Olahraga

Aksi Brutal Kembali Guncang Liga 4: Tendangan Kungfu di Yogyakarta Ingatkan Kasus Hilmi

Aksi kekerasan di lapangan hijau kembali mencoreng kompetisi Liga 4 2025/2026. Setelah insiden tendangan brutal di Jawa Timur pada Senin (5/1), kini giliran Yogyakarta menjadi saksi aksi serupa saat pertandingan antara UAD dan KAFI Jogja FC di Lapangan Sitimulyo pada Selasa (6/1).

Tendangan Kungfu di Lapangan Sitimulyo

Dalam laga yang berlangsung sengit tersebut, seorang pemain dari klub KAFI dengan nomor punggung dua melancarkan tendangan kungfu ke arah wajah pemain UAD bernomor punggung 24. Insiden ini terjadi pada menit ke-73, saat KAFI Jogja FC sedang memimpin pertandingan dengan skor 1-0.

Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id

Pemain UAD tersebut langsung tergeletak kesakitan di lapangan, sembari memegangi pipinya. Namun, wasit yang memimpin pertandingan hanya memberikan kartu kuning kepada pemain KAFI yang melakukan pelanggaran. Ironisnya, wasit kemudian menghampiri pemain UAD yang terkapar dan memintanya untuk segera bangun, tanpa menginstruksikan tim medis untuk memeriksa kondisi sang pemain.

Pertandingan pun dilanjutkan dengan cepat, dan pemain UAD bernomor punggung 24 tersebut dilaporkan bisa kembali melanjutkan permainan. Aksi brutal yang terekam kamera ini dengan cepat viral di media sosial pada Selasa (6/1), memicu kecaman luas dari publik dan pecinta sepak bola.

Mengingatkan Kasus Hilmi di Liga 4 Jatim

Insiden di Yogyakarta ini sontak mengingatkan kembali pada kejadian serupa yang baru saja terjadi di Liga 4 Jawa Timur. Pada Senin (5/1), dalam pertandingan antara Putra Jaya Pasuruan melawan Perseta Tulungagung, pemain Perseta Firman Nugraha menjadi korban tendangan kungfu brutal dari Muhammad Hilmi Gimnastiar, pemain PS Putra Jaya Pasuruan.

Dampak dari tendangan tersebut sangat serius. Firman Nugraha dilaporkan mengalami kejang, sesak napas, hingga retak pada tulang rusuknya. Komite Disiplin (Komdis) Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Timur merespons cepat dengan menjatuhkan sanksi tegas.

Mureks mencatat bahwa Komdis Asprov PSSI Jawa Timur secara resmi melarang Muhammad Hilmi Gimnastiar untuk beraktivitas di dunia sepak bola seumur hidup atas tindakan kekerasan yang dilakukannya. Sanksi ini menjadi preseden penting dalam upaya menjaga sportivitas dan keamanan di kompetisi sepak bola Indonesia.

Rentetan insiden kekerasan ini menyoroti urgensi penegakan aturan dan pengawasan yang lebih ketat di seluruh level kompetisi sepak bola, terutama di liga-liga amatir, untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.

Mureks