MANCHESTER – Pelatih Manchester United, Ruben Amorim, mengisyaratkan adanya ketegangan di balik layar terkait strategi transfer klub. Pernyataan Amorim ini memicu kekhawatiran akan terulangnya skenario konflik yang berujung pada perpisahan dini, seperti yang dialami Enzo Maresca di klub lain.
Memasuki bursa transfer Januari, aktivitas Manchester United masih terbilang minim. Sejauh ini, Setan Merah baru memulangkan Toby Collyer dari masa peminjaman di West Bromwich Albion. Menurut Mureks, target gelandang kelas atas seperti Carlos Baleba, Elliot Anderson, dan Adam Wharton dinilai sulit direalisasikan pada bursa musim dingin ini. Nama James Garner dan Conor Gallagher disebut sebagai opsi yang lebih realistis bagi klub.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Di lapangan, Amorim memiliki preferensi kuat terhadap skema 3-4-3, namun formasi ini hanya menyisakan dua slot gelandang inti. Ia sempat mengubah pendekatan menjadi 4-2-3-1 saat menghadapi Newcastle United pada Boxing Day, sebuah keputusan yang berbuah kemenangan tipis 1-0. Namun, pelatih asal Portugal itu kembali menggunakan formasi tiga bek saat ditahan imbang Wolverhampton Wanderers 1-1. Menjelang laga krusial melawan Leeds United di Elland Road, taktik yang akan diterapkan MU masih menjadi tanda tanya.
Amorim Akui Butuh Adaptasi
Dalam konferensi pers prapertandingan, Amorim secara terbuka mengakui bahwa sistem idealnya membutuhkan dukungan besar, baik dari sisi waktu maupun dana. “Saya merasa jika kami ingin memainkan 3-4-3 secara sempurna, kami membutuhkan banyak uang dan waktu. Saya mulai memahami bahwa itu tidak akan terjadi. Jadi, mungkin saya harus beradaptasi,” ujar Amorim, seperti dikutip tim redaksi Mureks.
Pernyataan tersebut semakin memancing spekulasi ketika Amorim ditanya mengenai hubungannya dengan direktur sepak bola Manchester United, Jason Wilcox, terutama terkait dugaan penolakan klub untuk mendatangkan pemain incarannya. Amorim memilih jawaban singkat namun penuh makna. “Saya tidak ingin membicarakan itu. Anda cukup pintar, jadi…,” katanya, mengakhiri pertanyaan tersebut.
Bayang-bayang Kasus Enzo Maresca
Komentar Amorim ini langsung mengingatkan publik pada kasus Enzo Maresca. Enam bulan lalu, sulit dibayangkan Maresca akan lebih dulu meninggalkan jabatannya sebelum Amorim berada di bawah tekanan di Old Trafford. Namun, kenyataannya, Maresca resmi berpisah dengan Chelsea pada Hari Tahun Baru, setelah sebelumnya menyiratkan minimnya dukungan dari manajemen.
Di Chelsea, perbedaan pandangan soal transfer disebut menjadi salah satu sumber utama ketegangan. Dewan klub menolak memberi Maresca kendali lebih besar atas kebijakan keluar-masuk pemain karena tetap berpegang pada model rekrutmen internal mereka. Situasi serupa kini mulai terlihat di Manchester United.
Di bawah rezim INEOS milik Sir Jim Ratcliffe, Manchester United telah menetapkan arah jelas: fokus pada pemain muda bertalenta dan pemain yang memasuki usia emas, alih-alih merekrut bintang mapan yang mendekati usia 30 tahun. Mureks mencatat bahwa kebijakan ini bertujuan untuk membangun tim jangka panjang yang berkelanjutan.
Komentar Amorim mengindikasikan adanya gesekan dengan hierarki klub. Jika kedua belah pihak tetap bertahan pada prinsip masing-masing, skenario “kasus Maresca” bukan hal yang mustahil terjadi di Old Trafford, berpotensi mengguncang stabilitas tim di tengah musim kompetisi yang krusial.






