mengungkap keberadaan virus baru yang sangat licik. Malware ini mampu menyamar sebagai aplikasi normal dan aman, sehingga sulit terdeteksi oleh sistem keamanan standar Apple. Temuan ini menjadi peringatan serius bagi pengguna Mac.
Bagian yang paling mengkhawatirkan adalah cara peretas mengakali sistem keamanan Apple. Biasanya, aplikasi yang diunduh dari luar sumber resmi memerlukan izin digital berupa sertifikat Developer ID. Namun, kini peretas memanfaatkan sertifikat asli yang diperoleh dari pasar gelap. Karena malware tersebut menggunakan ID Apple yang sah, sistem operasi menganggapnya sebagai aplikasi resmi, sehingga dapat melewati peringatan keamanan yang seharusnya mencegah aplikasi tidak terverifikasi berjalan.
Trik Cerdik “Bait and Switch” dalam Penyebaran Malware
Para peretas juga menggunakan trik “Bait and Switch” yang cerdik untuk mengelabui sistem peninjauan otomatis Apple. Saat mengajukan aplikasi untuk disetujui, mereka mengirimkan versi “bersih” yang tidak mengandung aktivitas berbahaya. Aplikasi tersebut ditulis menggunakan Swift, bahasa pemrograman umum di Mac, sehingga terlihat aman.
Setelah terpasang di perangkat, aplikasi ini akan menunggu sebelum terhubung ke server jarak jauh untuk mengunduh malware utama. Dengan menyimpan kode berbahaya di cloud, ancaman ini sulit dideteksi oleh sistem pemindaian awal Apple. Metode infeksi baru ini merupakan versi terbaru dari MacSync Stealer.
Pada versi sebelumnya, MacSync Stealer mencoba menipu pengguna dengan meminta mereka menjalankan perintah rumit di komputer. Namun, versi terbaru ini dibuat jauh lebih tersembunyi. Malware disiapkan dalam penginstal perangkat lunak palsu yang menyerupai aplikasi pesan populer. Saat aplikasi dibuka, kode berbahaya langsung berjalan di latar belakang tanpa pemberitahuan kepada pengguna. Pelaku juga menyertakan file “umpan”, seperti dokumen PDF palsu, agar ukuran aplikasi terlihat wajar dan terhindar dari deteksi sistem keamanan.
Upaya Menghindari Deteksi dan Respons Apple
Pembuat malware menggunakan sejumlah cara untuk menyamarkannya. Program tersebut dirancang hanya aktif saat perangkat terhubung ke internet dan dilengkapi pengatur waktu agar tidak berjalan terlalu sering. Langkah ini dilakukan untuk mencegah kinerja komputer melambat, yang bisa memicu kecurigaan pengguna.
Meskipun sempat luput dari deteksi beberapa sistem keamanan, Jamf berhasil mengidentifikasi ancaman tersebut. Temuan itu kemudian dilaporkan ke Apple, yang langsung mencabut sertifikat terkait guna menghentikan penyebaran malware lebih lanjut pada Sabtu (3/1/2026).






