Keuangan

Analis Bloomberg Peringatkan Bitcoin Berpotensi Anjlok ke USD 10.000 Setelah Puncak 2025

Analis senior Bloomberg, Mike McGlone, mengeluarkan prediksi mengejutkan terkait pergerakan harga Bitcoin di masa depan. McGlone memperingatkan bahwa aset kripto terbesar di dunia itu berpotensi mengalami penurunan tajam hingga menyentuh level USD 10.000 setelah mencapai puncaknya pada tahun 2025.

Dalam unggahan terbarunya di media sosial pada Senin, 29 Desember 2025, McGlone menilai level USD 50.000 bukanlah titik dasar (support) akhir bagi Bitcoin. Menurutnya, harga tersebut hanyalah persinggahan sementara sebelum koreksi yang lebih dalam terjadi.

Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!

Puncak Siklus dan Kembali ke Rata-rata Historis

McGlone secara eksplisit menyebut tahun 2025 sebagai puncak siklus bagi Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan. Setelah periode tersebut, ia memproyeksikan pasar akan memasuki fase koreksi besar yang disebutnya sebagai reversion to the mean atau kembali ke rata-rata historis.

“Bitcoin USD 50.000 pada 2026 dalam perjalanan menuju USD 10.000? Tahun 2025 kemungkinan menjadi puncak Bitcoin dan kripto,” tulis McGlone, dikutip dari Coinmarketcap.

Target koreksi ekstrem di kisaran USD 10.000 per Bitcoin ini, menurut McGlone, mencerminkan harga aset tersebut sebelum euforia spekulatif pasca-2020. Ia berpendapat bahwa lonjakan harga Bitcoin dalam beberapa tahun terakhir sebagian besar dipicu oleh kelebihan likuiditas global. Penurunan ke level tersebut dianggap sebagai bentuk “kembali ke kondisi normal”, mengindikasikan harga Bitcoin saat ini dinilai terlalu tinggi dibandingkan nilai fundamentalnya.

Perbandingan dengan Emas dan Isu Kelangkaan

McGlone juga membandingkan Bitcoin dengan emas, menyoroti perbedaan fundamental dalam kelangkaan. Menurutnya, emas memiliki kelangkaan alami, tidak hanya karena sulit ditambang, tetapi juga karena alternatif logam mulia sangat terbatas, yakni hanya perak, platinum, dan paladium.

Sebaliknya, McGlone menilai kelas aset kripto bersifat inflasioner. Meskipun Bitcoin adalah kripto pertama yang lahir pada 2009, kini terdapat jutaan aset digital lain yang terus bermunculan. McGlone berpendapat bahwa melimpahnya aset kripto justru mengencerkan aliran modal yang masuk ke pasar.

“Pasokan kripto yang berlebihan membuat nilai investasi terpecah,” menjadi inti pandangannya mengenai dampak banyaknya pilihan aset digital.

Perubahan Pandangan dari Optimistis Menjadi Pesimistis

Menariknya, McGlone bukanlah sosok yang sejak awal pesimistis terhadap Bitcoin. Selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai salah satu analis institusional paling vokal yang memprediksi Bitcoin bisa mencapai USD 100.000. Pada era stimulus besar-besaran bank sentral, McGlone sangat optimistis dan bahkan menjuluki Bitcoin sebagai “emas digital” yang sedang berkembang menjadi aset cadangan global.

Namun, pandangannya berubah drastis pada tahun 2025. Ia mulai menyoroti perbedaan kinerja antara emas dan Bitcoin. Saat harga emas mencetak rekor tertinggi baru, Bitcoin justru kesulitan mengikuti laju kenaikan tersebut.

McGlone meyakini ekonomi global sedang menuju resesi deflasi. Dalam kondisi seperti ini, uang tunai dianggap sebagai aset paling aman. Situasi tersebut menjadi dasar utama prediksi bearish ekstremnya terhadap Bitcoin, di mana tekanan ekonomi global bisa menjadi katalis penurunan besar berikutnya bagi pasar kripto.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual kripto.

Mureks