Mesin jet, yang selama puluhan tahun identik dengan dunia penerbangan, kini menemukan peran krusial di darat: menjadi tulang punggung pembangkit listrik untuk pusat data kecerdasan buatan (AI).
Lonjakan masif kebutuhan komputasi AI telah mendorong pengembang pusat data untuk beralih memanfaatkan turbin dari mesin pesawat dan generator diesel. Langkah ini diambil sebagai respons atas keterbatasan pasokan listrik dari jaringan setempat.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Di berbagai wilayah Amerika Serikat, antrean untuk menyambungkan pusat data ke jaringan listrik utama dilaporkan bisa mencapai hingga tujuh tahun. Kondisi ini, menurut pantauan Mureks, memaksa pengembang hyperscale mencari solusi cepat dan mandiri.
Alih-alih menunggu transmisi baru, mereka kini memilih untuk memasang pembangkit listrik langsung di lokasi pusat data, menggunakan turbin aeroderivative dan genset sebagai sumber daya sementara.
Permintaan Turbin Melonjak Drastis
Permintaan yang melonjak ini langsung terasa di kalangan pemasok. Produsen turbin, yang sebelumnya fokus melayani industri penerbangan, melaporkan peningkatan pesanan yang signifikan.
GE Vernova, misalnya, telah memasok turbin aeroderivative kepada Crusoe untuk proyek Stargate di Texas, sebuah fasilitas raksasa yang dikembangkan oleh OpenAI, Oracle, dan SoftBank. Turbin tersebut ditargetkan mampu menyuplai listrik hampir 1 gigawatt.
Manajemen GE Vernova mengungkapkan bahwa permintaan untuk turbin gas berukuran kecil dan menengah meningkat drastis sepanjang tahun 2025. Turbin jenis ini diposisikan sebagai pemasok sementara guna menjaga operasional pusat data AI tetap berjalan sembari menunggu akses listrik dari jaringan.
Pemain lain seperti ProEnergy juga mencatat penjualan lebih dari 1 gigawatt turbin gas berbasis mesin jet, termasuk yang menggunakan inti mesin Boeing 747. Bahkan, Boom Supersonic, sebuah startup penerbangan supersonik yang didukung oleh Sam Altman, turut menjual turbin yang hampir identik dengan mesin pesawatnya untuk menyuplai listrik pusat data. Penjualan energi ini membantu membiayai pengembangan pesawat mereka.
Selain turbin gas, generator diesel juga mengalami lonjakan permintaan. Cummins melaporkan telah menjual pembangkit dengan kapasitas total lebih dari 39 gigawatt ke sektor pusat data. Jika sebelumnya genset hanya digunakan sebagai cadangan, kini semakin banyak yang difungsikan sebagai sumber listrik utama.
Konsekuensi Biaya dan Lingkungan
Namun, solusi ini tidak datang tanpa konsekuensi. Pembangkit listrik kecil yang beroperasi di lokasi umumnya lebih mahal dan kurang efisien dibandingkan listrik utilitas atau energi terbarukan.
Analisis dari BNP Paribas menunjukkan bahwa biaya listrik dari pembangkit gas kecil dapat mencapai USD 175 per megawatt-hour, hampir dua kali lipat dari rata-rata biaya industri.
Dari aspek lingkungan, kekhawatiran juga meningkat. Penggunaan turbin gas dan diesel secara langsung berkontribusi pada peningkatan emisi karbon. Akibatnya, sejumlah negara bagian mulai melonggarkan aturan operasional genset demi memenuhi kebutuhan listrik pusat data yang mendesak.
Fenomena ini secara jelas menunjukkan satu hal: di tengah ledakan inovasi AI, pasokan listrik kini telah menjadi hambatan (bottleneck) baru yang krusial. Mesin jet, setidaknya untuk sementara, telah bertransformasi dari simbol kecepatan penerbangan menjadi tulang punggung infrastruktur AI global.






